Kemping Ceria Gunung Burangrang 2050 MDPL

12:20:00




Katakanlah: "Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS: Al-Ankabut [29]: 20)

Ini adalah pendakian pertama saya setelah menikah, tepat di hari ke-13 setelah pernikahan. Kalau dibilang pendakian edisi honeymoon, sebetulnya bukan juga. Kali ini saya mendaki bersama 8 orang lainnya dari komunitas pecinta alam Ragapala Cimahi. Mereka adalah: Kang Adul bersama kawannya; Kang Ari, Mang Hendi bersama kedua anaknya; Iki dan Widi, dan ketua geng Ragapala A Asep (Otoy) bersama istrinya; Teh Nuni dan anak semata wayangnya; Caca yang masih berumur 5 tahun.

Meeting point di rumah saya, eh maksudnya rumah suami..tepatnya di Ciuyah, Cimahi Utara. Sekitar pukul 9.30 kami ber-sepuluh berangkat menggunakan sepeda motor. Perjalanan menggunakan motor kami akhiri di Eco Pesantren Daarut Tauhid (DT) *betul ngga ya, namanya hehe* yang berada di daerah Komando, Cisarua, kab. Bandung Barat.

Oya, berikut ini beberapa alternatif untuk bisa sampai di kaki gunung Burangrang (jalur Komando):
  1. Menggunakan motor/mobil. Arahkan kendaraan mu menuju Cisarua, lalu ke Komando. Kemudian kita akan melewati tempat wisata Dusun Bambu. Setelah Dusun Bambu, akan ada pertigaan, ambil ke kiri, lalu terus ikuti jalan besar sampai kita menemukan Pesantren dan Asrama Daarut Tauhid. Disini kita bisa menitipkan kendaraan kita dan sudah terjamin keamanannya.
  2. Menggunakan kendaraan umum dari Cimahi: naik angkot yang menuju Pasar Atas, lalu turun di perempatan Citeureup. Lanjutkan menggunakan angkot kuning jurusan Cisarua, turun di Komando.
  3. Menggunakan kereta: turun di stasiun Padalarang. Dari stasiun Padalarang, naik angkot jurusan Cisarua berwarna kuning polet biru, turun di Komando.
Sekitar pukul 10.40 kami memulai pendakian. Dari asrama DT, kami berjalan mengikuti jalan setapak, melalui rimbun rerumputan dan gagahnya jejeran pohon pinus. Jalan yang dilalui masih landai dan bersahabat. Kurang lebih 20menit, kami tiba di Pos I gunung Burangrang.

Titik mula pendakian

Caca si Pendaki Cilik

Setelah istirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan menuju Pos II. Trek dari pos I menuju Pos II menurut saya adalah salah satu trek yang paling sulit selama pendakian menuju puncak Burangrang (tapi ga akan sesulit melupakan sang mantan). Diawali dengan jalanan sedikit menurun, datar, lalu menanjak. Tanjakan makin lama makin curam, sampai kami harus merayap melewati tanjakan berbatu. Setelah melewati tanjakan batu, kita akan menjumpai Pos II. Perjalanan memakan waktu sekitar 1jam dari Pos I.


Pukul 12.30 kami melanjutkan perjalanan. Ibarat lagu, gunung Burangrang memiliki “rima” perjalanan tersendiri. “Rima” yang saya maksud bukan Rima anaknya bu RT, apalagi istrinya Pak Somad (haha naon sih geje). Rima yang dimaksud yaitu tipikal medan yang ditempuh dari masing-masing Pos nya. Jalan menuju puncak Burangrang memiliki “rima” medan yang sama dari mulai lahan datar di setiap pos, lalu jalanan menurun, sedikit mendatar, kemudian menanjak. Setelah medan yang menanjak kita akan menemui pos berikutnya. Begitu seterusnya sampai puncak.

Perjalanan dari masing-masing pos kurang lebih 30-40menit. Total perjalanan hampir 4jam dari mulai start pendakian hingga puncak.

Selanjutnya, biarkan foto yang berbicara. Karena menurut pepatah, satu gambar menunjukkan berjuta kata.. :)
Cekidot Coy!

Istirahat di Pos II
Santai walau bukan anak pantai..
Menuju Pos III
Caca Marica heyhey
Burangrang berselimut kabut, perjalanan dari Pos V menuju puncak
Yep, tanjakan terakhir menuju puncak :)
Yeee Puncaaak



Sampai puncak, langsung diguyur hujan. Setelah reda..mari kita siduru..biar haneut :)
 

Abaikan

Abaikan
Boy Band Ciuyah :p

Lensa terbaik memang mata.. :)
Bangun tidur ku terus selpiii :D
Indah ya..

Doakan kami segera punya yang beginian.. :3


Ragapala Indonesia

Sangat disayangkan, hari itu cuaca sangat mendung-kung sekali. Sunset dan sunrise yang ditunggu tak kunjung hadir. Kami pun tak bisa berlama-lama di luar tenda untuk sekedar bercengkrama dengan sesama, karena hujan terus mengguyur semalaman. 

Tau ga kenapa cuaca nya mendung??
Karena.. Cerahnya ada di hati kaamuuu...
Ea.

Ahad, 21 Februari 2016 pukul 09.00 kami bergegas merapikan tenda, packing perlengkapan, dan tidak lupa sampahnya dibereskan. Tiga puluh menit kemudian, kami bergegas pulang.

Daah Burangrang.. Kalau nanti saya ke sini lagi, semoga cuaca nya cerah ya :)

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar