Cerita Tektok Gunung Burangrang: Puncak Hanya Bonus, Keselamatan Anak Nomor 1

trek gunung burangrang

Trip kali ini sudah saya rencanakan sejak bulan puasa lalu. Melihat kalender, ada 3 tanggal merah yang berderet, saya jadi sumringah. Libur panjang lagi nih setelah lebaran. Saya jadi tergoda untuk merencanakan perjalanan bersama anak-anak.

Berhubung (biasanya) kondisi keuangan selepas lebaran itu juga ikut kembali ke fitri, saya harus merencanakan kegiatan liburan yang seru, tapi juga dengan budget se-fitri mungkin.

Kalau sudah begini, otomatis pilihan kegiatan liburan kali ini kembali melakukan kegiatan daki mendaki alias membuat daki.

Pilihan awal saya ke Gunung Manglayang via Batu Kuda. Namun pilihan itu seketika berubah setelah beberapa pertimbangan. Akhirnya kami berencana untuk mendaki Gunung Burangrang saja yang letaknya tak jauh dari rumah mertua.

Perjalanan Menuju Basecamp Gunung Burangrang

Tim pendakian kali ini ada 3 orang dewasa yaitu saya, suami, dan adik ipar, ditambah 2 anak saya. Sebetulnya saya sudah beberapa kali naik gunung ini, tapi melalui jalur yang berbeda dengan sekarang. Dulu saya selalu menggunakan jalur Komando. Sekarang saya ingin mencoba jalur resminya, yaitu jalur Legok Haji.

Karena jarak dari rumah mertua menuju basecamp Burangrang tidak terlalu jauh, kami menggunakan moda transportasi motor saja, tidak menggunakan pesawat.

Sebelum menuju basecamp, kami mampir terlebih dahulu ke tempat yang sangat fenomenal dan terkenal di Kabupaten Bandung Barat, yaitu: Alfamart.

Setelah membeli sejumlah amunisi, kami melanjutkan perjalanan menuju basecamp. Jalan menuju basecamp sudah lumayan bagus dan lebar, namun begitu memasuki perkampungan yang paling dekat dengan kaki gunung Burangrang, jalan mulai menyempit. Lebarnya mungkin hanya cukup untuk satu mobil saja. Jadi, sudah betul keputusan kami saat itu untuk menggunakan motor saja, bukan menggunakan odong-odong. (krik krik krik)

Tiket Masuk Gunung Burangrang via Legok Haji

Sampai di basecamp, kami langsung disambut oleh para penunggu di sini. Maksudnya, penunggu pos pendaftaran. (Ehe. Garing)

Petugas akan bertanya, hendak kemana kah kaki kami akan melangkah? ke puncak? atau kah ke air terjun? Karena usut punya usut, tarif ke puncak Burangrang dan ke air terjun itu berbeda.

Kami membayar tiket untuk 3 orang dewasa plus 2 motor sebesar Rp 55.000 (15ribu tiket, dan 5ribu parkir motor). Sementara untuk tiket ke curug, saya kurang tahu harga resminya.

Dulu sih saya pernah ke sini sekitar 2x, mengunjungi curug nya. Kunjungan pertama, saya dikenakan biaya 10ribu per orang dan tarif parkir motor 5ribu. Sementara kunjungan ke dua, saya diminta tarif se-ikhlasnya saja.

Perjalanan Menuju Puncak Burangrang

Sepertinya karena hari libur panjang, tempat perkir terisi penuh. Di sekitar basecamp pun banyak orang yang berkerumun.

Sebelum berjalan menuju puncak, kami berniat untuk berfoto dulu. Tapi ternyata zonk pemirsa, karena baterai kameranya tertinggal. Ya sudah, dokumentasi perjalanan kali ini seadanya saja menggunakan kamera HP.

Jadi, maaf yaa kalau hasil foto di blog ini kurang maksimal. Maklum, hengpong jadul. Ehe.

Trek menuju Gunung Burangrang via Legok Haji ini ternyata no play play. Baru berjalan, kami sudah disuguhi trek menanjak. Jalan semakin sulit karena tanahnya becek dan licin karena sebelumnya hujan.

Sepanjang jalan, kami beberapa kali berpapasan dengan banyak pendaki yang turun. Nampaknya Gunung Burangrang sedang ramai hari ini. Saya tidak bisa membayangkan kondisi di puncak nanti akan seperti apa.

Akhirnya Berpindah Haluan

Saya dan anak-anak diminta beristirahat di salah satu pojokan. Sementara suami pergi ke atas untuk melihat kondisi di depan seperti apa.

Selama saya beristirahat, saya senang sekali karena banyak pendaki yang lewat sambil menyapa dengan ramah.

Ini lah yang jarang ditemui di tempat lain. Di gunung, saling bertegur sapa dengan pendaki lain walau tak dikenal seolah-olah menjadi suatu budaya.

Hanya yang disayangkan, kebanyakan yang menyapa memanggil saya dengan kata "ibu..". Ya tak lain karena saya bawa 2 anak. Padahal kan, saya masih ingin dan rasanya masih pantes dipanggil kakak atau teteh. Mehehehe.

Tak lama, suami saya datang.

"Di atas, sekitar 10 menit lagi berjalan ada Pos 1 dan ada pertigaan, nah kita ke kanan saja ya? Jangan lanjut ke atas. Kita ke curug saja" ucapnya.

Saya mengiyakan saja. Walau sebetulnya saya merasa, saya dan anak-anak masih sanggup kok melanjutkan perjalanan ke puncak, tapi karena cuaca tidak mendukung, saya ikuti saja apa kata suami. Ini semua juga demi keselamatan anak-anak.

Melanjutkan Perjalanan ke Curug Cipalasari

Kami kembali mendaki dan benar apa kata suami, saya menemukan Pos 1. Ternyata ada yang mendirikan tenda di sana, padahal Pos 1 ini areanya tidak terlalu luas. Akibatnya, keadaan di Pos 1 pun lumayan padat.

Kami berbelok ke kanan dan disuguhi jalan yang menurun. Jujur deh, menurut saya lebih sulit jalan yang menurun dibanding jalan yang menanjak. Mana jalanan becek dan licin. Jadi selama perjalanan, banyak tragedi tiseureuleu, tisoledat, dan tijengkang.

Trek menuju Curug Ciplasari ini lebih landai dan sangat kids friendly. Sudah ada beberapa saung semi permanen untuk berteduh dan toilet di beberapa titik.


Akhirnya Sampai di Curug Cipalasari

Sekitar 1 jam kami berjalan, akhirnya kami sampai juga di Curug Cipalasari. Debit airnya ternyata tidak terlalu besar padahal saat itu sedang musim hujan. Saya tidak bisa membayangkan kalau musim kemarau airnya akan se kecil apa.


Nah kalau sudah sampai di tempat yang berair seperti ini, sudah tentu anak-anak jadi semangat. Yep, semangat main air. Saya biarkan saja mereka bermain air, karena airnya sangat bersih, alami, dan gratis. Kalau di rumah sudah pasti tidak saya izinkan main air. Hehe.

Selepas itu, saya memasak untuk makan siang. Seperti biasa andalan kami kalau trekking gini adalah, mie instan pake telor dan sayur. Ehehe.

Sejujurnya ga disarankan ya, makan mie instan, tapi makan mie instan di cuaca dingin sambil menikmati pemandangan itu candu banget.

Sementara saya memasak, anak-anak bermain dengan ayahnya.


Disambut Gerimis Saat Pulang

Selepas makan siang, kami bergegas untuk packing barang dan bersiap untuk pulang.

Langit semakin terlihat mendung, kami tak ingin menerjang hujan saat pulang. Langkah kaki kami percepat. Beruntung Fatih bisa mengikuti ritme jalan kami. Sementara Maryam, digendong oleh ayahnya.

Begitu tiba di tempat parkir, kami disambut gerimis. Untungnya masing-masing dari kami membawa jas hujan, termasuk anak-anak.

Meski kami harus sedikit basah-basahan di jalan, namun Alhamdulillah, anak-anak sehat dan selamat sampai rumah. Mereka juga tak mengeluh sedikitpun.

Ada sedikit rasa kecewa karena kami tak bisa menggapai puncak Burangrang, tapi tak apa. Gunungnya ga akan kemana-mana. Kami bisa kembali lain waktu. Keselamatan anak tetap nomor satu.


Related Posts

7 comments

  1. aduh teteh ( tuh ku saya dipanggil teteh, wkwkwk) meuni reuseup ih liburan murah tapi berkesan ya sama anak - anak lagi. kalau udah biasa ke gunung bawa anak mah pasti enak dan seru ya. saya pengen nyobain tapi masih banyak pertimbangan kalo beneran hiking. jadi ya cukup lah ke hutan raya aja dulu untuk mewakili atau curug yang langsung masuk dari jalan utama, hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. wakakak makasiiih loooh.. aku seneng banget dipanggil teteh.

      Iya kalau yang belum terbiasa mending ke curug aja.. udah dapet feel alamnya

      Delete
  2. Seru yah ngajak anak hiking, pengen coba juga dong kapan², hihi.. Tapi kalo aku lebih milih ke puncak sih, Mbak. Hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. yuuk.. di jawa barat banyak sih pilihan tempat buat hiking cantik

      Delete
  3. Fatih dan Maryam kalian keren sekali masyaAlloh ante yg Mageran belum tentu ga ngedumel track yang begitu hihi samawa ya keluarga bahagia ditunggu cerita seru liburan keluarga nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiinn aamiinn.. makasih banyak ya mbaak.. semoga mbak dan keluarga sehat selaluu

      Delete
  4. Wah.. udah lama gak mendaki setelah menikah. Apalagi suamiku enggak suka naik gunung teh..

    ReplyDelete

Post a Comment