Menyapa Sunrise di Puncak Gunung Prau, Dieng, Wonosobo

17:45:00


Jika kita berbicara soal Dieng, tentu akan banyak hal yang terbahas. Mulai dari pesona keindahan alam nya, hasil tani nya, makanan khas nya, adat dan budaya nya, dan yang paling saya sukai adalah keramahan penduduk asli nya. Nah, kali ini saya ingin berbagi pengalaman saat saya mendaki gunung Prau sebagai salah satu objek wisata di Dieng. Yaa siapa tau ada yang terinspirasi dan ingin ke sana.

Sebenarnya perjalanan menuju Dieng ini sudah lama sekali saya lakukan. Sekitar tahun 2016 lalu, saat saya bulan madu. Hanya saja saya baru mau menuliskannya sekarang. Tak apa lah yaa

Gunung Prau memiliki ketinggian 2565 MDPL (Meter Di atas Permukaan Laut). Bagi yang menyukai dunia pendakian, tentunya gunung ini tak lagi asing di telinga. Gunung Prau dikenal sebagai gunung yang ramah bagi pendaki pemula, karena waktu tempuh nya yang relatif singkat untuk mencapai puncak, jika dibandingkan dengan gunung-gunung lainnya. Dan yang menjadi daya pikat dari gunung ini adalah sunrise nya yang luar biasa indah dengan latar gunung Sindoro dan Sumbing yang gagah.
Saya sudah merencanakan untuk mendaki gunung ini sejak lama. Alhamdulillah, akhirnya kesempatan untuk mendaki gunung ini datang saat saya mengambil cuti bulan madu. Aneh ya, bulan madu kok naik gunung

Magelang - Wonosobo - Dieng
Perjalanan dimulai dari Magelang, karena sebelumnya kami baru saja selesai mendaki gunung Merbabu. Kebayang ga sih cape nyaa, sampai saat ini saya juga masih bingung kok mau-maunya bulan madu mendaki dua gunung sekaligus.. hahaha. Beruntungnya kami selama di sini, karena kami selalu bertemu dengan orang-orang yang baik hati, yang mau menunjukkan kami jalan dari Magelang menuju Wonosobo, bahkan mengantar kami sampai naik bus jurusan Wonosobo.

Matahari sudah tenggelam berganti dengan sinar redup rembulan. Saya lupa berapa lama perjalanan dari Magelang menuju Wonosobo, karena selama di bis saya tertidur. Badan rasanya sudah tidak mau kompromi untuk menahan kantuk. Singkat cerita, kami diturunkan di salah satu hotel di daerah Wonosobo. Supir yang baik hati menyuruh kami untuk menginap terlebih dahulu di hotel ini, mengingat malam sudah larut dan sudah tidak ada kendaraan lagi menuju Dieng.

Malam itu kami beristirahat di hotel, saya lupa nama hotel nya, yang saya ingat kami diberi kamar dengan kasur tipe twin bed. Wagelaseeh bulan madu dikasih twin bed 😂. Letak hotel ini tak jauh dari pasar. Esok pagi nya kami berjalan-jalan dulu menikmati alun-alun kota Wonosobo. Sekitar pukul 11 siang kami checkout dari hotel dan bergegas menuju Dieng.
 
Mampir ke salah satu pasar di Wonosobo
Dari hotel, kami berjalan sekitar 200 meter menuju suatu perempatan yang katanya dilalui angkutan menuju Dieng. Alhamdulillah, kurang dari 10 menit kami menunggu, akhirnya kami dapat juga bus menuju Dieng.

Dieng - Desa Pathak Banteng
Bus yang kami tumpangi tidak begitu besar, mungkin seukuran mobil elf. Perjalanan menuju desa Pathak Banteng, Dieng, kurang lebih 1 jam. Sesampainya di desa Pathak Banteng, kami disambut hujan deras.

Bus berhenti tepat di sebuah warung bakso. Kami berdua lalu mampir untuk mengisi perut. Lagi-lagi kami bertemu dengan orang baik, pemilik warung ini sangat ramah dan mengajak kami berbincang. Setelah tahu kami dari Bandung, si pemilik warung dengan semangatnya bercerita segala hal tentang Dieng, tentang tempat wisata nya dan budaya nya. Bahkan beliau menawarkan pinjaman sepeda motor miliknya kepada kami Tapi kami menolak dengan halus (padahal mah pengen, hahaha, itumah basa basi aja). Kemudian beliau menawarkan lagi untuk menginap di tempat saudara nya. Kebetulan, saudara nya ini menyediakan tempat menginap khusus traveler, bayar nya juga se-ikhlas nya saja.

Tempatnya memang alakadar nya, tapi cukup nyaman untuk kami beristirahat. Tak ingin berlama-lama, kami segera membawa perlengkapan dan menempati salah satu kamar di tempat penginapan ini.

Perbincangan Hangat
Dieng memang dingiinn. Dinginnya sampai menembus kasur dan selimut di dalam kamar. Padahal rumah tempat saya tinggal di Cimahi sudah dingin, tapi aku tak kuat menahan dingin di sini yang menyerupai suhu di kulkas. Ku tak sanggup membayangkan jika harus mandi air dingin di sini.

Pak Mulyono, pemilik penginapan ini kemudian mengajak kami berbincang-bincang. Dinginnya Dieng jadi tak terasa. Ditambah lagi kami ditemani hangatnya arang yang dibakar di dalam anglo. Beliau bercerita banyak hal tentang sejarah Dieng. Beliau juga mengejak kami untuk mencicipi kentang goreng khas Dieng di kediaman orangtua nya. 



Petualangan Dimulai
Rencana kami untuk berkemah di puncak Prau tidak bisa terlaksana karena ternyata pada saat itu, gunung Prau sedang ditutup untuk umum. Namun, petugas Taman Nasional Gunung Prau masih berbaik hati, beliau mengizinkan kami untuk mendaki tektok (bulak-balik, tidak berkemah), tapi kami tidak mendapatkan asuransi jika terjadi apa-apa. Pikir kami, tak apa lah, mudah-mudahan kami selamat sampai pulang dari sini.

Kami bertiga, saya, suami, ditemani pak Mulyono sebagai guide, mulai mendaki pukul 4 subuh. Jam segini memang sedang puncak-puncak nya dingin. Badan harus terus bergerak agar kami tidak terkena hypotermia. 10 menit pertama, jalanan masih bersahabat dan landai. Begitu memasuki daerah perkebunan warga, kami langsung disuguhi jalanan menanjak lumayan curam.

Langkah kami terhitung cepat karena kami tidak dibebani ransel berat. 30 menit kemudian kami sudah tiba di Pos I. Saya harus terus bergerak agar tak kedinginan. Saya tidak boleh istirahat dan duduk terlalu lama. Kami harus melalui 4 Pos untuk sampai ke puncak. Jalan semakin lama semakin menanjak. Tapi Alhamdulillah, Allah masih memberikan saya fisik yang kuat.

Untunglah saat itu sedang musim hujan. Sebab, jika sedang musim kemarau cuaca akan terasa lebih dingin lagi, bahkan kita akan menjumpai kristal es. Selain itu, mendaki pada musim kemarau akan menyebabkan jalur pendakian gersang, berpasir, dan sangat berdebu.
Sunrise di Gunung Prau dengan latar gunung Sindoro dan Sumbing
Akhirnya kami mencapai puncak setelah 2 jam berjuang melewati jalur yang cukup curam.  Subhanallah.. sungguh saya tidak dapat berkata-kata begitu melihat pemandangan di puncak. Jadi inilah mengapa sunrise di gunung Prau menjadi salah satu sunrise terbaik di ASIA. Gambar yang ditangkap kamera rasanya tidak lebih indah jika dibandingkan dengan apa yang dilihat dengan mata kepala sendiri.

Kekaguman ini kemudian kami abadikan melalui kamera. Setelah puas berfoto ria, kami menggelar matras lalu menyiapkan sarapan dan makan bersama. Sekitar pukul 9, kami turun meninggalkan puncak Prau.


Kesimpulan dan Estimasi Perjalanan
Gunung Prau bisa menjadi salah satu objek wisata yang wajib didatangi saat mengunjungi Dieng. Hal yang menarik dari tempat ini selain sunrise nya yaitu hamparan padang sabana hijau yang ditumbuhi bunga-bunga berwarna putih kuning, serta undakan-undakan bukit yang sering disebut Bukit Teletubbies. Sebenarnya, ada dua jalur resmi menuju puncak Prau. Yaitu melalui desa Pathak Banteng, atau melalui jalur Dieng. Perjalanan melalui jalur Pathak Banteng relatif lebih singkat (sekitar 2 jam) namun medannya cukup curam. Sedangkan jalur Dieng, perjalanan jauh lebih lama namun medannya lebih landai, sekitar 4 jam. 
Bukit Teletubbies di jalur gunung Prau via Dieng
Berikut saya rangkum itinerary menuju gunung Prau jika berangkat dari Cimahi (karena saya orang Cimahi hehe) :
  • Cimahi - Wonosobo, menggunakan bus BUDIMAN; 10 jam, Rp 105.000,-
  • Terminal Wonosobo - Dieng, menggunakan angkot + bus kecil menuju Dieng; 1 jam, Rp 15.000,- (perkiraan)
  • Simaksi Rp 3.000,-
  • Base camp Pathak Banteng - Puncak Prau; 2 jam
  • Puncak Prau - Base camp Dieng; 4 jam

Sekian

  • Share:

You Might Also Like

30 komentar

  1. Sudah puluhan purnama kaki ini tidak menjejak ketinggian. Hiksss. Alhamdulillah pernah ke Prau tahun 2015 bareng suami dan anak saya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Luar biasa.. udah ke Prau sekeluarga.. pasti seru yaa.. salut mbak..

      Delete
  2. Bulan madu yang anti mainstream klo ini ya mba...tapi seru pasti...

    ReplyDelete
  3. Wah Mbak fotonya lho bagus.
    Angle-nya bikin pengen ke sana juga jadinya apalagi saya suka sunset hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. waduuh makasih banyak mba foto nya dibiang bagus.. klau ke sini boleh kabarin aku ya mbak, kita nanjak bareng :D

      Delete
  4. Sunrise..
    Sebuah keajaiban alam yg selalu saya tunggu2 setiap hari..
    Sejuk, hangat, cerah..

    kakve-santi(dot)blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang akan kamu dustakan? :)

      Delete
  5. Keren lah kalian, honeymoonnya naik gunung :D. Aku kangeeeeen banget ama dieng. Trakhir kesana 2013. Tp aku ga naik gunung mba, cuma liburan keluarga. 1-1 nya yg kita naikin, cuma puncak sikunir wkwkwkw.. Itupun aku malu, krn nyaris tepar naik ke atas hahahah. Kliatan banget ga prnh olahraga -_-. Tapi selain itu, aku sukaaaaa ama wisata di sana. Truatama udaranya yg super dingin. Krn aku ga kuat panas :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku juga tadinya mau ke sikunir mbak.. karena banyak banget yang ke sana, jadi penasaran, semoga bisa ke Dieng lagi.. ahaha sama sih mbak, yang namanya jalan nanjak2 pasti ngos-ngosan :D

      Delete
  6. Seru banget yaaa bulan madu di gunung. Aku pingin banget ke gunung berdua aja tapi takut kesasar wkwk padahal enak bisa kemping dingin dingin terus peluk peluk wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau takut kesasar mending ajak satu orang lagi buat jadi porter mbak, hihihi, bisa buat fotoin kita juga :D

      Delete
  7. Kalau berduaan kesini sama suami meskipun capek tapi tetep seneng :D Dieng salah satu wishlist tempat jalan2 yang belum kelaksana sampe sekarang karena takut rempong bawa anak, apalagi yg kecil masih bayi :D jadi baca-baca tulisan tentang dien dulu sebelum beneran nanti ada rejeki pergi kesana insha Allah :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin semoga ada rezekinya buat ke sini lagi :D aku juga pengen lagi :D

      Delete
  8. Aduh aku kangen nagik gunung! Terakhir naik gunung sekitar 15 tahun yang lalu wkwkwk... tapi kalau mau naik lagi sekarang, ngga tega sama lutut hih...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe jangan dipaksain mbak kalau lutut nya ga bisa kompromi :D

      Delete
  9. Iiih..asiknyaaa bulan madu di awan biru..tiada yang mengganggu.. wkwkwk..

    Ini bulan madu yang mewah lho Mbak.. Saya aja pengen ke Gunung Prau tp belum kesampaian.. Padahal deket, saya asli Purworejo, bawahnya Wonosobo..

    Cuma suami saya aja yg pernah ke sana akhir 2014 lalu.. Tapi saya ngga diajak..huhuhu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. aah deket dong dari purworejo ke Prau.. ayok mbak ke sinii :D

      Delete
  10. salah satu cita2 saya yg blom kesampaian adalah naik gunung, dan baca postingan ini kangennya sedikit bisa ilang :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah makasih mbak.. nanti kalau mau naik gunung ajak2 aku yaa

      Delete
  11. pernah ke Dieng, tapi belum pernah ke Prau euy.
    itu asyik banget nanjak pas lagi sepi begitu. puas banget ya bisa foro-foto pemandangan alam disana

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbaak. kita beruntung waktu itu lagi sepiii, karena Prau dan beberapa tempat wisata lainnya di Dieng kalau lagi rame2 nya waah ga kebayang padet nya gimana

      Delete
  12. Wah romantis nian ya honeymoonnyaaa... Berhubung sekarang lagi musim kemarau yang dingin saya jadi bisa bayangin gimana dinginnya di sana. Subhanalloh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Romantis-romantis capek mbak.. hihihi. Iya nih, sekarang musim kemarau, di Bandung dinginnya udah luar biasa waktu malem, apalagi di Dieng.. :D

      Delete
  13. Saya selalu terpesona sama ciwi-ciwi yang suka alam dan kuat jalan kaki jauh, saya jalan di mall saja sudah ngos-ngosan, tapi punya cita-cita liat sunrise cantik kayak gini :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau di foto memang keliatannya keren sih mbak, tapi nyata nya sama aja ngos-ngosan nya hehehe.. :P

      Delete