Afifah Haq
News Update
Loading...

Travel

[Travel][recentbylabel]

Parenting

[Parenting][recentbylabel]

Featured

[Featured][recentbylabel]

Thursday, 14 November 2019

Pengalaman Pertama Camping Bareng Bocah 2,5 Tahun Part 1


Setelah sekian lama akhirnya saya ada waktu juga untuk nulis cerita ini. Maaf yaa beberapa waktu yang lalu emang lagi sibuk-sibuknya sama kerjaan offline dan juga online ((ceileh sok sibuk)). Bagi yang sudah follow instagramku pasti sudah tahu dong saya pergi camping kemana. Yap! Gunung Papandayan! Hehe. Bagi yang belum follow, follow dulu atuh yuuk, instagramku @afifahhaq.

Sebetulnya banyak banget temen yang protes, "Papandayan mulu sih Fah". Sepertinya mereka sudah bosan lihat foto dan ceritaku di Papandayan, tapi buat saya mah, Papandayan ga ngebosenin. Hahaha. Terlebih, ini pertama kalinya saya camping membawa anak usia 2.5 tahun. Jadi menurut saya, gunung Papandayan adalah gunung yang paling cocok untuk dijadikan lokasi berkemah bersama anak.

Oh iya, di sini saya ga akan kasih tips soal camping bawa anak kecil ya. Kenapa? karena tips-tips seperti ini sudah banyak dibagikan oleh orang-orang yang sudah lebih jago dari saya soal pendakian. Terlebih lagi, tidak semua tips bisa diaplikasikan, karena tiap anak itu unik dan berbeda. Tips yang terbaik adalah tips yang datang dari naluri ibunya sendiri. Beneran deh.

Baca Juga: 7 Tempat Camping Ramah Anak di Bandung

Drama Keberangkatan

Apaan ini baru juga mulai udah ada tulisan drama nya. Hahaha. Tenang, drama nya bukan datang dari si kecil kok, tapi justru dari kami berdua sebagai orangtuanya. Semalam sebelum keberangkatan, kami berdua malah sibuk dengan pekerjaan kantor yang harus segera diselesaikan agar liburan kami tenang.

Namun ternyata pekerjaan kami masih belum selesai meski sudah begadang sampai jam 1 malam. Akhirnya kami melanjutkan kembali esok pagi nya. Itinerary yang sudah saya susun jadi berantakan. Harusnya kami berangkat pukul 6 pagi, tapi kenyataannya kami baru benar-benar siap dan berangkat pukul 11 siang. Tapi tak apa lah.
Kulkas.. eh keril nya sudah siap, orangnya belum siap
Cimahi - Garut

Gunung Papandayan terletak di daerah Cisurupan, kabupaten Garut. Kami memutuskan untuk berangkat dari Cimahi menggunakan angkutan umum. Ini rincian angkutan umum yang kami gunakan:
  • Cimahi - Terminal Leuwipanjang menggunakan GrabCar, 30 menit, Rp 60.000,-
  • Terminal Leuwipanjang - Cisurupan menggunakan Elf, 4 jam, Rp 35.000,-
  • Cisurupan - Basecamp Papandayan menggunakan Ojek, 15 menit, Rp 50.000,-
Alhamdulillah selama perjalanan Fatih anteng. Hal yang paling saya khawatirkan itu saat di dalam mobil elf, takut dia rewel. Tapi ternyata Fatih malah tidur sepanjang perjalanan.

Tidak Serta Merta

Sejak awal keberangkatan saya sudah sounding ke anak saya, Fatih.

"Fatih, kita mau ke gunung, nanti Fatih jalan ya, kalau capek, duduk aja trus minum, ya?"
Anak saya mengangguk lalu menjawab "ndak main pasil (pasir)?"
"Iya, jangan main pasir terus ya, nanti tambah capek Fatih nya"

Anyway, sebelumnya Fatih sudah beberapa kali saya ajak ke gunung. Pertama kali ketika usianya 5 bulan. Lokasinya ke gunung Manglayang. Lalu saat usianya 1 tahun Fatih juga pernah kami bawa ke gunung Papandayan. Saat itu jelas saya gendong.
Batu Kuda 2017
Gunung Papandayan 2018
Baca Juga: Hiking ke Papandayan Bersama si Kecil

Nah, dua minggu sebelum pergi ke Papandayan (lagi) saya ajak dulu ke tempat wisata Batu Kuda, gunung Manglayang. Saya ingin pemanasan dulu, agar Fatih tidak kaget ketika mendaki gunung Papandayan nanti. Alhamdulillah di sana Fatih sudah mau diajak jalan dan mendaki.

Pemanasan sebelum mendaki ke gunung Papandayan
 Cisurupan - Basecamp Papandayan

Sekitar pukul 3 sore kami tiba di daerah Cisurupan. Sebelum melanjutkan perjalanan ke basecamp, kami mampir dulu ke sebuah minimarket untuk membeli beberapa perbekalan. Oh ya, di sini Fatih sempet cemberut karena ingin dibelikan mainan mobil-mobilan. Tapi akhrinya dia bisa dirayu, saya lupa dulu dirayu pake apa ya.

Setelah semua dirasa lengkap, kami melanjutkan perjalanan menggunakan ojek ke basecamp Papandayan. Tarifnya Rp 50.000,-, lumayan mahal karena tahun lalu hanya Rp 25.000,- saja. Jadi saran saya lain kali lebih baik bawa kendaraan pribadi saja ke sini. Kondisi jalannya juga sudah sangat bagus kok. Hanya tanjakannya lumayan curam.

Tiba di basecamp, kami segera melakukan pendaftaran untuk memperoleh tiket masuk. Kami membayar total Rp 65.000,- per orang untuk tiket masuk dan izin berkemah satu malam. Untuk ukuran tiket masuk gunung, harga segini terbilang mahal.

Maaf numpang bulet-buletin upil dulu sambil nunggu tiket masuk
Basecamp Papandayan - Kawah Gunung Papandayan

Selesai urusan perizinan, kami menuju mushola terlebih dahulu. Menjamak shalat zhuhur dan ashar, kemudian mengisi perut dengan bekal yang kami bawa. Setelah dirasa siap, kami memulai pendakian sekitar pukul 4 sore.

Dari basecamp hingga ke kawah kondisi jalannya cukup nyaman. Sudah dibuat tangga dari batu. Bahkan ada jalur khusus loh untuk motor. Alhamdulillah Fatih mau kami ajak jalan. Setiap kali Fatih mengeluh capek, saya suruh untuk duduk dan minum. Kadang dia minta gendong juga sih. Saya gendong sebentar (tidak sambil jalan) lalu saya bujuk untuk jalan kembali.

Tangga yang dibuat dari batu untuk kenyamanan pengunjung
Ketik "Loncat!" lalu lihat apa yang akan terjadi
Normalnya, perjalanan dari basecamp menuju ujung kawah Papandayan adalah sekitar 2-3 jam. Tapi karena kami membawa anak kecil, perjalanan jadi lebih lambat. Tapi tak mengapa karena kami sangat menikmatinya. Terlebih, setiap kali bertemu pendaki lain, kami selalu disapa dan mereka memberikan semangat untuk Fatih. Oh ya lupa, di pendakian kali ini jumlah tim ada 4 orang. Saya, suami, Fatih, dan adik ipar saya.

Perlahan langit mulai gelap. Pukul 6 sore kami masih mendaki. Kami segera menyalakan headlamp. Ternyata headlamp yang kami pakai malah menarik perhatian Fatih. Dia juga ingin menggunakan headlamp. Ya sudah, saya berikan headlamp milik saya. Alih-alih dipakai, Fatih malah memainkan headlamp, memencet tombol headlamp berulang-ulang. Ya sudah lah, tak apa yang penting dia ga rewel dan mau jalan. Toh, jalannya masih terlihat karena masih ada cahaya dari headlamp milik suami dan adik ipar.

Kawah Papandayan - Pondok Saladah

Alhamdulillah sekitar pukul 7 malam kami tiba juga di ujung kawah gunung Papandayan. Menariknya, di sini sudah ada warung. Kami beristirahat kembali. Membeli susu hangat dan jajanan untuk Fatih. Di sini Fatih tiba-tiba ingin pup, beruntung sudah ada toilet dengan kondisi air yang melimpah di sini. Toilet beneran loh, bukan toilet ala-ala yang hanya ditutup bilik bambu dan di bawahnya ada kolam ikan.

Sekitar pukul 8 malam, kami kembali melanjutkan perjalanan. Masih butuh waktu pendakian 2 jam lagi untuk sampai ke Pondok Saladah, salah satu lokasi yang bisa dijadikan tempat berkemah. Kami mulai memasuki hutan yang cukup rapat dan semakin gelap. Beruntung, malam itu langit sedang cerah dan bulan sedang bercahaya. Sehingga kami masih bisa melihat pemandangan meski dalam keadaan gelap.

Maaf fotonya ngeblur, maklum model nya gamau diem, mainin headlamp terus
 Selama perjalanan menuju Pondok Saladah, kami berjumpa dengan beberapa pendaki. Banyak dari mereka yang menawarkan bantuan untuk membawakan tas carrier saya. Bukannya sombong tak ingin dibantu, tapi karena di carrier yang saya dan suami bawa ada banyak kebutuhan milik Fatih. Kalau dibawa oleh orang lain, saya khawatir nanti Fatih tiba-tiba perlu sesuatu yang ada di carrier milik kami. Terimakasih ya Akang-Akang semua sudah berbaik hati menawarkan bantuan.

Fatih Takut Hantu

Belum juga setengah perjalanan, Fatih tiba-tiba bilang, "Fatih sieun julig.." (Fatih takut hantu) "..tuh itu tuh julig nya, di situ, di situ.." tambahnya sambil menunjuk ke semak-semak. Otomatis saya merinding, tapi saya berusaha untuk tegar.

Saya rangkul Fatih.

"Fatih, di sini ga ada jurig. Di sini cuma ada ayah, ada mamah, sama bi Neng. Fatih ikutin mamah ya, baca surat An-Nas. Fatih bisa kan baca surat An-Nas?"

Fatih mengangguk. Saya peluk sambil membimbing Fatih membaca surat An-Nas. Alhamdulillah perlahan dia mulai tenang. Kami kembali melanjutkan pendakian. Sambil berjalan, saya terus melafalkan ayat kursi di dalam hati.

...

Bersambung ke Part 2, biar ga cape bacanya, hehe.

Sunday, 10 November 2019

Menolak Tua dengan Beetox Technology dari Safi


Tak terasa usiaku kini sudah mendekati 27. Sudah jadi ibu dan baru memiliki 1 anak. Perasaan baruu aja kemarin sibuk ngerjain Tugas Akhir dengan segala dramanya. Memang benar apa kata teori relativitas Einsten. Waktu itu relatif, dulu waktu kuliah waktu terasa lama dan masih jauh untuk lulus. Sekarang kok ya rasanya sebentar, tak terasa sudah mau mendekati usia 30.

Waktu yang terus berjalan dan tak terasa ini membuat saya merasa masih berusia di bawah 20 aja. Padahal perubahan fisik terutama wajah sudah mulai terlihat tak lagi muda. Karenanya saya sering sakit hati kalau dipanggil "ibu". Padahal memang sudah jadi ibu-ibu. Hahaha. Jiwaku seakan menolak. Sebaliknya, saya paling senang kalau dipanggil "teteh" atau "mbak". Seolah-seolah itu adalah pujian yang memiliki arti ,"kamu awet muda". Hahaha. *Langsung ditampiling.

Tapi ternyata saya tidak sendiri. Survey yang dilakukan pada sejumlah wanita di Inggris menyatakan bahwa, 1 dari lima wanita lebih memilih tampak terlihat gemuk daripada terlihat tua. Jadi, penelitian ini membuktikan bahwa banyak wanita yang khawatir ketika dirinya terlihat lebih tua.

Image by Claudio_Scott from Pixabay

Bicara soal tanda-tanda penuaan nih, beberapa waktu lalu saya diundang untuk menghadiri event Blogger Gathering bersama Safi. Jujur saya sangat excited karena akhirnya saya bisa berkumpul dengan teman-teman dunia maya saya dan lagi, Safi adalah salah satu merk skincare favorit saya.

Bertempat di Makeupuccino, siang itu acara dimulai dengan makan siang bersama. Selesai makan siang, acara utama berlanjut dengan tips seputar kesehatan  kulit dari dokter dan Hanum Mega (influencer), serta pengenalan teknologi Beetox dari rangkaian Safi Age Defy.

Menolak Tua dengan Teknologi Beetox dari Safi Age Defy

Siapa di sini yang pake produk Safi juga? Bagi yang sudah atau pernah memakai produk Safi pasti tahu kalau Safi memiliki 4 jenis rangkaian skincare, yaitu; Safi White Expert, Safi White Natural, Safi Dermasafe, dan Safi Age Defy. Masing-masing memiliki kegunaan yang berbeda. Nah kali ini, saya akan membahas tentang teknologi Beetox yang ada pada produk terbaru Safi Age Defy.

Beetox technology adalah teknologi terbaru yang ada pada 3 produk di rangkaian Safi Age Defy. Disebut Beetox karena bahan utama nya berasal dari bee venom. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Safi Research Institute, bee venom terbukti mampu membuat kulit terasa lebih kencang selama dua bulan jika diaplikasikan dengan cara dan dosis yang tepat.

Oh ya, hal yang membuat saya terkesan adalah, teknologi terbaru dari Safi ini sama sekali tidak menggunakan metode animal testing. Sebelum diujicobakan kepada manusia, Safi melalui Safi Research Institute, membuat rekayasa DNA yang mirip dengan jaringan kulit. Bee venom yang digunakannya pun bukan mengambil langsung dari lebah, tapi mereka membuat rekayasa yang secara DNA dan fungsinya mirip dengan racun lebah.



Review Produk Safi Age Defy with Beetox Technology

Teknologi Beetox ini ada pada 3 produk terbarunya, yaitu; All Make-up Remover, Youth Elixir, dan Skin Booster. Ditambah dengan bahan gold extract, ketiga produk terbaru dari Safi Age Defy diyakini mampu merawat keremajaan dan kecantikan kulit.

1. Safi Age Defy All Make Up Remover

Seperti namanya, produk ini berfungsi untuk menghapus make up dan juga kotoran di wajah. Produk ini mengandung bahan utama gold extract, olive oil, dan honey extract. Safi All Make Up Remover dari rangkaian Safi Age Defy ini memiliki klaim:
  • Membersihkan riasan wajah serta kotoran dengan mudah dan seksama
  • Membantu menjaga kelembapan dan elastisitas kulit
  • Teknologi formulasi minyak yang dapat dibilas dengan air tanpa sabun.
Cara Pakai

Usapkan dengan lembut ke wajah dalam keadaan kering, pijat lembut seluruh wajah. Lalu basahi dengan sedikit air, pijat perlahan hingga formula berubah menjadi warna putih. Formula yang berubah menjadi putih ini menandakan bahwa make up remover nya sedang bekerja. Kemudian bilas hingga bersih.

Review

Safi All Make Up Remover dikemas dalam sebuah tube plastik berwarna ungu tua dengan ukuran 100ml. Di depan kemasan terdapat logo Safi, keterangan singkat mengenai produk, logo Safi research institute dan logo Halal. edangkan di bagian belakang kita dapat melihat detail lengkap mengenai klaim produk, cara pakai, bahan, dan keterangan lain mengenai produsen Safi Indonesia.

Output produk dibuat dengan sistem pump. Menariknya lagi, sistem pump nya ini dilengkapi dengan kuncian agar pump tidak tertekan jika tidak dipakai. Sebagai seorang design engineer aku jadi dapet inspirasi dari kemasan produk ini, beneran loh. Haha.

Oke kita bahas isinya. Safi All Make Up Remover memiliki tekstur yang cair dan berminyak. Jelas, karena ada kandungan olive oil nya. Warnanya bening dan wanginya manis. Saya suka dengan aromanya karena tidak mengganggu. Karena teksturnya yang berminyak, make up remover ini cocok untuk menghapus make up yang waterproof. Dan sesuai dengan klaimnya, make up remover ini begitu dibilas dengan air langsung bersih dan ga lengket, padahal ini mengandung minyak. Efek lain yang aku rasakan selain bersih adalah wajah jadi makin lembap dan kenyal. Meski begitu, kita tetap harus melakukan double cleansing menggunakan facial wash agar bersih maksimal.

Harga

Rp 109.000,-


2. Safi Age Defy Youth Elixir

Nah, diantara 3 produk Safi terbarunya, ini yang paling bikin saya jatuh cinta. Ini mungkin semacam serum (atau bukan?). Klaim dari mereka SAFI Age Defy Youth Elixir ini membantu menutrisi kulit wajah dengan kandunggan gold extract dan propolis. SAFI Age Defy Youth Elixir memiliki fungsi:
  • memelihara elastitsitas kulit
  • melawan tanda-tanda penuaan seperti flek hitam
  • mencerahkan kulit wajah
Cara Pakai

Kocok dahulu sebelum dipakai. Usapkan pada kulit wajah dan leher, tepuk lembut agar produk dapat terserap maksimal.

Ingredients

Water, Cyclopentasiloxane, Panthenol, Glycerin, PPG-3 Myristyl Ether, lsononyl lsononanoate, Betaine, Caprylyl Methicone, Ethyl Ascorbic Acid, Dimethicone, Hydroxyethylcellulose, Sodium Chloride, Isostearyl Alcohol, Pterocarpus Marsupium Bark Extract, Sodium Hyaluronate, Ethylhexylglycerin, Disodium EDTA, Lactic Acid, Nordihydroguaiaretic Acid, Butylene Glycol, Ceramide NP, Propolis Extract, Bee Venom, Colloidal Gold, Acetyl Heptapeptide-9, Frag rance, Phenoxyethanol, Sodium Metabisulfite, Cl 47005, Cl 47000, Cl 26100, Cl 61565, CI 60725.

Review

Produk ini dikemas ke dalam sebuah botol yang terbuat dari kaca. Satu sisi, botol kaca mendukung agar isi produk tidak terjaga kandungannya dan tidak terkontaminasi. Namun, sisi lain, botol kaca kurang travel friendly karena khawatir pecah. Kemasan botol nya doff, tidak licin, sehingga cukup nyaman digenggam. Dilengkapi dengan pipet kaca untuk mengeluarkan serumnya. Kemasannya menurut saya terlihat mewah karena dipadukan dengan tutup yang berwarna emas.

Botol yang berisi produk seberat 29 gram ini, di bagian depannya tercantum logo dan nmerk Safi, serta sedikit penjelasan mengenai produk. Di bagian belakang, kita bisa menemukan klaim produk, cara pakai, dan logo Halal. Jika ingin melihat keterangan lebih lengkap seperti ingredients dan sebagainya, bisa kita lihat di kemasan sekunder/kemasan dus nya.

Nah, kenapa sih produk ini jadi produk favorit saya? karena memang produk ini bekerja sesuai klaimnya. Saya biasa menggunakan ini di pagi hari. Manfaat yang paling terasa adalah wajah saya jadi lebih kencang dan lembut. Efek memudarkan flek hitam nya juga mulai terlihat. Flek hitam perlahan mulai memudar. Saya sih sangat berharap bisa hilang sama sekali. Wanginya juga lembut, wangi madu banget.

Kekurangannya hanya satu, yaitu dari segi kemasan. Ya tapi mau gimana lagi ya, tentunya Safi juga punya alasan mengapa produk ini dikemas dalam botol kaca. Kalau ingin dibawa pergi sepertinya saya akan menempatkannya di pouch yang memiliki bantalan busa. Sebetulnya kacanya cukup tebal sih, tapi antisipasi saja.

Harga

Rp 169.000,-


3. Safi Age Defy Skin Booster

Terakhir, ini mungkin semacam face mist dari Safi seri Age Defy. Safi Age Defy Skin Booster ini mengklaim bahwa ia mampu menjaga kelembapan kulit dan melindungi kulit dari paparan radikal bebas. Safi Age Defy Skin Booster mengandung gold extract dan royal jelly yang berfungsi untuk:
  • memelihara kelembapan kulit
  • melindungi kulit dari paaran radikal bebas
  • membantu make up agar bertahan lebh lama
  • menyegarkan kulit
Cara Pakai

Kocok dahulu sebelum digunakan. Semprotkan di wajah setelah penggunaan make up atau saat diperlukan.

Review

Safi Age Defy Skin Booster dikemas dalam botol plastik bernuansa putih dan emas. Sama seperti produk lainnya, di bagian depan kita bisa menemukan logo dan merk Safi, serta penjelasan singkat mengenai produk. Di bagian belakang, kita bisa menemukan klaim, cara pakai, ingredients, dan informasi mengenai produsen Safi. Botolnya mudah digenggam karena memiliki diameter yang tidak terlalu besar. Ukuran botolnya sebesar 75ml. Bahan plastik nya juga kokoh.

Kesan pertama setelah menggunakan Safi Age Defy Skin Booster ini rasanya segar dan lembap. Saya suka aroma nya, manis seperti madu. Biasanya saya pakai setelah menggunakan bedak. Kulit saya yang cenderung kering jadi terbantu terlihat lembap setelah menggunakan Safi Age Defy Skin Booster ini. Saya itu selalu serba salah kalau pakai make up, kalau ga pake bedak takut terlalu hinyay (lengket berkilau seperti sangat berminyak), tapi kalau pakai bedak takut jadi terlihat kering lagi. Nah, Safi Age Defy Skin Booster ini akhirnya menjawab kegalauanku.

Kalau untuk klaim membuat make up jadi lebih tahan lama saya kurang tahu. Saya biasa memakai make up tipis untuk sehari-hari, baik itu untuk bekerja atau saat main. Mungkin nanti saya akan update lagi kalau saya mendapatkan 'kesempatan' menggunakan make up yang tidak seperti biasanya.

Harga

Rp 129.000,-


Nah, bagaimana? Tertarik untuk mencoba Safi seri Age Defy terbarunya ini? Saya sih sangat menyarankan untuk mencoba Safi Age Defy Youth Elixir saja jika tidak ingin mencoba semuanya. Safi Age Defy Youth Elixir ini benar-benar cocok dan bekerja sangat baik di kulitku.

Friday, 1 November 2019

QR Standar Pembayaran Digital Ala Milenial


Sekarang kita sudah memasuki era industri 4.0, dimana hampir seluruh aspek menggunakan teknologi canggih. Di bidang manufaktur misalnya, banyak sekali mesin-mesin yang menggunakan sistem otomatis. Tidak sampai di situ, sistemnya pun bisa dipantau dari laptop bahkan smartphone. Cukup mengandalkan jaringan internet, semua dapat dikendalikan.

Pun begitu hal nya dengan proses jual beli. Uang dalam bentuk fisik, baik itu uang kertas atau uang logam, sekarang sudah tergantikan dengan konsep e-money atau electronic money. Jadi sekarang istilah dompet tebal itu sudah tidak berlaku lagi. Percayalah, dompet tebal itu mungkin isinya hanya tumpukan kertas bon. Ehm, ya, seperti saya.

QR Code Untuk Berbagai Kemudahan Transaksi

Konsep uang elektronik ini seolah-olah sudah menghilangkan fungsi dompet sebagai tempat penyimpanan uang. Wujud fisik yang saya pegang hanya berupa kartu, atau aplikasi yang terpasang di smartphone. Saya sendiri sangat merasakan kemudahan dalam bertransaksi menggunakan konsep uang elektronik ini.

Saya tinggal datang ke sebuah toko yang melayani pembayaran lewat QR Code. Saya tinggal memilih apa yang saya mau, kemudian saya cukup membayar dengan menunjukkan QR Code yang terpampang di layar smatphone saya.
Sumber: Detik Finance
Tidak hanya dalam hal jual beli di pertokoan atau merchant, saya juga turut merasakan kemudahan bertransaksi di bidang transportasi umum. Satu minggu sekali saya haru bulak-balik dari Cimahi ke Bandung sambil membawa anak tanpa suami. Pilihan transportasi yang memungkinkan sampai saat ini hanya kereta api lokal Bandung Raya. Saya baru tahu, kalau pemesanan tiket kereta api lokal bahkan sudah bisa lewat aplikasi. Beberapa waktu lalu baru saja saya coba dan saya merasakan keuntungan yang banyak. Saya tidak perlu repot antri, saya jadi bisa tahu jadwal kedatangan kereta api, tidak perlu repot-repot menunggu uang kembalian, dan semuanya jadi serba paperless. Cukup dengan menunjukkan QR Code yang tertera di layar smartphone kepada petugas. Petugas akan melakukan scan, dan saya bisa langsung memasuki kereta api.

Baca Juga: Naik KRD Lokal Bandung Raya Bisa Kemana Aja? Part 1

Satu hal lagi yang paling membuat orang-orang khususnya saya, merasa beruntung menggunakan pembayaran dengan sistem QR Code ini. Apalagi kalau bukan karena promo nya yang sangat menggiurkan. Terkadang ada promo diskon, cashback, hingga promo beli 1 gratis 1. Bagi saya sang pemburu gratisan, tentunya ini adalah hal yang paling menyenangkan.

QR Code Merugikan?

Dibalik semua kemudahan serta kenyamanan yang saya rasakan dalam bertransaksi dengan metode QR Code ini, ternyata ada segelintir orang yang merasa dirugikan. Orang-orang itu rata-rata adalah yang masih melakukan pembayaran secara manual. Tak jarang saya mendengar keluhan beberapa orang ini yang merasa usaha nya menjadi sepi karena orang sudah beralih ke semua hal yang berbau digital.

Namun, sajauh yang saya tahu, manusia itu dianugerahi sebuah keistimewaan yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Anugerah itu adalah akal. Sehingga, manusia itu sebetulnya diciptakan untuk bisa dinamis dan mengikuti perkembangan zaman dengan akal yang diberikan Sang Pencipta.

Kebanyakan orang yang mengeluh ini adalah orang yang masih betah dengan konsep serba manual nya, dan seringkali menolak teknologi yang berkembang. Ya, tugas kita hanya cukup memberikan pengetahuan atau edukasi kepada mereka dengan cara yang halus, pelan-pelan, dan menggunakan adab.

Bank Indonesia Luncurkan QR Code Standar

Sadar ga sih, QR Code atau Quick Response Code yang dimilki oleh berbagai instansi keuangan digital saat ini memiliki desain QR yang berbeda-beda? Untuk itu, bertepatan dengan HUT Republik Indonesia ke 72, 17 Agustus lalu, Bank Indonesia resmi meluncurkan QR Code Standar. Standar kode respon cepat yang diluncurkan ini bernama QR Code Indonesian Standard (QRIS).

Menurut Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, QR Code Indonesian Standard ini mengusung konsep UNGGUL, yaitu Universal, Gampang, Untung, dan Langsung.


Universal, mengandung arti penggunakan QRIS bersifat inklusif untuk seluruh lapisan masyrakat. Bahkan, QR Code Indonesian Standard ini dapat digunakan di mancanegara.

Gampang, berarti mudah digunakan. Seluruh masyarakat dapat menggunakan transaksi yang aman dan nyaman, cukup dalam genggaman ponsel.

Untung. Transaksi menggunakan QR Code Standar akan menguntungkan kedua belah pihak, baik itu penjual atau pembeli. Keduanya dapat melakukan transaksi secara efisien hanya melalui satu kode QR standar yang dapat digunakan di semua aplikasi pembayaran digital.

Langsung. Transaksi menggunakan QR Code sifatnya seketika dan langsung terjadi. Sehingga transaksi yang menggunakan metode QR Code Indonesian Standard ini mendukung kelancaran sistem pembayaran.


Efektif Mulai 1 Januari 2020
 
Pembayaran yang dilakukan dengan QRIS ini akan mulai efektif pada tanggal 1 Januari 2020. Proses ini sudah melalui uji coba pertama pada bulan September hingga November 2018 lalu. Lalu, uji coba tahap kedua dilakukan pada April hingga Mei 2019 yang lalu, sebelum akhirnya QRIS ini resmi diluncurkan.

Perlu diketahui bahwa peluncuran QRIS ini adalah implementasi dari visi Sistem Pembayaran Indonesia (SPI) 2025 yang telah dicanangkan BI pada bulan Mei 2019 lalu. Visi ini secara tidak langsung bertujuan untuk memajukan ekonomi Republik Indonesia.

Yuk, Jadi Bagian dalam Kemajuan Ekonomi Indonesia!

Memang tak dapat dipungkiri lagi bahwa zaman akan terus berubah. Perubahan zaman ini juga harus didukung penuh oleh kita. Sebagai masyarakat Indonesia generasi milenial, dukungan kita sangat berarti untuk kemajuan ekonomi Indonesia. Jangan hanya bisa nyinyir, yuk kita turut andil.
#feskabi2019
#gairahkanekonomi
#pakaiQRstandar
#majukanekonomiyuk
 

 

Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done