June 2018 - Afifah Haq
News Update
Loading...

Monday, 25 June 2018

Menyapa Sunrise di Puncak Gunung Prau, Dieng, Wonosobo


Jika kita berbicara soal Dieng, tentu akan banyak hal yang terbahas. Mulai dari pesona keindahan alam nya, hasil tani nya, makanan khas nya, adat dan budaya nya, dan yang paling saya sukai adalah keramahan penduduk asli nya. Nah, kali ini saya ingin berbagi pengalaman saat saya mendaki gunung Prau sebagai salah satu objek wisata di Dieng. Yaa siapa tau ada yang terinspirasi dan ingin ke sana.

Sebenarnya perjalanan menuju Dieng ini sudah lama sekali saya lakukan. Sekitar tahun 2016 lalu, saat saya bulan madu. Hanya saja saya baru mau menuliskannya sekarang. Tak apa lah yaa

Gunung Prau memiliki ketinggian 2565 MDPL (Meter Di atas Permukaan Laut). Bagi yang menyukai dunia pendakian, tentunya gunung ini tak lagi asing di telinga. Gunung Prau dikenal sebagai gunung yang ramah bagi pendaki pemula, karena waktu tempuh nya yang relatif singkat untuk mencapai puncak, jika dibandingkan dengan gunung-gunung lainnya. Dan yang menjadi daya pikat dari gunung ini adalah sunrise nya yang luar biasa indah dengan latar gunung Sindoro dan Sumbing yang gagah.
Saya sudah merencanakan untuk mendaki gunung ini sejak lama. Alhamdulillah, akhirnya kesempatan untuk mendaki gunung ini datang saat saya mengambil cuti bulan madu. Aneh ya, bulan madu kok naik gunung

Magelang - Wonosobo - Dieng
Perjalanan dimulai dari Magelang, karena sebelumnya kami baru saja selesai mendaki gunung Merbabu. Kebayang ga sih cape nyaa, sampai saat ini saya juga masih bingung kok mau-maunya bulan madu mendaki dua gunung sekaligus.. hahaha. Beruntungnya kami selama di sini, karena kami selalu bertemu dengan orang-orang yang baik hati, yang mau menunjukkan kami jalan dari Magelang menuju Wonosobo, bahkan mengantar kami sampai naik bus jurusan Wonosobo.

Matahari sudah tenggelam berganti dengan sinar redup rembulan. Saya lupa berapa lama perjalanan dari Magelang menuju Wonosobo, karena selama di bis saya tertidur. Badan rasanya sudah tidak mau kompromi untuk menahan kantuk. Singkat cerita, kami diturunkan di salah satu hotel di daerah Wonosobo. Supir yang baik hati menyuruh kami untuk menginap terlebih dahulu di hotel ini, mengingat malam sudah larut dan sudah tidak ada kendaraan lagi menuju Dieng.

Malam itu kami beristirahat di hotel, saya lupa nama hotel nya, yang saya ingat kami diberi kamar dengan kasur tipe twin bed. Wagelaseeh bulan madu dikasih twin bed 😂. Letak hotel ini tak jauh dari pasar. Esok pagi nya kami berjalan-jalan dulu menikmati alun-alun kota Wonosobo. Sekitar pukul 11 siang kami checkout dari hotel dan bergegas menuju Dieng.
 
Mampir ke salah satu pasar di Wonosobo
Dari hotel, kami berjalan sekitar 200 meter menuju suatu perempatan yang katanya dilalui angkutan menuju Dieng. Alhamdulillah, kurang dari 10 menit kami menunggu, akhirnya kami dapat juga bus menuju Dieng.

Dieng - Desa Pathak Banteng
Bus yang kami tumpangi tidak begitu besar, mungkin seukuran mobil elf. Perjalanan menuju desa Pathak Banteng, Dieng, kurang lebih 1 jam. Sesampainya di desa Pathak Banteng, kami disambut hujan deras.

Bus berhenti tepat di sebuah warung bakso. Kami berdua lalu mampir untuk mengisi perut. Lagi-lagi kami bertemu dengan orang baik, pemilik warung ini sangat ramah dan mengajak kami berbincang. Setelah tahu kami dari Bandung, si pemilik warung dengan semangatnya bercerita segala hal tentang Dieng, tentang tempat wisata nya dan budaya nya. Bahkan beliau menawarkan pinjaman sepeda motor miliknya kepada kami Tapi kami menolak dengan halus (padahal mah pengen, hahaha, itumah basa basi aja). Kemudian beliau menawarkan lagi untuk menginap di tempat saudara nya. Kebetulan, saudara nya ini menyediakan tempat menginap khusus traveler, bayar nya juga se-ikhlas nya saja.

Tempatnya memang alakadar nya, tapi cukup nyaman untuk kami beristirahat. Tak ingin berlama-lama, kami segera membawa perlengkapan dan menempati salah satu kamar di tempat penginapan ini.

Perbincangan Hangat
Dieng memang dingiinn. Dinginnya sampai menembus kasur dan selimut di dalam kamar. Padahal rumah tempat saya tinggal di Cimahi sudah dingin, tapi aku tak kuat menahan dingin di sini yang menyerupai suhu di kulkas. Ku tak sanggup membayangkan jika harus mandi air dingin di sini.

Pak Mulyono, pemilik penginapan ini kemudian mengajak kami berbincang-bincang. Dinginnya Dieng jadi tak terasa. Ditambah lagi kami ditemani hangatnya arang yang dibakar di dalam anglo. Beliau bercerita banyak hal tentang sejarah Dieng. Beliau juga mengejak kami untuk mencicipi kentang goreng khas Dieng di kediaman orangtua nya. 



Petualangan Dimulai
Rencana kami untuk berkemah di puncak Prau tidak bisa terlaksana karena ternyata pada saat itu, gunung Prau sedang ditutup untuk umum. Namun, petugas Taman Nasional Gunung Prau masih berbaik hati, beliau mengizinkan kami untuk mendaki tektok (bulak-balik, tidak berkemah), tapi kami tidak mendapatkan asuransi jika terjadi apa-apa. Pikir kami, tak apa lah, mudah-mudahan kami selamat sampai pulang dari sini.

Kami bertiga, saya, suami, ditemani pak Mulyono sebagai guide, mulai mendaki pukul 4 subuh. Jam segini memang sedang puncak-puncak nya dingin. Badan harus terus bergerak agar kami tidak terkena hypotermia. 10 menit pertama, jalanan masih bersahabat dan landai. Begitu memasuki daerah perkebunan warga, kami langsung disuguhi jalanan menanjak lumayan curam.

Langkah kami terhitung cepat karena kami tidak dibebani ransel berat. 30 menit kemudian kami sudah tiba di Pos I. Saya harus terus bergerak agar tak kedinginan. Saya tidak boleh istirahat dan duduk terlalu lama. Kami harus melalui 4 Pos untuk sampai ke puncak. Jalan semakin lama semakin menanjak. Tapi Alhamdulillah, Allah masih memberikan saya fisik yang kuat.

Untunglah saat itu sedang musim hujan. Sebab, jika sedang musim kemarau cuaca akan terasa lebih dingin lagi, bahkan kita akan menjumpai kristal es. Selain itu, mendaki pada musim kemarau akan menyebabkan jalur pendakian gersang, berpasir, dan sangat berdebu.
Sunrise di Gunung Prau dengan latar gunung Sindoro dan Sumbing
Akhirnya kami mencapai puncak setelah 2 jam berjuang melewati jalur yang cukup curam.  Subhanallah.. sungguh saya tidak dapat berkata-kata begitu melihat pemandangan di puncak. Jadi inilah mengapa sunrise di gunung Prau menjadi salah satu sunrise terbaik di ASIA. Gambar yang ditangkap kamera rasanya tidak lebih indah jika dibandingkan dengan apa yang dilihat dengan mata kepala sendiri.

Kekaguman ini kemudian kami abadikan melalui kamera. Setelah puas berfoto ria, kami menggelar matras lalu menyiapkan sarapan dan makan bersama. Sekitar pukul 9, kami turun meninggalkan puncak Prau.


Kesimpulan dan Estimasi Perjalanan
Gunung Prau bisa menjadi salah satu objek wisata yang wajib didatangi saat mengunjungi Dieng. Hal yang menarik dari tempat ini selain sunrise nya yaitu hamparan padang sabana hijau yang ditumbuhi bunga-bunga berwarna putih kuning, serta undakan-undakan bukit yang sering disebut Bukit Teletubbies. Sebenarnya, ada dua jalur resmi menuju puncak Prau. Yaitu melalui desa Pathak Banteng, atau melalui jalur Dieng. Perjalanan melalui jalur Pathak Banteng relatif lebih singkat (sekitar 2 jam) namun medannya cukup curam. Sedangkan jalur Dieng, perjalanan jauh lebih lama namun medannya lebih landai, sekitar 4 jam. 
Bukit Teletubbies di jalur gunung Prau via Dieng
Berikut saya rangkum itinerary menuju gunung Prau jika berangkat dari Cimahi (karena saya orang Cimahi hehe) :
  • Cimahi - Wonosobo, menggunakan bus BUDIMAN; 10 jam, Rp 105.000,-
  • Terminal Wonosobo - Dieng, menggunakan angkot + bus kecil menuju Dieng; 1 jam, Rp 15.000,- (perkiraan)
  • Simaksi Rp 3.000,-
  • Base camp Pathak Banteng - Puncak Prau; 2 jam
  • Puncak Prau - Base camp Dieng; 4 jam

Sekian

Friday, 22 June 2018

Berendam di Kolam Air Panas Sumur, Sukawening Garut, Jawa Barat

Garut dikenal sebagai kota yang memiliki aneka macam tempat wisata alam. Mulai dari wisata pegunungan, wisata situ atau danau, air terjun, bahkan pantai. Tak heran jika Garut memiliki julukan Swiss van Java.

Kabupaten Garut merupakan kota yang dilalui jalur gunung berapi. Sehingga, Garut juga memiliki tempat wisata air panas alami yang selalu dijadikan tempat berendam, karena diyakini memiliki khasiat tertentu untuk tubuh.  Mungkin kita hanya mengenal daerah Cipanas saja. Tapi tahukah anda bahwa Garut juga punya kolam air panas alami lainnya yang belum diketahui banyak orang?

Terletak di jalan Sukasono, kecamatan Sukawening, kabupaten Garut. Sumber air panas disini sebetulnya sudah lama ada dan sering dimanfaatkan oleh warga sekitar. Sumber air panas ini kemudian dibangun sebagai tempat wisata beberapa bulan terakhir ini. Entah dari mana sumber air panas ini berasal, karena lokasi ini cukup jauh dari gunung berapi ataupun kawah. Tapi begitulah kuasa Illahi, segalanya bisa terjadi.

Fasilitas

Terdapat 2 kolam air hangat, satu untuk dewasa dan satu untuk anak-anak. Kolam dewasa memiliki kedalaman 120cm hingga 140cm. Kolam anak memiliki 2 kedalaman, satu memiliki kedalaman 30cm, satu lagi sekitar 75cm. Keduanya (kolam anak) dipisah oleh sekat dari tembok, tapi masih satu kesatuan.

Kolam air hangat bersebelahan langsung dengan situ/danau. Saya masih belum tahu apakah ini danau buatan atau memang alami terbentuk. Keberadaan danau ini menjadi nilai plus karena sambil berendam kita bisa menikmati pemandangan danau, serta hamparan sawah di sekelilingnya. Alternatif lain jika tidak ingin berendam adalah berkeliling di danau dengan menaiki perahu angsa. Namun sayangnya, perahu angsa yang tersedia hanya ada dua.

Suhu air disini memang tidak se-panas air di Cipanas Garut. Untuk yang ingin berendam namun tidak suka air yang terlalu panas, tempat ini akan sangat cocok dikunjungi. Oh ya, saya mencoba semua kolam disini, dan menurut saya suhu yang paling hangat justru ada di kolam anak-anak, di kolam dewasa malah cenderung dingin.. yaa ga dingin-dingin amat sih, suam-suam kuku lah.

Fasilitas publik lain seperti kamar basuh, tempat duduk, tampat makan di dalam, dan tempat parkir, tebilang masih minim. Kamar basuh wanita dan pria masing-masing hanya ada 2, tempat duduk pun hanya beberapa. Sangat disarankan untuk membawa tikar sendiri ke sini jika ingin datang rombongan bersama keluarga. Dan, demi kemanan baiknya renangnya bergantian ya, sebagian berenang, sebagian menjaga barang bawaan, mengingat disini belum ada loker atau tempat penyimpanan khusus untuk barang. Saya maklum sih, karena tempat ini memang baru dibangun.

Tiket Masuk

Kebetulan kami datang pada saat libur lebaran, sehingga harga tiket masuk yang ditawarkan cukup mahal (jika dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya). Harga tiket untuk dewasa Rp 20.000,- sedangkan anak-anak Rp 10.000,-, padahal sebelumnya hanya Rp 10.000,- untuk dewasa dan Rp 6.000,- untuk anak-anak. Karena saya datang ke sini rombongan, (sekitar 15 orang) saya rayu petugas nya untuk kasih diskon dan berhasil.. hihi. Tips: nawarnya harus pake bahasa Sunda yah 😁 hihihi. Sedangkan tiket untuk berkeliling danau dengan menaiki perahu angsa sebesar Rp 20.000,- per orang.

Rute Menuju Kolam Air Panas Sumur

Mudah sekali untuk menuju ke sini. Arahkan kendaraan menuju Nagreg lalu ambil jalan ke arah Garut dari jalan Cagak Nagreg. Setelah itu, arahkan kendaraan menuju Cibatu. Setelah tiba di Cibatu, belok ke Jl. Sukasono. Nah, jika sudah sampai disini, tinggal lurus dan belok kiri ketika menemukan pertigaan.

Kesimpulan

Jika ada yang bertanya apakah tempat ini kids friendly? Saya akan jawab: Ya! sangat kids friendly, mengingat sebagian besar anak-anak sangat menyukai aktivitas di air. Airnya juga hangat, tidak se-panas air di Cipanas, jadi saya tidak khawatir kulit anak jadi merah karena air yang terlalu panas.

Apakah lain kali akan kembali ke sini? Hmm.. mungkin, karena kebetulan saya juga punya saudara yang tinggalnya dekat dengan kolam ini. Dan, jika suatu hari tempat ini diperbarui serta dilengkapi fasilitas nya, saya akan datang lagi dan akan memperbarui tulisan ini. Sepertinya saya juga akan datang ke sini saat weekday karena jika musim liburan saya yakin tempat ini akan sangat penuh.

penuh kan?
Hal lain yang saya harapkan adalah disediakannya fasilitas penginapan. Karena, peminat air panas rata-rata datang dari luar kota seperti Bandung, Jakarta, Depok, Bekasi, dan lain-lain. Akan sangat melelahkan jika orang yang datang dari luar kota tidak menginap terlebih dahulu di sini.


Saya sangat berharap dengan banyaknya tempat wisata pada umumnya di Indonesia, akan menjadi daya tarik Indonesia baik itu bagi wisatawan lokal, terlebih bagi wisatawan asing. Terakhir, saya juga sangat berharap semua turis (baik lokal atau asing) yang datang ke tempat wisata mampu menjaga dirinya untuk tidak mengotori lingkungan objek wisata. Indonesia adalah milik kita, dan kita sendiri yang harus menjaganya.

Betul?

Monday, 4 June 2018

Jangan Sembarangan Share Nomor Ponsel Pribadi


Foto www.pixabay.com
Sudah seringkali saya menerima pesan-pesan singkat alias sms yang ga jelas. Ga jelas dalam artian dari segi isi sms maupun pengirimnya. Entah itu mama minta pulsa, papa ditilang di kantor polisi, sms dapat hadiah sekian juta dari perusahaan A, perusahaan B, bahkan sampai sms-sms yang isinya menawarkan judi online. Semua sms-sms ga jelas itu biasanya tidak pernah saya balas dan langsung saya hapus. Menuh-menuhin memori hp aja.

Tapi beberapa hari ini saya dapat sms ga jelas lagi yang menurut saya ini serius. Serius karena  isi dari sms itu adalah penagihan hutang!

Awalnya seperti biasa saya biarkan, saya takut ini penipuan. Tapi esoknya saya dapat sms lagi dan lagi. Begini isi pesannya:

"Nama: Cecep muhammad solihin. Jumlah yang harus dilunasi: Rp 859760.00. Rekening transfer: (BNI)8808101112794773, (BRI)2621510118730309, (MANDIRI)8860810115683416. [DanaRupiah]"

Karena saya tidak merasa kenal ataupun punya teman atau saudara dengan nama cecep muhamad solihin, ya saya biarkan saja pesannya. Tapi kemudian saya dihubungi lagi besoknya via pesan di whatsapp, begini isinya:


Mendapatkan pesan whatsapp seperti ini, saya jadi ingin tahu, apa itu Dana Rupiah. Setelah saya cari tahu, ternyata memang ada aplikasi online yang bisa meminjamkan uang secara instan dan cepat. Dana Rupiah ternyata memang salah satu KTA online yang memungkinkan orang untuk meminjam uang tanpa harus ke Bank. Singkatnya sih, kita tnggal duduk manis dengan handphone di tangan, isi data-data yang diperlukan, setelah proses verifikasi dana akan langsung cair. Nah, disini saya juga menemukan bahwa pihak Dana Rupiah akan memberi peringatan berupa sms saat tanggal jatuh tempo tiba.

Lagi-lagi karena saya merasa tidak pernah menggunakan aplikasi Dana Rupiah, apalagi meminjam uang, serta, saya juga tidak kenal dengan orang bernama Cecep Muhammad Solihin, jadi saya balas saja sejujurnya di pesan whatsapp.


Kemudian, pihak (yang mengaku) dari Dana Rupiah membalas bahwa nomor saya tertera di data Cecep Muhammad Solihin. Wah, gawat juga ini, bisaj saja nomor handphone saya dipakai dan disalahgunakan untuk keperluan seperti ini. Saya kemudian mempertegas bahwa saya memang benar-benar tidak mengenal orang yang bersangkutan dan bersedia membuktikannya.

Dan.. di pesan whatsapp yang terakhir, saya agak sedikit nge-gas sih.. hehehe, takutnya ini penipuan karena foto profilnya saja pake foto Gita Savitri Devi. Setelah saya kirim pesan whatsapp yang agak-agak nge-gas itu, nomor saya lalu diblokir..

Setelah nomor saya diblokir, saya kira masalah sudah selesai. Eh ternyata hari ini saya dihubungi lagi via telepon. Saya jawab dengan nada pasrah.. Saya benar-benar ga kenal.. Kalau ga percaya ke rumah aja dehh.. buu.. sini..  nanti saya suguhin indomie rebus pake telor dan cengek. Aseli deh saya ga kenal..

Banyak kemungkinan, tapi kesimpulan dari kasus ini menurut saya ada dua:
  1. Bisa jadi ini usaha penipuan, atau
  2. Orang yang bernama Cecep Muhammad Solihin menggunakan dan menyalahgunakan nomor saya untuk kepentingan pribadinya.
Jika ternyata yang terjadi adalah nomor 2, maka dari sini saya harus berhati-hati saat menuliskan nomor ponsel pribadi. Bisa saja, bapak Cecep ini dapat nomor saya dari formulir tertentu, seperti misalnya formulir survey, bon atau nota saat belanja di suatu toko, database saat isi pulsa di konter pulsa, atau mungkin yang lainnya yang saya tidak tahu.

Saya kemudian mulai keluar dari grup-grup whatsapp yang isinya ga penting-penting amat. Saya juga mulai berhenti untuk mengisi pulsa di konter hp, lebih baik saya isi pulsa di atm saja. Dan, untuk berbagai formulir-formulir yang dimana saya harus mencantumkan nomor yang bisa dihubungi, saya lebih memilih untuk menuliskan nomor kantor saja daripada nomor ponsel pribadi.

Sedikit overprotected pada diri ya, tapi demi kenyamanan saya, saya harus melakukan hal itu. Saya takut kejadian yang sama terulang, dan nauzubillah kalau sampai berdampak yang lebih lagi.

Pesan saya terakhir, kepada bapak Cecep Muhammad Solihin.. silahkan untuk membayar kewajibannya ya :)


Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done