Gunung Guntur: Di Atas Puncak Masih Ada Puncak Lagi

09:03:00


Bersyukur nya saya memiliki pasangan yang mempunyai hobi yang sama, yaitu mendaki gunung. Setelah pendakian kami ke gunung Merbabu, gunung Prau, gunung Burangrang, dan gunung Slamet, selanjutnya kami melanjutkan ke gunung Guntur.

Tepat 2 hari sebelum bulan puasa di tahun 2016, saya dan suami merencanakan untuk 'munggahan' di gunung Guntur. Mungkin agak gimana gitu ya kalau menurut orang-orang, harusnya munggahan di rumah saja, kumpul bersama keluarga besar.. Ehehe. Tapi saya ga nyesel ko, karena ternyata ini pendakian terakhir saya di tahun 2016-2017. Kenapa? Baca sampai habis yaa.. :)

Keberangkatan
Hari itu hari Sabtu, dimana seharusnya saya libur, tapi terpaksa masuk kerja (lembur) karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan segera. Lembur saya ini mengakibatkan jadwal kepergian kami menuju gunung Guntur jadi mundur, yang tadinya direncanakan berangkat Sabtu pagi, akhirnya berangkat di Sabtu sore.

Gunung Guntur terletak di daerah Cipanas, Garut, Jawa Barat. Dengan menggunakan sepeda motor, kami berdua bertolak ke kota Garut. Karena berangkat sore hari, dan jalanan pun sangat-sangat padat hari itu (padahal kami pake motor, tapi tetap saja terjebak  macet), kami tiba di Garut sekitar pukul 7 malam. Padahal normal nya Bandung-Garut hanya 2 jam.


Titik Awal Pendakian
Tempat yang dijadikan patokan untuk masuk ke kawasan gunung Guntur adalah pom bensin Tanjung. Di sebelah pom bensin itu ada sebuah gang agak besar, ke jalan itulah kita  masuk. Sekitar 700 meter, kita akan menemukan Base Camp gunung Guntur, nah, di sini kita bisa menitipkan kendaraan pribadi kita. Insya Allah aman..

Kami berdua memulai langkah dari tempat ini. Ikatan tali sepatu kami kencangkan, tali pengaman ransel kami pas kan agar nyaman di badan, headlamp pun kami nyalakan. Suara-suara binatang malam menemani langkah kaki kami. Beberapa orang sempat terlihat menyapa dan menyusul langkah kami, tak apa, karena saya pun tidak ingin terburu-buru.

Hal yang paling saya suka di setiap pendakian adalah sapaan dari setiap pendaki yang berpapasan dengan kita. Dan basa-basi pemberi semangat bahwa puncak sudah dekat (padahal masih jauh). Hal yang jarang saya jumpai di kehidupan perkotaan.

Sempat Nyasar
Sekitar 1 jam kami berjalan, kami menemukan persimpangan. Seharusnya kami mengambil jalan ke kiri, tapi kami malah melangkah ke kanan. Saat itu jalanan memang benar-benar gelap, padahal belum masuk area hutan. Sebelumnya suami sudah mengingatkan, kalau jalan malam memang agak riskan.

Tapi kami terus melanjutkan jalan. Suara-suara orang yang saya kira juga adalah pendaki di depan menumbuhkan harapan kami. Kemudian kami menemukan hutan yang sangat rapat, benar-benar rapat bahkan kami sampai harus merunduk. Jalan yang kami injak pun sangat berpasir, satu langkah maju, 2 langkah tergusur mundur (ga nyampe2 dong).

Rupanya beberapa pendaki di depan kami sengaja meninggalkan jejak berupa lilitan tali rapia di beberapa ranting pohon. Saya dan suami mengikuti jejak tali-tali itu. Tak lama, kami berhasil bertemu dengan beberapa pendaki di depan kami. Saya dan suami sangat berharap mereka berdua tahu jalan.

Tapi ternyata zonk saudara-saudara.. Mereka ber-6 ternyata juga sama-sama nyasar

Jadilah bertambah orang nyasar di gunung Guntur malam itu. Ke-6 pendaki yang kami temui melanjutkan perjalanan nya terus ke atas, mengikuti arahan google maps. Sedangkan suami, berinisiatif untuk tidak melanjutkan jalan ke atas, tapi turun ke bawah dan mencari sumber air. Saya otomatis mengikuti suami.

Singkat cerita, jalur yang dilalui oleh suami menemukan titik terang. Kami segera memanggil ke-6 pendaki yang melanjutkan perjalanan ke atas.  Kami menemukan sungai yang muara nya adalah ke air terjun Citiis. Jalur sebenarnya menuju gunung Guntur pun sudah terlihat. Alhamdulillah, saat berada di posisi ini, keberadaaan kami ber-8 terlihat oleh para ranger yang bertugas di gunung Guntur. Dua orang ranger mendekati kami dan memberi arahan untuk menyebrangi sungai di depan kami. 

Perjalanan Malam Menuju Puncak
Saya kaget ketika jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Rupanya kami menghabiskan cukup banyak waktu saat tersesat tadi. Para ranger mengarahkan kami ke Pos 3, untuk melakukan pendaftaran dan mendapatkan SIMAKSI (Surat Izin Masuk Konservasi).

Saya dan suami melanjutkan perjalanan, karena target kami adalah mengejar sunrise di puncak. Tapi entah mengapa saya merasa sangat sangat lelah di pendakian kali ini. Entah karena tenaga saya sudah habis saat tersesat tadi, saya pun tak mengerti. Lelah dan kantuk menyerang begitu hebat. Saya mengeluh, suami saya menawarkan untuk mendirikan tenda. Tapi saya sudah tidak bisa menahan kantuk saat itu.

Akhirnya kami berdua tidur di pinggir jalur pendakian gunung Guntur dengan hanya diselimuti sleeping bag. Hhh.. Akhirnya saya merasakan juga tidur benar-benar beralaskan tanah dan beratapkan sejuta bintang di langit. Kayak yang indah ya, padahal sangat dingin.

Sekitar pukul 3 pagi kami baru terbangun. Beberapa cemilan kami makan untuk mengganjal perut supaya tidak masuk angin. Dengan sedikit terkantuk-kantuk, saya dan suami meneruskan pendakian.

Gunung Guntur; Setelah Puncak Masih ada Puncak Lagi
Sepertinya target untuk menikmati sunrise di puncak tidak akan bisa terkejar. Badan ini rasanya sulit sekali untuk diajak kompromi. Jalan sedikit, saya sudah minta istirahat. Padahal di pendakian sebelumnya di gunung Slamet, saya tidak sampai merasa se-lelah ini (padahal gunung nya lebih tinggi dan jarak tempuh nya lebih lama).

Sampai shubuh tiba, saya masih belum mencapai puncak. Saya beristirahat lagi, lalu terpaksa melaksanakan shalat shubuh di tengah-tengah jalur pendakian gunung Guntur yang kemiringannya hampir 50 derajat dan berbatu.

Sunrise dan pemandangan kota Garut serta gunung Cikuray yang gagah
Untungnya saya ditemani suami yang super penyabar, yang dengan ikhlas menunggu tiap kali istrinya minta istirahat (ga tega juga kali yaa haha). Pukul 7 pagi akhrinya kami berdua mencapai puncak!

Pemandangan dari puncak bayangan Gunung Guntur
Eit tapi tunggu dulu. Ternyata ini hanyalah puncak bayangan pemirsa πŸ˜‚. Puncak sesungguhnya masih harus ditempuh lagi selama kurang lebih 30 menit. Untungnya tidak begitu jauh. Lagi-lagi, di perjalanan menuju pucak pun saya selalu minta istirahat berkali-kali. 

Ya, gunung Guntur memang dikenal memiliki 3 puncak. Masing-masing puncak nya berupa dataran yang cukup luas dan ditumbuhi ilalang dan sedikit pohon. Gunung Guntur memang merupakan gunung yang gersang.

Puncak 1 gunung Guntur
Saat itu kami berdua hanya mendaki sampai ke puncak 2. Di tengah perjalan menuju puncak 2 saya meminta istirahat dan tidur. Kira-kira pukul 10, kami berada di puncak 2.

Puncak 2 gunung Guntur, dan gunung di belakang kami adalah puncak 3 nya
Perjalanan Turun
Gunung Guntur memang gunung yang agak nyebelin sih menurut saya. Waktu pendakian nya bisa sampai 8 jam. Tapi, begitu turun, hanya perlu waktu 3 jam untuk sampai di pos 3!

Saat perjalanan turun, suami saya mengajak ke jalur yang berbeda dengan jalur naik. Luar biasa, ternyata jalur nya berupa pasir yang jika diinjak maka kita akan langsung merosot. Di satu sisi seru, main perosotan di gunung πŸ˜‚ tapi di sisi lain agak serem juga karena jalur nya benar-benar full pasir dan sangat berbahaya jika ada batu yang ikut terjatuh ke bawah (bahasa sunda nya ngagulutuk, ngagorolong).

Rangkuman Itenaray Perjalanan
Oke, dari cerita panjang lebar saya tentang gunung Guntur ini, berikut adalah rangkuman nya:
Bandung - Garut : 2 jam
Pom Bensin Tanjung - Base Camp gunung Guntur: 20 menit menggunakan kendaraan
Base Camp - Pos Pendaftaran (Pos 3) : 3 jam
Pos Pendaftaran (Pos 3) - Puncak Bayangan : 4 jam
Puncak Bayangan - Puncak 1 : 30 menit
Puncak 1 - Puncak 2 : 1 jam
Puncak 2 - Puncak 3 : 1 jam
Tips Hiking ke Gunung Guntur
Berkaca dari pengalaman, berikut ini beberapa tips yang mungkin bisa sedikit membantu agar pendakian ke gunung Guntur sukses.
  1. Gunakan sepatu gunung yang kuat, aman, dan nyaman di kaki, mengingat jalur gunung Guntur yang dipenuhi bebatuan dan pasir. Saya tidak menyarankan untuk menggunakan sandal.
  2. Mendakilah di pagi hari, untuk menghindari kemungkinan tersesat seperti saya, hehe..
  3. Waktu yang cocok untuk mendaki gunung Guntur adalah saat memasuki musim kemarau, sekitar akhir bulan Juni sampai September. Karena jika mendaki di musim hujan, rawan petir dan ini akan sangat membahayakan.
  4. Perbanyak membawa bekal minuman, karena gunung Guntur sangat gersang, satu-satu nya mata air hanya ada di curug Citiis saja.
  5. Jika tersesat seperti saya, jangan lanjutkan perjalanan ke atas, sebaiknya kembali turun ke titik awal pendakian.

Ternyata Saya Hamil
Seminggu setelah pendakian ini saya merasa agak sedikit aneh. Pertama, nafsu makan saya jadi bertambah, tiap sahur saya selalu makan 2x dari porsi biasanya. Kedua, saat puasa saya merasa sangat-sangat lemas dan sering tak kuat. Ketiga, saya belum juga datang bulan.

Akhirnya saya iseng dan melakukan test pack. Hasilnya positif! Dan setelah periksa ke dokter, ternyata usia kandungan saya sudah 6 minggu. Dan itu berarti, saat saya mendaki gunung Guntur kemarin, saya sedang hamil satu bulan. Pantas saja saya sering merasa kelelahan di jalan.

Luar binasa.

  • Share:

You Might Also Like

38 komentar

  1. keren banget view nya.. pingin kesanaa 😭😭

    ReplyDelete
    Replies
    1. hayu teteeh.. kalau mau ke sana nanti aku anter :)

      Delete
  2. Masya allah tabarakallah indah sekali yaaaa pemandangannya. Wah selamat yaaa kehamilannya, mudah2an sehat selalu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih teteeh.. Alhamdulillah sekarang bayi nya udah keluar, udah satu tahun usia nya. ehehe

      Delete
  3. Subhanallah keren banget keindahan allah ya teh

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya teh :') ini alasan kenapa saya suka jalan2 :D

      Delete
  4. Seru yaaaa. Aku seumur2 kayaknya cuma 2x naik gunung. Alhamdulillah teh.. ikut bahagia.. sehat2 terus ya teh.. aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah bayi nya udah brojol teh hihihi udah satu tahun sekarang :D

      Delete
  5. kalo udah di puncak rasanya kebayar banget cape di perjalanan yang berjam-jam dengan melihat pemandangan sebagu itu ya Teh hehe.. Selamat untuk kehamilannya juga Teh, masih di perut tapi udah ikut mendaki. keren hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener bangeett tehh kaya ga berasa lelah sampai di puncak langsung bahagia :D hehe iya agak khawatir waktu itu, tapi alhamdulillah sekarang bayi nya sehat, udah brojol juga :D

      Delete
  6. Teteh keren banget.. k garut pake motor sempet nyasar tp alhamdulillah gpp yah.. aku sirimk bangeeet ingin bosen mantao mulu.. btw ada penyewaan barang2 perlengkapan naek gunungnya ga teh? Kan peer klo beli dulu

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe akumalah jadi pengen mantai nih.. di Bandung banyak koo tempat sewa alat camping gitu, teteh nya tinggal daerah mana?

      Delete
  7. Ume org garut tp belum pernah naik gunung guntur.. semepet bbrp x ngerencanain tp gagal sampe skrg 😭
    Kyknya setelah liat pemandangan ini harus di paksain deh naik

    ReplyDelete
  8. Waah kayaknya seru banget dan sekaligus bisa refreshing yaa Teh duuh jadi kangen dulu aku juga sering hiking kayak gini hehe

    ReplyDelete
  9. Aku ke papandayan sudah 3x, suka diceritain temen kenapa ga ke Guntur aja padahal lebih deket... Makin makin pengen kesana. Makin terbangun lg birahi menggunungku teh :")

    ReplyDelete
    Replies
    1. wiih udah khatam kayanya sama trek nya Papandayan :D yukyuk ke Guntur :D

      Delete
  10. Seru nih. Pertama (dan terakhir) kalinya naik gunung itu pas ke Papandayan. Liat postingan ini jadi pengen lagi main ke Gunung..

    ReplyDelete
    Replies
    1. wiih udah ke Papandayan juga :D hayu lanjut Guntuur :D

      Delete
  11. Masya Allah..indah banget teh pemandangnnya:" jadi pingin:"

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya teh.. lagi bagus pemandanganya, yukyuk hiking bareng :D

      Delete
  12. wah ini sih Relationship Goals!
    aku mah dari kapan pengen kemping, naik gunung pokoknya kegiatan outdoor sama suami cuma enggak mau terusπŸ˜†
    Seru banget ih teh bisa naik gunung

    ReplyDelete
    Replies
    1. ehehe iya kebetulan aja punya kesukaan yang sama.. yang ga mau teteh nya atau suami teh? kalau suami ga mau, jangan dipaksain teh ehehe

      Delete
  13. Wih seru banget sih teh hiking bareng suami hihi, alhamdulillah sehat ya teh dedek utunnya hebat nih udah ngerasain naik gunung hehe

    ReplyDelete
  14. Wah seru banget yah mendaki gunung gitu. Seumur hidup belum pernah hiking gitu. Pasti rasanya luar biasa bisa lebih dekat dengan alam dan melihat langsung keindahan ciptaan Allah. Masyaa Allah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Luar biasa teh.. Luar biasa capek maksudnya ahaha.. tapi terayar dengan pemandangan nya yang luar biasa juga.. Maasya Allah

      Delete
  15. selalu takjub sama orang-orang yang suka naik gunung keren aja gtu, soalnya aku sendiri blm pernah hiking gak berani hehe..

    ReplyDelete
  16. Aku anak traveller kota, rasanya lihat yg anak hiking gni suka sirik kok staminanya keren banget teeeeh sehat selalu yaaa keep inspiring

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mau ke kota atau ke gunung, tetep harus punya stamina yang strong hehe, aamiin hatur nuhun pisan teteeh

      Delete
  17. Senang ya masih bisa naik gunung huhu aku dah lama bangetttt ga naik gunung nih , jadi kangen.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah masih dikasih kesehatan dan kemampuan teh.. Hayu atuh teh :)

      Delete
  18. Keren pengalamannya, udah mendaki beberapa gunung. Dan lagi hamil pula... Untung gak kenapa2 ya...
    Aku sih paling pernah hiking ke Galunggung itupun jaman SMA, hehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah..

      gunung Galunggung lumayan capek juga ya tehh.. naikin ratusan tangga :D

      Delete
  19. Aku sudah pernah ke Guntur,tapi aku fokus sama kisah perjalanannya terutama sama foto nya so sweet bgt. Meskipun sudah bukan usia muda lagi, tetap woow mantep lah bikin iri. Bisa sama suami gtu muncak nya

    ReplyDelete