Camping Cantik Ceria (CCC) ke Gunung Putri Lembang Bandung Bersama Anak-Anak

camping bersama keluarga

Hampir 3 tahun lamanya semenjak saya hamil anak ke-dua, saya vakum dari dunia per-camping-an. Selain karena hamil, juga karena pandemi. Hal ini membuat langkah kami terhenti untuk kembali menggelar tenda dan bermalam di hutan.

Tahun ini, anak kami yang ke-dua berusia 2 tahun. Suami mengajak kami untuk kembali menikmati suara binatang malam dan wanginya pohon pinus di pegunungan.

Sejujurnya saya pun agak ragu awalnya, karena Maryam, anak ke-dua kami, masih menyusu dan masih sering terbangun di malam hari untuk menyusu. Tapi karena kali ini suami yang mengajak, saya iya kan saja.

Gunung Putri jadi tujuan kami untuk berkemah. Banyak faktor yang membuat pilihan kami jatuh ke sini.

Pertama, karena kami pernah ke Gunung Putri sebelumnya. Dan menurut kami, medan menuju Gunung Putri sangat kids friendly. Trekking pun hanya memerlukan waktu 10-15 menit saja.

Ke-dua. Gunung ini memiliki pemandangan yang indah di malam hari berupa city light dan pemandangan lautan awan di pagi hari. Pemandangan ini yang ingin kami buru.

Persiapan dan Keberangkatan

Biasanya, kami sudah mulai packing di malam sebelum kami berangkat. Namun jarak Gunung Putri dari tempat tinggal kami tidak terlalu jauh, sekitar 1 jam saja menggunakan motor. Jadi kami mulai packing di Sabtu pagi.

Target kami maksimal jam 2 siang sudah ada di pintu masuk Gunung Putri. Kami masih punya banyak waktu untuk berkemas.

packing naik gunung


Fokus saya saat packing, bagaimana caranya agar anak-anak tidak kedinginan selama tidur di tenda. Jadi saya bawakan sleeping bag yang tebal, jaket yang tebal, dan baju ganti plus kaos kaki dan sarung tangan yang tebal.

Dan karena sekarang sudah memasuki musim hujan, saya pastikan suami untuk membawa fly sheet tambahan agar tenda makin terlindungi dari air hujan. Pokoknya saat itu saya sangat well prepared deh!

Alhasil, yang tadinya bayangan saya, 1 tas carrier saja cukup untuk membawa semua, ternyata tidak. Ujung-ujungnya kami harus membawa 2 carrier juga.

Singkat cerita, setelah semuanya siap, kami berangkat menggunakan 2 motor.

carrier eiger


Cimahi - Gunung Putri Lembang

Keputusan suami untuk menggunakan motor ada untungnya juga. Mungkin karena saat itu tanggal merah, kondisi jalan pun ikut me-merah, alias macet sepanjang jalan.

Lama perjalanan yang seharusnya 1 jam sampai, jadi bertambah durasinya sekitar setengah jam karena macet. Tapi setidaknya kami bersyukur karena kalau menggunakan mobil, kami tak bisa bayangkan akan sampai jam berapa. Bersyukurnya lagi karena semesta mendukung, meski langit mendung tapi hujan tak turun sampai kami tiba di tujuan.

Oh ya bagi yang ingin pergi juga ke Gunung Putri Lembang, kalian bisa mengikuti petunjuk ini:

  • Dari arah pusat Kota Bandung, arahkan kendaraan menuju Alun-Alun Lembang
  • Dari Alun-Alun Lembang ikuti jalan yang mengarah ke Tangkuban Perahu
  • Sekitar 10 menit dari Alun-Alun Lembang, patokannya ada Alfamart di sebelah kiri, lalu ada jalan masuk ke kiri dengan tanda papan bertuliskan "Penginapan OSMOND", kalian masuk ke jalan itu
  • Ikuti jalan itu sampai akhirnya berujung di pintu masuk Gunung Putri

Trekking Gunung Putri Lembang

Sekitar pukul 2 siang kami tiba di pintu masuk Gunung Putri. Suami lalu membeli tiket untuk berkemah. Harganya masih terbilang wajar, hanya Rp 22.000,- per malam per orang.

Selagi cuaca masih cerah, kami langsung melakukan trekking. Tapi bisa dibilang, ini bukan trekking sih, lebih ke jalan-jalan cantik karena jalannya sudah diberi paving block. Bedanya, medan jalannya lumayan menanjak saja.

Anak-anak juga saya biarkan jalan sendiri. Si sulung memang anaknya kinestetik sekali, jadi trekking seperti ini bagi dia tak masalah. Ditambah lagi, dia tidak membawa tas, hanya menjinjing matras saja.

trekking gunung putri


Tapi bagi Maryam, namanya juga masih batita. Di tengah perjalanan dia minta digendong. Jalannya pun tak mulus. Dia sering terdistraksi dengan berbagai hal. Entah itu dengan pagar, dengan pohon, bahkan dengan batu.

Jika pada orang normal biasanya diperlukan trekking hanya 10-15 menit saja, kami jadi perlu waktu sekitar 30 menit untuk sampai camp area.

Tips camping bersama anak


Mendirikan Tenda

Sebetulnya tempat yang paling cocok untuk mendirikan tenda itu di bagian pinggir, agar saat membuka tenda di pagi hari, kami bisa langsung melihat pemandangan sunrise dan lautan awan. Tapi rasanya tak mungkin ya, terlalu besar resikonya jika harus mendirikan tenda di dekat jurang saat berkemah bersama anak-anak.

Sehingga pertimbangan saya saat itu ada dua; lokasinya harus di tengah-tengah hutan dan dekat dengan kamar mandi.

Tak lama, kami akhirnya menemukan tempat yang cocok. Tak banyak kata, kami langsung membongkar isi carrier dan mendirikan tenda.

naik gunung bersama anak


Menikmati Hutan Pinus Gunung Putri

Tenda sudah berdiri. Saatnya berbenah bagian dalam. Anak-anak sudah mulai tak kondusif karena sepertinya mereka bosan saat menunggu orangtuanya mendirikan tenda.

Akhirnya saya menemani anak-anak untuk berjalan dan bermain di tengah hutan pinus. Sementara itu, suami berbenah bagian dalam tenda dan membentangkan flysheet tambahan agar kami makin terlindungi jika hujan turun.

Ah, saya melihat langit semakin gelap. Satu hal lagi yang harus dipikirkan ketika berkemah saat musim hujan adalah membuat parit! Akhirnya supaya tak bosan, saya mengajak anak-anak untuk menggali parit di sekitar tenda.

Hujan dan Badai Petir di Malam Hari

Menjelang magrib, hujan mulai turun. Kami segera memasuki tenda. Keadaan nampak baik-baik saja awalnya. Namun tak lama, hujan semakin deras. Air yang turun dari atas puncak semakin besar. Parit yang kami buat ternyata lebarnya terlalu kecil, tidak dapat menampung air yang mengalir dari atas.

Beruntung suami sangat sigap. Di tengah hujan yang deras beliau keluar untuk menggali parit agar semakin dalam dan tidak membanjiri tenda. Alhamdulillah karena kesigapannya, tenda kami masih aman dari banjir.

Hujan mulai mereda, tapi petir terdengar saling bersahutan. Ada satu momen dimana petir itu seperti menyambar sesuatu dan suaranya sangat kencang hingga anak-anak menangis ketakutan.

Lalu suami saya berkata kepada anak-anak, "Jangan takut, kan ada mamah di dalem"

Padahal saya juga sama, kaget dan gemeteran 😂

Istirahat yang Terganggu, Daging Ayam Digondol Anjing

Menjelang isya hujan dan petir sudah benar-benar reda. Suami memasak untuk makan malam. Sementara suami memasak, saya mengganti pakaian anak-anak.

Selepas makan malam, saya mengajak anak-anak tidur.

Malam itu, kami apes. Tenda kami bersebelahan persis dengan sekelompok muda-mudi. Selepas hujan mereka mengobrol dan bernyanyi-nyanyi sepanjang malam. Sungguh sangat mengganggu, karena mereka baru hening sekitar jam 3 subuh.

Beruntung anak-anak tidak rewel.

Di tengah malam, saya pergi ke kamar mandi lalu tak sengaja saya melihat pemandangan sekitar. Masya Allah, indaaah sekali!

city light bandung

berkemah


Rasanya ingin menikmati pemandangan ini di luar bersama suami namun tak mungkin. Kami tak bisa berlama-lama di luar karena ada anak-anak di tenda yang harus dijaga. Saya kembali ke tenda untuk tidur.

Di tengah tidur, saya mendengar suara kresek-kresek di dekat tenda. Begitu saya intip, ternyata ada seekor anjing yang berusaha mencuri makanan kami.

Sepertinya suami lupa mengamankan makanan di luar tenda. Alhasil, si anjing berhasil menggondol kantong keresek yang berisi 4 buah daging ayam krispi. Padahal rencananya, daging ayam itu akan jadi santapan kami untuk sarapan.

Hikmah di Balik Badai Hujan dan Petir

Azan subuh membangunkan saya dari mimpi. Sebelum banyak yang mengantri, saya bergegas ke kamar mandi untuk buang air dan berwudhu.

Selepas sholat subuh, saya berkeliling melihat pemandangan. Masya Allah, benar-benar bonus! Saya bisa melihat pemandangan lautan awan dan sinar jingga dari proses terbitnya matahari.

Hujan yang mengguyur semalam, ternyata malah memberikan pemandangan indah di pagi hari. Satu hal yang sangat saya syukuri. Pemandangan ini pun lumayan bertahan lama, mulai dari subuh hingga sekitar pukul 7 pagi.

sunrise di puncak gunung


Tak lama anak-anak terbangun. Suami lalu menyiapkan sarapan. Untunglah kami masih mempunyai sisa mie instan dan beberapa makanan ringan.

Selesai sarapan, kami berempat berjalan menuju ke puncak Gunung Putri.

Gunung Putri yang Berkesan

Kami menikmati pemandangan di puncak sekitar 30 menit. Selepas itu, kami lalu kembali ke tenda dan lekas berbenah.

Kami harus pulang sebelum hujan datang, mengingat kami ke sini menggunakan motor.

Tapi namanya juga bawa anak-anak, gerakan kami tidak secepat jika berkemah sendiri. Namun tak apa, yang penting anak-anak enjoy berada di alam.

Sekitar pukul 10, saya dan suami sudah menggendong carrier dan bergegas menuruni Gunung Putri.

Good Bye Gunung Putri, kapan-kapan, kami ingin kemari lagi. Target kami nanti bukan hanya sampai puncak, tapi ingin mengeksplor lagi ke sebuah bangunan peninggalan jaman Belanda yang letaknya ada di tengah hutan gunung ini.

Related Posts

1 comment

  1. Aww.. seru sekaliiii. Camping nuh jadi salah satu wishlist aku dan suamik nih mbak. Semoga bisa kesampaian, aamiin.. pengen juga liat sunrise yg Masyaallah itu.. hihi..

    ReplyDelete

Post a Comment