Cerita Tentang Kampung Dukuh



Mungkin banyak orang yang sudah tau tentang beberapa kampung adat di pulau Jawa seperti Kampung Naga di Tasikmalaya, atau Kampung Baduy di daerah Banten. Kedua kampung ini memiliki persamaan, yaitu kuatnya adat yang mengakar dan menjadi aturan hidup mereka sehari-hari.

Tapi, ada ga yang perna mendengar tentang kampung Dukuh di daerah Garut, Jawa Barat?

Bisa jadi ada yang sudah tahu, atau bahkan ada yang baru mendengar namanya saat membaca artikel ini.

Nah, kali ini saya ingin bercerita tentang keunikan dari Kampung Adat Dukuh di sini. Awalnya karena saya diingatkan oleh facebook tentang memori 12 tahun lalu. Saat itu, saya masih duduk di bangku kelas 2 SMA. Kami melakukan research project atau penelitian ke kampung adat Dukuh, Garut.

Tapii..karena ini memori 12 tahun yang lalu, dan hasil dokumentasi foto milik saya juga entah dimana, jadi saya akan bercerita seingatnya saya saja ya, hehehe.
Kampung Dukuh

Letak Kampung Adat Dukuh Garut



Kampung Dukuh terletak di daerah Garut Selatan, tepatnya di kecamatan Cikelet, Garut. Letak kampung Dukuh ini lumayan terpencil dan cukup jauh dari pusat kabupaten Garut, kurang lebih 100km jauhnya.

Untuk menuju kampung Dukuh, saya sarankan untuk membawa kendaraan pribadi dengan kondisi yang sangat prima, karena medan jalan nya masih berbatu dan menanjak.

Dulu, karena ini adalah program dari sekolah, saya difasilitasi kendaraan dari pihak sekolah. Itu pun hanya diantar sampai daerah pantai Sayangheulang, karena teman saya yang lain ada yang melakukan penelitian di pantai ini.

Di Sayangheulang, kami menginap di rumah warga yang kami sewa. Lalu di hari ke-2 barulah kami menuju kampung Dukuh. Coba tebak kendaraan apa yang kami naiki?

Truk pengangkut pasir! Seru sih. Ini bukan pengalaman pertama saya menggunakan truk pengangkut pasir sebetulnya, tapi yang bikin seru itu saat truk mulai melewati jalan yang menanjak dan berbatu.

Sensasi nya seperti naik wahana di Dufan tapi versi murah meriah. Mehehe.

Oh ya ada juga ojeg yang siap mengantar menuju kampung Dukuh, tapi cukup mahal. Dulu saja, tahun 2009, harganya sudah 50 ribu. Entah sekarang.


Adat Istiadat di Kampung Dukuh



Hampir sama seperti kebanyakan kampung adat lainnya, kampung Dukuh juga memiliki 2 wilayah yaitu: kampung Dukuh Luar dan kampung Dukuh Dalam. Keduanya hanya dibatasi oleh sebuah pagar dari kayu, tapi nuansa ketika berada di kampuing Dukuh Luar dan kampung Dukuh Dalam sangat berbeda.

Seluruh penduduk kampung Dukuh beragama Islam. Selain aturan agama, di sini juga ada beberapa aturan adat yang cukup mengikat dan menjadi salah satu aturan hidup mereka. Saya tidak hafal semua, ini hanya beberapa yang saya ingat:

- Tidak boleh menggunakan barang-barang elektronik

- Tidak boleh duduk selonjoran atau tidur menghadap makam leluhur

- Laki-laki dan perempuan tidak boleh berdekatan

- Tidak boleh berpacaran

- Tidak boleh makan sambil berdiri

- Pintu rumah harus menghadap timur atau barat



Sebetulnya masih banyak lagi aturan adat lainnya. Sayang sekali catatan saya mengenai hal ini sudah hilang.

Penduduk kampung Dukuh harus mengikuti semua aturan adat ini. Jika tidak, mereka meyakini akan adanya sesuatu yang buruk yang menimpa jika mereka melanggar.

Namun, ketika saya mengunjungi kampung ini, ada beberapa aturan yang dilanggar oleh penduduk kampung Dukuh Luar. Salah satunya adalah penggunaan barang-berang elektronik. Rata-rata, penduduk kampung Dukuh Luar sudah memiliki setidaknya 1 barang elektronik seperti TV, radio, atau telepon seluler.

Cerita Seru Saat Ziarah ke Makam Karomah



Di kampung Dukuh, ada makam leluhur yang dikeramatkan oleh penduduk di sini. Letaknya ada di area kampung Dukuh Dalam. Siapa saja boleh berziarah ke makam ini, kecuali orang yang sedang berpacaran atau bertunangan, dan aparatur sipil negara alias ASN / PNS.

Mengenai larangan PNS tidak boleh berziarah konon ada sejarahnya. Menurut cerita yang saya dengar, dulu itu leluhur di kampung Dukuh pernah dikhianati oleh salah satu petinggi negara / pejabat (saya kurang paham siapa tepatnya). Akhirnya mereka marah dan merasa sakit hati. Sehingga, siapapun yang berkaitan dengan pemegang jabatan di pemerintah, termasuk PNS, dilarang berziarah ke makam karomah di sini.

Untuk berziarah pun, ada aturannya. Sebelum berziarah, kita harus mandi dulu menggunakan air yang sudah dido'akan oleh ketua adat di sini. Tata cara mandinya mirip seperti mandi besar. Selain dido'akan, air yang digunakan untuk mandi pun diberi bunga-bungaan. Pikir saya waktu itu, ya biar wangi saja.


Satu lagi, ada aturan mengenai pakaian saat berziarah. Kita dilarang menggunakan pakaian yang cerah dan bermotif, jadi saya menggunakan pakaian khusus yang disediakan di ini. Atasan baju berkancing warna hitam, bawahan samping, dan kerudung berwarna coklat.

Sssstt.. kita juga dilarang menggunakan alas kaki dan pakaian dalam!

Hihihi.
Baju ziarah kampung dukuh
Hayoo mana guru mana murid? Hehe




Asli, saya takut sekaligus grogi. Tapi saya yakin sih, pakaian yang saya pakai cukup menutupi aurat dan ga transparan. Cuma yaa tetep ajaa kalau ga pake daleman tuh berasa adem adem gimanaaa gitu wkwkwk.

Jarak dari rumah ketua adat ke makam itu lumayan dekat sih. Hanya, karena saya ga pake alas kaki, saya takut tiseureuleu, tisoledat, dan tijengkang karena jalannya masih berupa tanah merah yang licin.

Saat berziarah, ada kuncen di sini yang memimpin do'a. Tapi sayangnya, suaranya kurang terdengar karena antara laki-laki dan perempuan tidak boleh berdekatan. Jadi saya hanya membaca yang saya hafal saja, seperti zikir, surat Al-Fatihah, dan ayat-ayat lain yang biasa saya baca saat berziarah ke makam almarhum kakek nenek saya.

Kampung Adat Dukuh, Akankah Terus Ada?



Melihat kondisi sekarang dimana teknologi semakin berkembang dan canggih, saya jadi bertanya-tanya dalam hati. Akankah perubahan zaman ini akan menggeser nilai-nilai budaya yang ada di kampung Dukuh?

Lalu, saya teringat, saya pernah mewawancarai seorang anak di kampung Dukuh Luar. Dia bilang, untuk bersekolah saja, dia harus menempuh jarak lebih dari 5 Km dengan berjalan kaki. Lalu, melihat kondisi sekarang dimana pemerintah menerapkan sistem pembelajaran daring, bagaimana dengan nasib anak-anak di sini?

Akankah kemajuan teknologi merubah pola kehidupan di Kampung Dukuh? Atau justru kampung Dukuh akan tetap setia dengan adat istiadatnya?

Related Posts

24 comments

  1. ya ampun yang bagian tata cara ziarah makan karomah itu ya, memang mesti dihormati kearifan lokal termasuk di Kampung Dukuh ini...di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Semoga masih lestari apa yang ditradisikan di kampung ini

    ReplyDelete
  2. Aturannya luar biasa, ya
    - Tidak boleh menggunakan barang-barang elektronik
    - Tidak boleh duduk selonjoran atau tidur menghadap makam leluhur
    - Laki-laki dan perempuan tidak boleh berdekatan
    - Tidak boleh berpacaran
    - Tidak boleh makan sambil berdiri

    Menarik juga nih kebijakan di Kampung Dukuh, Garut Selatan

    Sepertinya perlu diagendakan kapan2 berkunjung ke sini.

    ReplyDelete
  3. Waah ada Kampung Dukuh y. Yang banyak diekspos kan orang Baduy ya. Kampung Dukuh ini baru saya ketahui melalui tulisan ini. Seru deh ... membayangkan naik wahana di Dufan tapi versi murah meriah :D

    Terus ga boleh pakai pakaian dalam .. terus kalau haid bijimane caranye?

    ReplyDelete
  4. aku pernah mendengar Kampung Dukuh ini, ada teman yang tinggal dekat di sana cuma belom pernah mampir hannya mendapatkan ceritanya saja.
    Tapi keknya menurutku, bakalan tetep dengan tradisi yang ada seiring dengan kemajuan teknologi jaman now.
    Insyaallah peminatnya ada terus apalagi bagi mereka yang suka dengan wissata sejarah dan budaya.
    Hayu kita wisata ke sana Fifaah.

    ReplyDelete
  5. aku juga berharap berbagai kearifan lokal dan kekayaan budaya kita bisa terus dipelihara dengan baik yaaa mba

    ReplyDelete
  6. Semoga kondisi jalan menuju kampung dukuh bisa diperbaiki ya. Sayang banget kalo sampe sekarang masih rusak. Kalo adat saat ziarah, hahah..aku mungkin gak ikutan deh. Cukup liat² di luar aja. Ngebayangin harus pake baju khusus tanpa underwear uuuww... Geli.

    ReplyDelete
  7. Sekilas tampak seperti Kampung Badui, ada Badui dalam dan Badui Luar. Bedanya, Kampung Dukuh dihuni oleh masyarakat yang sudah beragama Islam, sedangkan Badui menganut aliran kepercayaan. Mereka tidak Islam tapi melakukan beberapa ritual seperti dalam Islam. Bahkan, ada yang tidak berTUHAN. Melihat penampakan Kampung DUkuh yang terpencil, memang mengingatkan pada Badui Dalam. Saya jadi kangen berpetualang ke kampung-kampung seperti Kampung Dukuh ini.

    ReplyDelete
  8. Terpencil gitu ya mbak, jauh banget jaraknya dari ibukota kabupaten, sampai 100 km.

    Duh saya yang ASN ini nggak bisa ziarah ke sadan dong ya.

    ReplyDelete
  9. Wah baru tahu nih saya tentang kampung Dukuh. Sebenernya apakah daerahnya segitu dalemnya dari "perkotaan" sih mba? lalu desanya sendiri sebesar apa ya?
    karena melihat aturan2 yang ada di sana, wih luar biasa ya.

    apalagi ada anak2 juga kan yg bersekolah. malah saya bertanya2 tentang sistem pendidikannya seperti apa>

    btw untuk ke makam itu yg tanpa dalaman dan bajunya harus dari sana ya? kalau bawa sendiri yg hitam2 gitu tetap ga bisa? malu juga ey jalan di luar tanpa dalaman dan ada banyak orang yg "kita ga kenal"

    tapi memang adat ini menyenangkan ya. banyak sekali adat budaya di Indonesia yg harus dipelajari dan dihormati :)

    ReplyDelete
  10. Saya baru tau tentang Kampung Dukuh. Semoga aja adat istiadat di kampung ini tetap ada, ya. Meski pun sekarang udah zaman teknologi. Tetapi, jangan sampai tergerus adat istiadatnya. Apalagi beberapa peraturannya memang bagus

    ReplyDelete
  11. Tapi aku suka deh dengan begini kita jadi belajar tentang budaya yang mana memang harus diketahui dan jangan sampai dilupakan ya mbak. Kebijakan-kebijakannya masih dipertahankan juga ya sampai sekarang ini mbak?

    ReplyDelete
  12. Seru ya maen ke sana. Aturannya challenging, nih. Kalau sekarang ke sana bawa hp itu boleh ga, sih? Dan gimana kalau lagi mens. Kan kebayang ga boleh pake pakaian dalam gitu

    ReplyDelete
  13. SOP untuk ziarah makam Karomah cukup unik ya Mbak, ASN gak bisa ziarah ke sana.

    Oia,melihat beberapa tata tertib di Kampung Adat dukuh (gak boleh menggunakan peralatan elektronik, auto ngebayangi betapa damai suasana di KAmpung Adat dukuh di Garut ini.

    ReplyDelete
  14. Whoaaa sensi sama ASN PNS yak. Hmm berarti gubenur, bupati, bahkan presiden enggak boleh berziarah ke sana?

    Trus aturannya menarik juga sampai pakaian juga diatur. Berhubung jadi tamu ya hormati adat mereka.

    ReplyDelete
  15. setiap daerah punya aturannya sendiri-sendiri ya mak, baru tau nih kalo di kampung dukuh ini juga begitu. Aturan ziarahnya pun bukan main. Semoga bisa selalu lestari dan tidak hilang ditelan zaman

    ReplyDelete
  16. Bener yaa...
    Aku bacanya juga jadi agak grogi ketika harus melakukan hal-hal di luar kebiasaan.

    Tapi namanya adat, kudu dijunjung tinggi layaknya dimana bumi dipijak.

    ReplyDelete
  17. wah aku baru dengar tentang kampung dukuh ini mbak
    kearifan lokal yang dimiliki kampung dukuh ini sangat menarik ya mbak
    semoga masyarakatnya tetap menjunjung tinggi nilai nilai kearifan lokal ini

    ReplyDelete
  18. Jadi tahu ada kampung dukuh di sana. Kalo di sini udah kita sih ya. Jadi baca ini jadi pengalaman tersednriri buat aku mbak. Makasih banyaak

    ReplyDelete
  19. Hampir mirip baduy ya mba jadi penasaran deh mau ke kampung Dukuh yg di daerah Garut, ternyata masih ada pelosok dn adat istiadat lamaa ya

    ReplyDelete
  20. Aku tahu Kampung Dukuh itu cuma dari pelajaran Basa Sunda aja dulu pas SMP. Kagum banget dengan mereka yang memegang teguh adat. Iya juga ya, mereka sekarang gimana? Jadi kepengen tahu deh. Nyari infonya di internet deh, semoga bisa ada yang update.

    ReplyDelete
  21. ziarah ini jadi tahu banyak budaya ya mak
    tapi beneran ga pake daleman awww
    aku belum pernah ziarah gini mak waktunya belum ada
    tapi pengen juga ikutan

    ReplyDelete
  22. Semoga sampai kapanpun Kampung Adat Dukuh ini tetap ada. Sedih dan miris juga euy kalau dengar berita satu per satu kampung adat tuh udah gak ada. Huhuhu.. Padahal kan..itu salah satu kekayaan sekaligus warisan sejarah yaa

    ReplyDelete
  23. Kampung adat gini nih walaupun terisolasi dari teknologi, tapi kekeluargaan dan kedamaiannya tuh kayanya dapeeeet banget ya maaak

    ReplyDelete
  24. Ga boleh ada elektronik apakah termasuk hp mbak? Huaa serem yang ga boleh pake pakaian dalam. Jadi gimana gitu lah perasaan nya. Apalagi perempuan. Jadi penasaran pingin ke sana juga. Tapi ramean

    ReplyDelete

Post a Comment