Sebelum Keputusan Besar Itu Aku Ambil - Afifah Haq
News Update
Loading...

Friday, 29 March 2019

Sebelum Keputusan Besar Itu Aku Ambil

Orang-orang bilang, bukan hidup namanya jika tidak ada satu keputusan besar yang harus kita ambil.Ya, kadang hidup selalu menghadiahkan kita sesuatu yang harus kita pilih.

Di artikel ini mungkin saya akan lebih banyak curhat. Jadi, silahkan ambil yang baik-baik nya saja ya, dan jika ada kesalahan, saya memohon maaf. Oh ya, artikel ini juga merupakan artikel kolaborasi bersama teman-teman Bandung Hijab Blogger. (Hore! akhirnya collab lagi)


RESIGN, mungkin itu adalah salah satu keputusan besar yang akan saya ambil selama hidup. Jujur saja, resign adalah hal tersulit yang harus saya lakukan. Pekerjaan yang saya tekuni saat ini sesuai dengan jurusan yang saya ambil saat kuliah, sehingga saya selalu berpendapat bahwa alasan saya masih bekerja adalah untuk menyalurkan ilmu yang sudah saya dapat semasa kuliah.

Terlebih lagi, lingkungan tempat saya bekerja sudah sangat nyaman. Dulu saya pernah berdo'a agar bisa bekerja di tempat kerja yang mayoritas se-iman, karena dulu saya pernah merasakan magang di tempat kerja yang mayoritas nya adalah non muslim. Sebenarnya bukan karena agamanya, tapi lebih ke suasana lingkungannya, terutama dalam hal ibadah, saya merasa tidak punya 'teman' untuk beribadah bersama. Dan ketika saya bekerja di tempat ini, saya merasa do'a saya terkabul, karena di sini lingkungannya sangat islami.

Alasan lain yang membuat saya berat untuk meninggalkan pekerjaan adalah, di sini sudah seperti zona nyaman bagi saya. Tidak ada istilah saling sikut antar karyawan, jarang sekali terjadi konflik, malah kebalikannya, semua orang di sini justru saling mendukung. Saya juga lebih mudah beradaptasi di sini, baik dengan orang-orangnya maupun dengan pekerjaannya. Ditambah lagi, saya bekerja di bidang renewable energy atau energi terbarukan, dimana perusahaan di bidang ini bisa dibilang baru, dan di Bandung hanya ada beberapa. Sehingga banyak sekali pengetahuan baru yang saya dapatkan dari bidang pekerjaan saya ini.

Waktu saya nikah, semuanya dateng barengan bawa rombongan, terharu akutuu
Alasan Resign

Cepat atau lambat, saya kelak akan resign juga. Entah kapan, tapi saya harus mengambil keputusan itu. Bukan karena idealis bahwa perempuan itu semestinya di rumah, mengurus keluarga dan segala hal yang berhubungan dengan rumah, bukan, bukan karena itu.

Tapi hal yang paling utama adalah karena kondisi fisik saya yang sudah tidak se-kuat dulu. Jika semasa kuliah saya masih kuat motor-motoran dari Ciwastra ke Dago setiap hari, pergi sunrise pulang sunset, ditambah bonus ban bochor, rantai motor putus, dan busi kerendem banjir. Namun sekarang, saya rasanya sudah sangat capek sekali setiap hari harus bulak-balik Ciwastra-Dago yang jika ditotalkan jaraknya nyaris 40 KM pulang-pergi. (Saya kuliah di daerah Dago, dan kerja  di daerah Dago juga).

Faktor U. Hehehe. Masalahnya ketika saya capek, maka saya tidak bisa maksimal dalam mengerjakan tugas. Imbasnya adalah target pekerjaan yang molor dari waktu yang seharusnya.

Alasan kedua adalah karena anak. Selama saya bekerja, saya titipkan anak bersama orangtua. Maaf, bukannya durhaka atau mau merepotkan mereka. Tapi, saya trauma menitipkan anak ke orang lain. Saya pernah menitipkan anak di Daycare, baru 2 hari, anak saya sudah dapat oleh-oleh luka memar di hampir sepanjang lengan kiri nya. Sedih kan. Karenanya, saya lebih baik menitipkan anak ke orang yang se-darah dengan saya. Tapi, saya juga tidak bisa terus-terusan menitipkan anak ke kakek-nenek nya, walaupun sebenarnya mereka tidak keberatan dan masih sanggup mengasuh.

Suatu hari nanti, anak saya akan sekolah, akan memasuki fase-fase baru dalam hidupnya. Saya ingin sebagai ibu bisa mendampingi anak sepenuhnya.

Tapi, Sebelum Resign...

Banyak hal-hal yang harus saya persiapkan terlebih dahulu sebelum resign. Semenjak menikah, saya jadi orang yang selalu terencana dalam segala hal. Saya tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan ini tanpa rencana yang matang.

Pertama, saya harus meningkatkan performa kerja saya terlebih dahulu. Ya, ibaratnya, saya ingin meninggalkan kantor ini dengan kesan yang baik, sehingga orang-orang di sini akan merasa kehilangan dan akan selalu merindukan saya 😋😋😋. Engga deng.


Kedua, saya harus mempersiapkan hal-hal yang bisa saya kerjakan walau saya sudah resign dari kantor. Sekarang, saya sedang kukumpul untuk modal usaha. Sehingga, walaupun ga ngantor, saya masih tetap bisa berkarya dari rumah. Saya ingin tetap produktif. Do'akan ya.

Ketiga, menyiapkan mental. Mungkin nih, mungkin ya, saya nanti akan merasakan perubahan pola hidup. Dari yang biasanya sibuk pergi pagi pulang petang, nanti saya akan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Dan yang makin bikin mental drop sih, nantinya ga akan ada lagi transferan rutin awal bulan, dan juga bonus di awal tahun. Haha.

Jadi, Kapan Atuh Resign?

Saya belum tahu secara pasti. Tapi, target saya selambat-lambatnya adalah ketika anak saya memasuki usia SD.

Doakan ya, semoga saya bisa menghadapi salah satu keputusan besar dalam hidup saya ini dengan hati yang lapang dan minim penyesalan.

Share with your friends

14 comments

  1. Hihi, ceritanya mirip sama aku teh. Cuma ending nya beda sedikit...:D

    ReplyDelete
  2. Semangaaat teteh apapun keputusannya semoga selalu ada dlm ridha Allah aamiin

    ReplyDelete
  3. Bener teh. Aku jg mengalami kerja di lingkungan dmn aku satu2nya yg muslim. Biasanya tim suka ngadain meeting di jam jam sholat. Pasti dikasih izin sih cm rasanya beda aja.

    ReplyDelete
  4. Harus dipersiapkan dgn matang ya teeh:)

    Ouhh teteh di renewable energy teh? Apa nama perusahaanya kl boleh tau...

    Si adek jurusannya energi, dia bilang pinginnya ke arah renewable siapa tau bisa main kesana:)

    ReplyDelete
  5. Semoga bisa terjawab melalui istikharah ya,teh..be brave to take new steps.. Semoga dimudahkan rencana2nyaa

    ReplyDelete
  6. Mudah mudahan diberikan jalan kemudahan untuk segala urusan ya teh :)

    ReplyDelete
  7. InsyaAllah srlalu dikasih petunjuk jalan terbaik dari Allah... Aamiin

    ReplyDelete
  8. Teteh untuk waktu resignnya akan ada "sign" yang dikirimNya percaya deh karena itu yang aku rasakan wkwkwk..

    semangat yah

    ReplyDelete
  9. aku juga sama sih teh pas resign itu mikir udah kekumpul belum modal usaha, ada pola-pola hidup yang berubah termasuk transgeran di akhir bulan kalau aku, cuma tekadku bulat kala itu akhirnya aku resign deh hehehe

    ReplyDelete
  10. Semangadd yaa Teh, In Shaa Allah ada jalannya...aq pun sebelum nikah resign dr kerjaan, 😁

    ReplyDelete
  11. InsyaAllah selalu ada jalan terbaik selama melibatkanNya teh. Semangat

    ReplyDelete
  12. semangat teh, ini cita-cita aku juga teh, semoga kita berdua diberikan kemudahan ya Teh, bisa tetap berkarya tapi gak full seharian ninggalin anak..aamiin :)

    ReplyDelete
  13. Hehe buat menguatkan resignnya bisa baca buku antologi aku nih resign why not. Hehe kok jadi promosi hehe. Semangat yah teh

    ReplyDelete
  14. Resign untuk seorang ibu itu emmang pilihan yang dilematis ya. Tapi apapun keputusannya semoga yang terbaik!

    ReplyDelete

Hai, terimakasih sudah berkunjung. Maaf komentarnya aku moderasi. Jangan beri komentar anonim atau menyantumkan link hidup ya, karena akan otomatis terhapus ^^

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done