May 2018 - Afifah Haq
News Update
Loading...

Thursday, 17 May 2018

Berendam dan Menikmati Garut di Banyu Alam Resort Cipanas

Ini adalah cerita lanjutan dari trip kami selepas pulang dari hiking ria ke Gunung Papandayan bersama si kecil yang lalu. Rasa lelah dan pegal menyergapi tubuh kami. Tak terkecuali si anak bayi, sepertinya dia sudah bosan dan pegal juga setelah berjam-jam ada di gendongan ibunya.

Sebelum pulang kembali ke Bandung, kami memang berencana untuk menginap terlebih dahulu di Garut untuk sekedar melepas lelah, agar saat pulang kami sudah merasa sedikit segar. Rasanya akan sangat nyaman bila lelah dan pegal ini terobati dalam sebuah kolam air panas. Karena itulah, kami lalu melancong ke arah wisata alam Cipanas, Garut.

Wisata alam Cipanas Garut ini sudah lama ada. Sumber air panas alami nya melimpah, karena itulah tempat ini dinamakan Cipanas. Ci yang merupakan singkatan dari cai dalam bahasa sunda memiliki arti 'air'. Sumber air panasnya saya kira berasal dari Gunung Guntur.

Memang banyak sekali tempat penginapan baik itu hotel, motel, atau hanya sekedar rumah yang menyewakan kamar-kamarnya untuk bermalam. Harganya pun bervariasi, mulai dari 100ribuan hingga 1juta lebih. Harga ini akan jadi berlipat jika kita datang pada saat weekend atau hari libur.

Karena kami datang di Sabtu sore, semua penginapan selalu full booked. Sebetulnya ada sih, penginapan yang kosong. Tapi menurut kami harganya terbilang mahal, karena fasilitas nya hanya sebuah kamar biasa (tanpa AC, tanpa kipas) dan bak berendam di dalam dengan harga Rp 450.000. Wew!

Setelah 1 jam kami bulak balik mencari penginapan yang pas, akhirnya pak suami memutuskan untuk menginap di Banyu Alam Resort Garut ini. Saya iyakan saja mengingat badan saya yang sudah super lelah dan si kecil yang sudah mulai rewel.


Aih.. ternyata pilihan suami saya memang tepat! Begitu masuk ke dalam, saya sudah langsung jatuh cinta sama pemandangannya.

Suami saya memilih ruangan di bungalow B. Satu ruangan terdiri dari satu ruang keluarga, satu kamar, satu kamar mandi dengan bak rendam ukuran 1mx1.6mx0.5m (kira-kira), dan toilet terpisah. Hal yang membuat betah dan nyaman di bungalow ini yaitu balkonnya yang menghadap langsung ke kolam.

Fasilitas
Fasilitas yang didapat ntuk tipe ruangan yang kami pesan terdiri dari:
  • Kamar dengan tipe double bed
  • Bak rendam
  • Televisi
  • Kipas Angin
  • Toiletries
  • Free Air Mineral
  • Free Sarapan Pagi 


Hal lain yang membuat nyaman adalah kami bisa memarkirkan kendaraan kami tepat di belakang bungalow. Jadi kami tak perlu repot-repot berjalan jauh dari tempat parkir ke kamar sambil membawa tas atau tentengan lainnya. Begitu turun dari kendaraan, bisa langsung masuk kamar.

Ukuran bak rendam menurut saya terbilang besar. Dengan ukuran 1 meter x 1.6 meter dan kedalaman kurang lebih 0.5 meter, membuat kami leluasa selonjoran kaki saat berendam. Apalagi buat si bayi yang emang hobi banget main air ini. Airnya cukup hangat dan menurut saya sih ga terlalu panas, suhunya pas baik buat orang dewasa ataupun anak-anak.

Bangunan di bungalow ini memiliki arsitektur yang homey ala pedesaan. Dindingnya terbuat dari paduan tembok dan bilik bambu, lantai nya pun terbuat dari kayu. Tempat ini sangat cocok bagi mereka yang sudah bosan dengan nuansa modern dan ingin mencoba merasakan nuansa khas pedesaan. Hanya saja karena dindingnya terbuat dari bilik menjadikan suara dari kamar lain terdengar.

Baik di malam hari ataupun pagi hari, kita bisa menikmati pemandangan gunung Guntur yang tepat berada di kawasan Cipanas Garut dari sini. Di malam hari, dari tempat ini kita bisa melihat sorotan lampu senter dan headlamp yang dipakai para pendaki saat menaiki gunung Guntur. Yup, gunung Guntur ini adalah salah satu gunung favorit yang sering didaki oleh para pecinta alam di Jawa Barat. 

Pagi hari kami menikmati sarapan di sini. Ada beberapa jenis menu yang dihidangkan untuk sarapan, namun menurut saya variasi nya kurang banyak.. hehe. Makanan yang dihidangkan ada nasi goreng, telur mata sapi, roti isi selai coklat, mie goreng, buah-buahan (yang saya dapat hanya melon dan semangka), teh, kopi, dan jus jeruk. Soal rasanya yaa lumayan lah, sangat mirip dengan masakan saya di rumah hehe.

Lokasi
Banyu Alam Resort berlokasi di Jalan Raya Cipanas no 102, Garut, Jawa Barat. Sangat strategis karena berada di Garut Kota. Artinya dari sini kita bisa jalan-jalan menuju pusat keramaian kota Garut. Untuk membeli oleh-oleh pun tak jauh. Banyak sekali toko oleh-oleh Garut yang menjual berbagai macam makanan khas Garut dengan harga yang murah.

Lokasinya dapat ditempuh selama 2 jam perjalanan dari kota Bandung. Tinggal ikuti saja petunjuk yang mengarah ke Garut. Jika sudah sampai di Garut, tinggal ikuti petunjuk ke arah Cipanas.

Harga Kamar
Ini harga kamar yang saya dapat saat weekend. Bisa jadi harganya lebih mahal atau bahkan lebih murah, tergantung kebijakan pihak hotel.


Kesimpulan
Dari pengalaman yang saya deskrispsikan di atas, mungkin ini sedikit rangkuman yang bisa jadi acuan bagi yang ingin menginap disini.

Hal-hal yang saya sukai dari tempat ini:
  1. Lokasi nya strategis, karena berada di pusat kota Garut dan tidak jauh pula dari Bandung.
  2. Tempat menginap sangat mengusung tema alam pedesaan.
  3. Sangat cocok untuk dijadikan tempat liburan keluarga.
  4. Bak berendam lumayan besar, cukup untuk 2 orang dewasa dan 1 orang anak.
  5. Suhu air pas, bahkan bisa diatur jika terlalu panas bisa dibuka keran air dinginnya.
  6. Staff nya sangat ramah.
  7. Parkir kendaraan bisa langsung di belakang kamar tempat menginap.
  8. Pemandangannya bagus, cocok untuk tempat foto-foto dan nambahin koleksi di instagram *lol.
Hal-hal yang mungkin bisa di improve:
  1. Menu sarapan, akan lebih baik jika varian menu nya ditambah lagi.
  2. Suara dari kamar lain cukup terdengar ke kamar saya, jadi agak berisik. 
Well, secara keseluruhan saya akan rekomendasikan tempat ini jika ada yang ingin menginap dan berendam air hangat di Garut. Ada yang tertarik?

Friday, 4 May 2018

Hiking ke Gunung Papandayan Bersama si Kecil





Saya dan suami kebetulan memiliki hobi yang sama, yaitu traveling dan melakukan kegiatan outdoor. Tapi semenjak hamil dan punya bayi, otomatis hobi saya ini terhenti. Lama tak keluyuran bikin saya kangen. Kangen jalan berjam-jam, kangen ngos-ngosan, kangen wangi hutan, kangen dinginnya gunung, pokonya kangen semuanya deh! Nah, tahun ini kebetulan si bayi menginjak usia satu tahun. Dengan sedikit rasa nekat dalam diri, saya merencanakan untuk pergi hiking sambil bawa si kecil. Hehee..
 
Gunung Papandayan jadi tujuan saya. Kenapa? karena gunung ini trek-nya tergolong mudah, tidak sesulit trek di gunung-gunung lain. Pemandangannya juga cantik dan menurut saya ga ngebosenin. Lokasinya pun tidak begitu jauh dari Bandung.


Sabtu, 28 April lalu saya bergegas dari rumah pukul 04.00 WIB. Sedikit ngaret, karena rencana sebelumnya kami berangkat jam 3 subuh. Namanya juga orang Indonesia.. hehe. Si kecil masih tertidur pulas saat kami bersiap-siap. Karena saya tak ingin mengganggu tidurnya si kecil, saya hanya menggantikan popok dan bajunya pelan-pelan. Tak lupa saya oleskan minyak telon supaya dia tidak kedinginan di jalan.


Gunung Papandayan terletak di daerah Cisurupan, kabupaten Garut, Jawa Barat. Perlu waktu kurang lebih 3 jam untuk sampai di pintu masuk Gunung Papandayan dari kota Bandung. Itu jika lalu lntas normal.  


Rute Menuju Papandayan dari Bandung


Jika menggunakan kendaraan pribadi, arahkan kendaraan menuju Rancaekek-Nagreg-Garut. Setelah sampai di Garut, langsung arahkan kendaraan menuju Jalan Raya Samarang. Lurus terus, sampai tiba di pasar Cisurupan. Patokannya adalah Indomaret Cisurupan, di sebrang indomaret ada jalan masuk ke kanan menuju pintu masuk gunung Papandayan.


Jika menggunakan kendaraan umum, bisa menaiki mobil elf jurusan Cikajang atau bus jurusan Pameungpeuk, lalu turun di pasar Cisurupan. Dari situ, lanjutkan perjalanan menggunakan ojek menuju pintu masuk gunung Papandayan. Jika datang dengan rombongan bisa menyewa kolbak.


Nah, perjalanan kali ini kami ingin menggunakan rute yang berbeda. Dari Bandung, kami berencana untuk tidak melewati jalan Nagrek. Kami melalui jalan Sapan lalu belok ke jalan raya Cijapati. Jalannya masih sepi dan sepertinya akan selalu sepi kecuali musim mudik tiba. Siapkan kendaraan yang prima karena jalannya penuh tikungan tajam dan tanjakan yang lumayan bikin kendaraan ngos-ngosan. Tapiii dibalik semua 'perjuangan' melewati jalan ini.. terselip keindahan yang luarbiasa yang mungkin tidak akan saya lihat jika melalui jalan Nagrek. Ini diaaa..

Pemandangan di samping kiri jalan raya Cijapati, indah ya?




Perjalanan normal dari Bandung memang 3 jam, tapi kami harus beberapa kali berhenti untuk sholat Subuh, sarapan, dan mengganti popok si kecil karena ternyata dia pup. Perjalanan menjadi lebih lama, tak apa, yang penting si kecil happy dan ga rewel.


Singkat cerita, sampailah kami di pintu masuk kawasan wisata Gunung Papandayan. Dan petualangan pun dimulai..

Kawah Papandayan dilihat dari tempat parkir

Titik awal pendakian
Gunung Papandayan di zaman saya masih jomblo dulu berbeda dengan sekarang. Gunung Papandayan sekarang sudah dikelola oleh pihak swasta. Semuanya jadi serba tertata dan rapi bahkan mulai dari tempat parkir. Fasilitasnya juga lebih baik dibandingkan dengan Papandayan 6 tahun yang lalu.


Perjalanan dari tempat parkir menuju kawah Gunung Papandayan idealnya sekitar 1-2jam. Jalannya sudah lumayan enak. Pihak pengelola sudah membuatkan tangga dari bebatuan. Tapi walaupun jalannya sudah nyaman, saya tetap menyarankan untuk pakai sepatu yang nyaman dan tidak licin ya. Pemandangan khas bekas letusan gunung tahun 2002 lalu akan kita jumpai selama perjalanan menuju kawah.


60 menit pertama perjalanan, si kecil masih saya yang gendong. Rasanya? yaa dinikmati saja lah yaa namanya juga naik gunung, pasti capek, hehe.. Sebetulnya si kecil sudah bisa jalan, tapi kalau dia dibiarkan jalan, saya khawatir dia berjalan semaunya dia, sementara di samping kanan kiri jalan banyak jurang, jadi ku putuskan untuk digendong saja.

Semakin mendekati kawah, aroma belerang semakin menyengat. Tak mau mencium bau belerang terlalu lama, suami saya akhirnya 'mengambil alih si kecil dari gendongan saya ke pangkuannya. Biar lebih cepat sampai atas katanya.. (hmm, dia meragukan kekuatan emak-emak).





1 jam kemudian kami sampai di kawah Papandayan. Ada beberapa warung yang menjajakan makanan ringan di sekitar area ini. Makanan yang saya buru adalah semangka..! Setelah cape keringetan lalu makan semangka itu rasanya wah nikmattt tiada tara. Kebetulan si kecil juga seneng banget sama semangka.  Oya di dekat warung juga sudah ada toilet. Saya jadi ga repot waktu si kecil pup, dengan leluasa saya bisa membersihkan dan mengganti popoknya di toilet. 





Ada beberapa spot menarik di Gunung Papandayan ini. Mulai dari menara pandang dan pemandian air hangat di area tempat parkir, kawah Papandayan yang khas, Hutan Mati, Pondok Seladah yang sering dijadikan tempat berkemah, Tegal Alun dengan padang Edelweis nya yang luas, dan puncak Papandayan yang indah. Namun karena membawa bayi, target saya hanya sampai Hutan Mati saja.



Normalnya orang bisa mencapai hutan mati dalam waktu 3 jam dari tempat parkir. Tapi karena membawa si kecil perjalanan jadi agak lambat. Penting sekali untuk menjaga mood si kecil agar tidak bosan, karena kebosanan akan membuatnya rewel tak karuan. Si kecil juga masih minta mimi, saat menyusui saya sih cari semak-semak biar ga keliatan orang hehehe..


 

Kira-kira pukul 1 siang akhirnya kami bertiga sampai di Hutan Mati. By the way, dari kawah Papandayan sampai ke hutan mati si kecil saya yang gendong lagi. Dann sepanjang perjalanan menuju hutan mati doi tidur syantik di gendongan sementara emaknya ngos-ngosan.


Eeh pas nyampe Hutan Mati si doi bangun


Oke, jadi jika dirangkum, seperti inilah itinerary perjalanan menuju Gunung Papandayan:

  • Bandung - Pintu Masuk Papandayan: 3-4jam
  • Tempat parkir Papandayan - kawah Papandayan: 2 jam
  • Kawah Papandayan - Hutan  Mati: 40menit-1jam
  • Hutan Mati - Tegal Alun: 1.5 jam
  • Hutan Mati - Pondok Saladah: 1 jam
  • Pondok Saladah - Tegal Alun: 2 jam
  • Tegal Alun - Puncak Papandayan: 1 jam

Sedangkan tiket masuk Gunung Papandayan (untuk weekend) adalah sebagai berikut:
  • Tiket masuk per orang lokal Rp 30.000,-
  • Tiket masuk mancanegara Rp 300.000,-
  • Tiket motor Rp 17.000,-
  • Tiket mobil Rp 35.000,-
  • Biaya parkir Rp 5.000,-

Untuk info tiket lengkap (tiket saat weekday, tiket untuk rombongan pelajar, dll) silakan cek di website resmi TWA Papandayan.

Cukup mahal sih jika dibandingkan dengan tiket masuk gunung-gunung lainnya. Tapi ini sebanding dengan fasilitas yang ada.


Sekian cerita-cerita saya dari Papandayan. Ada yang berminat ke sini? :)


Thursday, 3 May 2018

Tips Hiking Bersama si Kecil


Siapa disini yang punya hobi berkegiatan outdoor seperti hiking, lalu setelah menikah dan punya si kecil jadi vakum menggunung lagi? Tosss dulu, kita samaan. Heheh.. Lalu, setelah lama ga keluyuran, jadi kangen lagi sama gunung? Toss lagi kita samaan..

Lama tak menggunung bikin kita kangen ya. Apalagi kalau hobi ini sudah seolah-olah mengakar dalam diri. Rasanya seperti ada sesuatu yang hilang. Tapi di sisi lain, kita tak tega untuk meninggalkan si kecil  hanya karena kita ingin 'mewujudkan kembali' hobi yang lama tertunda itu. 

Mungkin hiking bersama si kecil bisa jadi solusi. Di artikel ini saya ingin berbagi tips agar bisa hiking membawa anak tapi tetap nyaman dan happy.

1. Pastikan Tujuan
Kita semua tahu bahwa mendaki gunung itu tidaklah mudah. Apalagi kita membawa anak kecil. Penting sekali untuk tahu medan gunung yang akan dilalui. Sebaiknya kita pergi ke tempat yang sudah pernah kita datangi, sehingga kita hafal bagaimana jalan yang akan dilalui, tingkat kesulitan trek nya, waktu yang harus ditempuh, dan kondisi hutannya. Pilihlah gunung dengan jarak tempuh yang singkat. Selain itu, kita juga perlu tahu apakah petugas gunung yang akan kita daki memperbolehkan pengunjung anak-anak atau tidak.

2. Batasan Usia Anak
Saya pribadi tidak menyarankan bayi dibawah 6 bulan untuk dibawa ke gunung, semudah apapun treknya. Hal ini dikarenkan bayi di bawah 6 bulan rata-rata belum bisa duduk sendiri dengan tegak. Dalam perjalanan mendaki gunung, terkadang kita perlu istirahat sejenak saat merasa lelah. Saat kita istirahat, tentu saja kita ingin melepas gendongan. Nah, bagi bayi yang sudah bisa duduk, mudah saja untuk mendudukannya dimanapun di tempat yang nyaman. Lah kalau yang belum bisa duduk? apa iya tega anaknya ditidurkan di antara rerimbunan pohon di hutan?

3. Pastikan Kondisi Anak dalam Keadaan Fit
Ini sudah pasti jelas yaa.. hehe. Orang dewasa saja naik gunung harus dalam keadaan sehat. Malah ada beberapa petugas gunung yang mengharuskan pengunjungnya membawa surat keterangan sehat dari dokter. Kalau seandainya si kecil sakit sehari sebelum hari H, lebih baik ditunda dulu saja ya keinginan muncaknya.

4. Cek Cuaca
Mendaki di musim hujan tentunya akan lebih merepotkan dibanding mendaki saat musim kemarau. Terlebih lagi jika membawa anak. Alangkah lebih baik jika mendaki saat cuaca cerah. Biasanya musim hujan di Indonesia dimulai pada bulan Oktober sampai bulan Maret. Sedangkan puncaknya ada di sekitar bulan Desember sampai Februari.

5. Waktu Pendakian
Saya sangat menyarankan untuk melakukan pendakian sepagi mungkin. Hal ini dimaksudkan agar kita lebih cepat sampai ke area berkemah dan si kecil bisa lebih cepat beristirahat. Selain itu, mendaki di pagi hari akan sangat menguntungkan kesehatan kita. Angin di pagi hari masih terasa segar, matahari pagi juga bisa menguatkan tulang.

6. Perlengkapan yang Harus Dibawa
Mendaki dengan anak kecil memang butuh usaha ekstra. Membawa kebutuhan utama si kecil sangatlah disarankan. Tak mengapa barang bawaan kita menjadi lebih berat, asal si kecil bisa nyaman selama perjalanan sampai pulang kembali. Beberapa barang yang wajib dibawa versi saya adalah:
  • Popok, tisu basah, dan tisu kering
  • Kantong keresek hitam untuk sampah popok
  • Makanan dan cemilan yang praktis tapi penuh gizi
  • Minyak telon, bedak, lotion
  • Baju ganti, jaket, topi atau kupluk
  • Mainan favorit anak supaya tidak bosan selama di jalan
  • Payung
  • Flysheet dan matras
7. Memakai Gendongan yang Nyaman
Untuk anak dibawah 2 tahun, idealnya sih digendong. Walaupun anak sudah lancar berjalan tapi khawatir anak akan berjalan sekehendaknya dia dan sulit diarahkan. Untuk gendongan sendiri saya sarankan menggunakan carrier Deuter Kid Comfort (bukan iklan loh yaa..). Carrier ini cukup nyaman dan kuat menahan berat bayi/anak. Harganya cukup mahal memang. Tapi jangan khawatir karena ada tempat yang menyewakan carrier jenis ini. Untuk daerah Bandung bisa sewa disini, sedangkan untuk daerah Jabodetabek bisa sewa disini.
 


8. Bawa Pendamping
Ini penting juga, terutama untuk anak dibawah 2 tahun. Anak masih perlu ibunya untuk disusui atau dininabobokan jika ia mengantuk. Ibunya juga perlu suami untuk mem-backup jika sewaktu-waktu si ibu kelelahan.

9. Tetap Happy dan Nikmati Perjalanan
Anak berasal dari darah daging orangtuanya. Anak memiliki perasaan yang sensitif, ia dapat merasakan apa yang orangtuanya rasakan. Jika orangtuanya gelisah maka anaknya akan gelisah. Begitupun sebaliknya, jika orangtuanya merasa tenang maka anaknya akan tenang. Nikmati pemandangan di setiap ayunan langkah. Jika orangtua lelah atau anak lelah, segeralah beristirahat sejenak. Banyak minum dan sarapan yang sehat akan sangat membantu menjaga kondisi badan tetap fit selama pendakian.

Sekian tips dari saya. Ini tips untuk hiking saja ya, kalau untuk camping mungkin akan berbeda. Jika ada yang ingin ditambahkan boleh ya tulis di kolom komentar.

Terimakasih sudah mampir.. :)

Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done