September 2018 - Afifah Haq
News Update
Loading...

Sunday, 30 September 2018

Lima Hal yang Bikin Betah di Bandung

Kadang, saya suka minder sendiri karena sebagian besar teman kuliah sudah melanglangbuana ke luar kota mencari secercah harapan untuk hidup *ceileh. Bahkan, tak sedikit pula yang ke luar negri. Trus saya? Dari lahir, TK, SD, SMP, SMA, kuliah, masih disini-sini aja, di Bandung.

Bukan berarti saya enggan merantau seperti kawan-kawan lain. Dulu pernah, ada niat untuk merantau ke ibukota, tapi orangtua masih setengah hati memberi izin. Dan, sampai detik ini, sampai saya menikah dan punya anak pun, saya masih betah di Bandung. Karena Bandung bagi saya bukan hanya sekedar kota tempat tinggal, tapi juga kenangan dan masa depan.

Apa sih yang saya suka dari Bandung?

1. Cuaca
Bandung itu sebuah kota yang dikelilingi hampir 30 gunung (kaget ga? kaget atulah biar rame). Ga percaya? Coba aja berdiri di lantai atas salah satu rumah atau bangunan di Bandung, lalu, perhatikan sekeliling. Pasti di setiap sudut ada gunung. Nah, kalau lagi ga ada kerjaan, boleh deh diitungin satu satu 😁

Gunung-gunung yang mengelilingi Bandung ini yang menyebabkan cuaca dan suasana di Bandung lebih adem jika dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya. Suhu paling terik pun biasanya hanya sampai 30-32͒ Celcius, itupun hanya di waktu-waktu tertentu saja seperti di siang hari, atau saat akan turun hujan besar.


2. Biaya Hidup
Bandung menduduki peringkat ke-15 untuk kategori kota dengan biaya hidup dari yang termahal. Posisi pertama ditempati oleh Jakarta, disusul Jayapura, Surabaya, Bekasi, Depok.

Memang Bandung bukan kota yang mempunyai biaya hidup paling murah, tapi jika dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya di pulau Jawa, Bandung bisa dibilang memiliki biaya hidup yang cukup terjangkau. Ini juga yang membuat teman-teman saya banyak yang ingin mencari nafkah di Bandung.


3. Kuliner
Ada yang tahu makanan ini? Awug, Bandros, Bajigur, Bandrek, Bala-Bala, Comro, Cireng, Colenak, Pisang Molen, Peuyeum, Seblak, Batagor, Wajit, Cuangki, Mie kocok, Surabi, Cimol, Cilok, Cilor, Nasi tutug oncom, Rujak, Lotek, Karedok, Timbel, Misro, Basreng, Es oyen, Es campur, es Goyobod. (Ngetik nya sambil ngiler..)

Kalau ada yang belum tahu, boleh deh kapan-kapan main ke Bandung. Favorit saya adalah seblak dan surabi. Kalau lagi jalan-jalan ke luar kota biasanya saya kangen dua makanan ini.

Foto: www.resepkoki.id
4. Wisata dan Fashion
Salah satu hal yang membuat saya betah di Bandung ya ini, tempat wisata nya yang tak pernah bosan untuk disinggahi. Mau berwisata ke tempat ber-tema-kan alam? Banyaaakk.. Tempat wisata kota yang instagramable juga banyak. Cuma pantai aja sih yang ga ada 😋

Soal fashion juga banyak pilihan, dari mulai Factory Outlet di jalan Riau, jalan Dago, sampai ke Cimol di daerah Gede Bage, atau ke daerah Cibaduyut untuk berburu sepatu.


5. Banyak Komunitas Positif
Saya senang tinggal di Bandung, karena banyak anak-anak muda yang kreatif. Mereka biasanya berkumpul membentuk suatu komunitas karena kecintaan yang sama terhadap sesuatu. Misalnya, komunitas pecinta hewan, komunuitas pecinta alam, komunitas slackline, komunitas pecinta vespa, dan yang baru aku ikuti nih, komunitas Bandung Hijab Blogger (BHB).

Komunitas Bandung Hijab Blogger ini merupakan sebuah perkumpulan yang terdiri dari perempuan-perempuan berhijab yang hobi menulis di blog. Komunitas yang didirikan oleh teh Rara dan teh Nesa ini punya beberapa kegiatan yang bermanfaat banget sih buat kemajuan blog dan media sosial saya 😄. Contohnya nih, minggu lalu komunitas Bandung Hijab Blogger baru saja mengadakan kegiatan workshop yang ke-2 bersama Azalea Beauty Hijab. Workshop kali ini membahas tentang tips-tips fotografi untuk blog, Seru banget deh!

 
Selain workshop, komunuitas ini juga sering mengadakan kegiatan BW (Blog Walking) setiap hari Rabu dan Jum'at. Dan kegiatan yang paling aku suka adalah kegiatan instavisit, dimana para member bisa saling mengunjungi instagram dari member lain, dan kegiatan ini yang bikin instagram ku jadi hidup kembali 😍😍

Sekian lima hal yang aku suka dan bikin aku betah di Bandung. Oh ya, mungkin kalian juga bisa lihat postingan serupa di blog nya Teh Rahmi. Teteh cantik turunan Minang ini punya pendapat lain yang lebih menarik tentang Bandung lho 😃

Thursday, 27 September 2018

Mau ke Kuala Lumpur? Siapin Ini Duluu


Liburan ke Kuala Lumpur kemarin cukup memberikan kesan, ada yang menyenangkan, ada pula yang kurang bikin nyaman. Salah satu yang buat saya ga nyaman adalah karena baju yang  saya pakai. Saya ga tau kalau KL se-panas ini. Berkaca dari pengalaman, ke depannya saya akan melakukan persiapan lebih matang lagi, agar liburan jadi menyenangkan. Adakah di sini yang berencana liburan ke Kuala Lumpur? Kalau ya, mungkin artikel ini bisa memberikan gambaran tentang apa-apa saja yang perlu dipersiapkan sebelum berangkat ke negeri Jiran.

1. Paspor
Ini sudah jelas yaa, wajib ada setiap kali akan bepergian ke luar negeri. Perlu diperhatikan pula masa berlaku paspor, masa berlaku paspor yang diizinkan maksimal 6 bulan sebelum tanggal expired. Cukup paspor saja, karena pemerintah Malaysia memberlakukan bebas visa kepada warga Indonesia selama 30 hari.


Baca Juga: Pengalaman Membuat Paspor di Bandung

2. Mata Uang
Saya lebih menyarankan untuk menukarkan mata uang di money changer di Indonesia, daripada di bank atau di money changer bandara. Kenapa? karena nilai tukar di sini lebih bagus dibandingkan dengan kedua tempat tersebut. Saya sendiri selalu melakukan penukaran mata uang asing di Golden Money Changer di jalan Dago, Bandung, sebelah toko kue Kartika Sari.

Berapa kira-kira uang yang diperlukan? Hmm.. kalau saya sih kemarin membawa uang 500 ringgit untuk 2 orang plus 1 toddler untuk 2 hari. Uang sebanyak itu sudah lebih dari cukup untuk biaya makan, transportasi, dan membeli oleh-oleh. Bahkan masih bersisa. Tapi itu belum termasuk biaya penginapan dan tiket pesawat ya.

Pilihan lain adalah menarik langsung uang tunai dari ATM. Saya memakai ATM Bank Mandiri dengan logo VISA, jadi saya bisa mengambil uang di ATM manapun yang tertera logo VISA. Tapi biaya penarikannya lumayan mahal, sekitar Rp 50.000,- per transaksi


3. Colokan Listrik Lubang 3
Ini penting banget buat kita yang hidup di zaman kekinian dimana gadget harus terus hidup 😂. Sama seperti Singapura, di Malaysia, semua lubang colokan / plug menggunakan model lubang tiga. Nah, berarti kita harus bawa charger yang juga memiliki lubang tiga. Banyak yang jual ko di supermarket atau toko elektronik di Indonesia, seperti ini kira-kira bentuknya:


4. Jadwal Sholat
Hayoo yang muslim, suka travelling? Jangan lupa sholatnya yaa. Malaysia ini waktunya mirip dengan WITA, 1 jam lebih cepat daripada Indonesia. Shubuh di sini jam 6 pagi, dan maghrib itu jam 7 malam. Jadwal sholat lengkapnya bisa search aja di google yaa, atau jika ingin lebih mudah, kita bisa download aplikasi Muslim Pro di playstore ataupun appstore.



5. Pakaian
Kuala Lumpur itu panas banget boo.. Apalagi buat saya, orang Bandung yang terbiasa dingin. Di sini mau jam 7 pagi, mau jam 7 malem, sama aja panas nya. Jangan tanya saat siang hari. Jadi, saya sarankan untuk menggunakan pakaian tipis yang menyerap keringat, contohnya seperti pakaian yang berbahan katun.

Contoh salah kostum nih, malah pake kaos tebel
6. Pelajari Rute Transportasi Umum
Jika ingin sukses berwisata di Kuala Lumpur dengan budget pas-pasan, alangkah lebih baik jika kita mempelajari jenis dan rute transportasi di sini. Ada 4 pilihan transportasi di sini: Monorial, LRT, MRT, dan Kommuter atau KTM. Masing-masing memiliki rute dan stasiun yang berbeda.

Kecuali bagi yang ingin mudah sih, bisa saja menggunakan Grab. Aplikasi grab yang saya download ternyata bisa menyesuaikan otomatis saat berada di Malaysia.

Foto: www.klsentral.info
7. Beli Sim Card Lokal atau Paket Roaming?
Ini sih pilihan, tergantung berapa hari kita akan berada di sana. Kalau hanya 1-2 hari saya sarankan untuk membeli paket roaming internasional saja, karena jatohnya jadi sama aja sih menurut saya.

Nah, jika lebih dari 3 hari, lebih baik beli sim card lokal. Untuk harga sim card lokal di sana berkisar antara RM 30 - RM 35, sudah termasuk kuota internet untuk seminggu. Kita bisa minta bantuan operator nya untuk mengaktifkan sim card, nanti kita akan diminta IC atau paspor. Kurang dari 10 menit, kartu sudah bisa dipakai.



8. Bawa Botol Minum Isi Ulang
Ini salah satu tips menghemat pengeluaran minum. Karena Kuala Lumpur panas, jadi kalau saya sih bawaaannya haus melulu. Air mineral di sini dijual seharga RM 2, itu yang paling murah. Tapi akan lebih baik lagi jika kita membawa botol minum sendiri. Di KLCC Park dekat mall Suria KLCC, ada  air yang sudah ditapis dan bisa untuk diminum. Tapi suami saya mah ga minum, soalnya katanya bau kaporit, jadi dia lebih memilih beli aja air mineral.
 
9. Sedia Koyo
Ini opsional sih dan ga wajib 😂. Jalan-jalan di kota itu ternyata sama pegel nya dengan naik gunung, apalagi saya sambil gendong anak (anak saya ga doyan stroller btw, jadi digendong). Saya ga kepikiran sama sekali bakal se-pegel ini, untung di Kuala Lumpur ada yang jual salonpas. Tapi lumayan mahal, jadi lebih baik bekal saja dari Indo.

Oke, sekian penjelasan beberapa persiapan yang harus ada sebelum berlibur di Kuala Lumpur, ini berdasarkan pengalaman saya aja ya.. Kalau ada tambahan boleh banget share di kolom komentar. Terimakasih sudah mampir, dan selamat berlibur! 💕

Wednesday, 26 September 2018

7 Hal Menyenangkan tentang Kuala Lumpur


Alhamdulillah, liburan kali ini akhirnya bisa bawa anak dan suami ke tempat yang agak jauh. Ya, walaupun cuma 2 hari sih, tapi lumayan lah bisa quality time bareng suami dan anak. Mengingat pak suami super duper sibuk, sering lembur bahkan di hari Minggu. Buat saya, 2 hari di Kuala Lumpur ini lumayan berkesan dan banyak hal-hal yang saya suka dari tempat ini.

1. Ramah di Kantong
Biaya makan di Kuala Lumpur hampir sama dengan biaya makan di Jakarta. Satu kali makan untuk 2 orang, harga RM 30 sudah kenyang plus minum, itupun sudah dapat menu yang lumayan 'wah'. Makan di KFC pun hampir sama harga nya, saya pesan 2 porsi seharga RM 20 isinya nasi lemak, ayam crispy, pepsi, plus ada semacam salad dari kol dan wortel. Dan biaya makan ini sangat bisa ditekan, misalnya dengan membawa air minum sendiri, atau bawa nasi sendiri, atau bekel Pop Mie dari Indo. 😂

Harga tiket pesawat pun terbilang murah, saya dapat harga tiket Bandung - Kuala Lumpur seharga Rp 750.000,- / orang. Harga tiket juga masih bisa ditekan jika ada promosi, dari Air Asia misalnya, yang sering mengadakan promo kursi gratis. Bahkan, ada teman yang dengan harga kurang dari Rp 900.000,- bisa dapat 4 kursi untuk rute Jakarta - Kuala Lumpur.

2. Transportasi Umum
Kuala Lumpur punya sebuah 'terminal' bernama KL Sentral. KL Sentral ini semacam terminal hub bagi semua transportasi umum seperti Monorail, MRT, LRT, KTM, dan KLIA Express. Perlu diakui bahwa Malaysia memang selangkah lebih maju daripada Indonesia dalam hal transportasi.

Penggunaan transportasi umum di sini tentunya akan menghemat waktu, karena sudah dipastikan tidak akan terkena macet. Oya, untuk pembelian tiket nya sendiri, tidak seperti di Singapura yang harus membeli kartu, di Kuala Lumpur kita bisa membeli tiket langsung sekali jalan di mesin tiket otomatis.


Penggunaan mesin tiket otomatis nya cukup mudah kok, kita tinggal memilih jenis transportasi mana yang akan kita naiki dengan menekan pilihan di menu layar sentuh. Lalu tentukan jumlah tiket yang akan dibeli, setelah itu bayar dengan memasukan uang kertas ke mesin. Tunggu sebentar, cling! keluar lah 'tiket' yang bentuknya koin yang terbuat dari plastik berwarna biru beserta uang kembalian (jika ada).

Uang kembaliannya juga koin ternyata. Satu waktu saya beli tiket monorail total RM 3. Lalu ku masukkan uang 1 lembar RM 10, dan wuuurrr!! Uang kembalian pecahan 20 sen dan 10 sen murudul seketika kayak disawer 😂 



3. Bahasa
Buat temen-temen yang ingin merasakan liburan ke luar negri tapi bahasa inggris nya masih ancur-ancuran kayak saya 😋 Malaysia bisa jadi pilihan nih. Bahasa melayu dengan bahasa Indonesia memang mirip-mirip. Saya dan suami juga tidak pernah ragu jika ingin bertanya.

Kecuali.. kalau ketemu orang India. Rata-rata orang India disini ga bisa berbicara bahasa melayu, mereka hanya mengerti bahasa Inggris. Ada sih, beberapa, tapi ga banyak.

4. Bus Gratis GO KL
Bus atau bas ini memang disediakan untuk mereka yang ingin mengelilingi kota Kuala Lumpur. Bus ini percuma alias gratis tis.. Mau naik turun atau keliling-keliling berapa kali putaran pun silahkan saja. Jumlahnya banyak, dan selalu ada di hampir setiap perhentian bas. Bentuk fisik bas ini kurang lebih seperti ini:



5. Kuliner Halal
Sebagai seorang muslim, saya ga was-was kalau ingin berwisata kuliner di sini. Kuala Lumpur memiliki banyak penduduk muslim, sehingga pilihan makanan nya pun banyak yang Halal. Ya, ga semua halal sih memang, saya waktu disini menghindari tempat makan China, dan lebih memilih penjual yang berjilbab 😋

2 Porsi Nasi Briyani Kambing, 1 cup Milo, dan 1 Cup Lemon Tea seharga RM 31, ini harga di bandara
6. Budaya Disiplin dan Empati
Selama di sini, saya belum pernah lihat orang menyebrang sembarangan, pasti selalu di zebra cross dan menunggu lampu untuk pejalan kaki menyala hijau. Yaa, walalupun ada sih beberapa yang menyebrang seenaknya padahal lampu masih merah, tapi jarang saya temui.

Orang-orang di sini juga ramah-ramah. Atau karena saya bawa bayi ya? hehe.. Banyak banget yang nyapa, nyapa anak saya sih tapi hahaha. Rasa empati mereka juga tinggi, tiap kali saya naik monorail, mau se-penuh apapun, pasti ada aja yang mengalah dan mempersilahkan saya duduk. Satu waktu anak saya rewel, ingin berdiri, ga mau duduk, akhirnya berdiri lah saya sambil gendong anak. Kemudian saya mempersilahkan penumpang lain untuk duduk di tempat saya. Tapi mereka malah malu dan enggan untuk duduk.


7. Kebudayaan Daerah Lain
Yang saya lihat, Kuala Lumpur ini didominasi oleh 3 suku bangsa: Melayu, China, dan India. Jadi walaupun saya belum ke negara China atau India, setidaknya saya bisa melihat kebudayaan mereka di sini. Dari mulai pakaian tradisional, saya melihat banyak sekali orang India yang menggunakan pakaian khas nya. Melihat ini saya jadi bertekad dalam hati, nanti lagi kalau ke luar negri pakai batik aah..

Kebudayaan lainnya juga bisa saya kenali lewat tempat wisata di sini seperti Kuil, kampung Arab, Batu Caves. Saya juga bisa merasakan lezatnya nasi briyani langsung buatan orang India nya sendiri.


Seperti itulah kira-kira 7 hal yang saya suka dari Kuala Lumpur. Ada yang pernah ke Kuala Lumpur juga kah? Adakah hal menarik lain yang tidak saya bahas di sini? Boleh share di kolom komentar yaa.. Terimakasih sudah mampir 💙

Thursday, 20 September 2018

Gunung Slamet: Cerita dari Atap Jawa Tengah

Halo semua.. Maaf aku mau cerita tentang gunung lagi. Mudah-mudahan ga bosen. Ini pengalaman di tahun 2016, sekitar 2 bulan setelah menikah, sebelum mendaki gunung Guntur. Baru sempat ku tulis di blog di tahun ini, karena memang baru kenal blog akhir-akhir ini ehehe.

Niat mendaki gunung Slamet ini terlintas begitu saja. Mengingat saya memang belum pernah ke sana. Nah, kebetulan di bulan April 2016 lalu ada libur panjang dari hari Kamis sampai hari Minggu. Saya beserta suami kemudian mengajak adik ipar dan 3 teman suami lainnya. Total team saya kali ini ada 6 orang.

Sekilas tentang Gunung Slamet
Gunung Slamet merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah. Ketinggiannya mencapai 3.428 MDPL. Gunung Slamet terletak di perbatasan kabupaten Purbalingga, Brebes, Banyumas, Tegal, dan Pemalang. Gunung Slamet merupakan gunung berapi yang status nya masih aktif, letusan terakhir terjadi saat tahun 2014 lalu.


Rute Menuju Gunung Slamet
Ada beberapa jalur untuk mencapai gunung tertinggi di Jawa Tengah ini. Namun, beberapa orang merekomendasikan kami untuk melalui jalur desa Bambangan, kabupaten Purbalingga. Selain karena memang merupakan jalur resmi, jalur ini juga memiliki trek atau jalan yang sudah jelas menuju puncak.

Dari Bandung, kami ber-empat berangkat menggunakan jasa travel menuju Purbalingga hari Rabu malam. Sedangkan 2 orang kawan lain berangkat dari Jakarta. Otomatis, team dari Bandung datang di terminal Purbalingga lebih awal. 2 teman lainnya agak kurang beruntung, mereka terjebak macet di perjalanan, sehingga mereka baru sampai Kamis siang hari.

Terminal Purbalingga - Basecamp Desa Bambangan
Sayangnya di Purbalingga belum ada layanan ojek online atau taxi online. Kami yang tidak tahu seluk beluk kota Purbalingga akhirnya menyewa angkutan umum dari terminal menuju basecamp gunung Slamet di desa Bambangan. Sharing cost sekitar 25.000 per orang.

Ternyata desa Bambangan dari terminal itu cukup jauh saudara saudara.. Kondisi jalan menuju basecamp pun cukup menanjak ditambah kelokan-kelokan tajam. Saya salut sama pak supir yang sudah lihai dalam mengendalikan kendaraannya. Sekitar pukul 1 siang, kami sampai di basecamp Bambangan.


Petualangan Dimulai
Sebelum memulai pendakian, kami beristirahat sebentar untuk sholat dan packing ulang. Sambil menunggu giliran sholat, suami saya dan 1 teman lain melakukan pendaftaran untuk mendapatkan SIMAKSI. Spontan, salah satu kawan yang memang baru pertama kali mendaki gunung berkata;

"Loh, naik gunung bayar ya? pake tiket ya ternyata?"

Saya dalam hati hanya bisa tertawa. Hihihi, hari gini mana ada yang gratis.. Setelah semua anggota team siap, kami bersama-sama melangkahkan kaki menuju puncak Slamet.

Maaf foto nya blur..
Ini Gunung atau Pasar?
Agak kaget saya ketika berjalan beberapa ratus meter dari gapura pendakian. Gunung Slamet ternyata sudah se-rame ini! Banyak tenda terpal yang menjual berbagai macam camilan dan minuman. Apa karena sedang libur panjang, sehingga warga disini banyak yang memanfaatkan moment libur untuk berjualan di gunung Slamet?

Saya mencoba untuk beristirahat sejenak di salah satu warung. Menikmati segelas es susu coklat dan mengunyah gorengan tempe mendoan. Kalau sudah capek gini mah, kayanya makanan apa saja enak ya. 

Kami melanjutkan perjalanan kembali. Puncak masih jauh, bahkan Pos 1 saja masih belum terlihat. Oh ya, untuk menuju puncak Slamet ada sekitar 8 Pos yang harus dilalui. Masing-masing pos jarak nya sekitar 1-2jam perjalanan normal. Saya tidak tahu pasti detail nya, karena saya jarang sekali mengamati waktu tempuh dari masing-masing pos, yang penting dinikmati saja setiap langkah nya.

Terpaksa Membuka Tenda di Pos 3
Saat itu, gunung Slamet sedang ramai sekali pengunjung. Kemacetan pun terjadi di sepanjang jalur menuju puncak Slamet. Aku kira di jalan raya aja yang macet, ternyata di gunung juga bisa macet. Kepadatan pendaki di gunung Slamet jadi menghambat langkah kami.

Hari semakin gelap, tapi kami masih berada di jalur Pos 2 menuju Pos 3. Kami memutuskan untuk beristirahat, memasak mie seadanya untuk mengganjal perut. Selesai makan malam, kami melanjutkan perjalanan. Target kami waktu itu adalah berkemah di Pos 5. Tapi di tengah perjalanan,  team terbagi menjadi dua, saya, adik ipar, dan suami, berjalan duluan. Sedangkan 3 teman lainnya tertinggal di belakang. 

Sampai di Pos 3, kami menunggu teman yang lain. Lama tak kelihatan, suami saya mencoba menyusul mereka ke bawah, tapi tetap tidak ketemu. Karena sudah menunggu terlalu lama, dan malam pun semakin larut, akhirnya kami terpaksa mendirikan tenda di Pos 3 untuk beristirahat. Kami masih berharap ketiga kawan kami menemukan tenda kami.


Summit Attack Kesiangan
Gunung Slamet yang dingin bikin saya mager, ingin terus didekap sleeping bag. Akibat ke-mager-an saya ini, kami bertiga baru meneruskan pendakian ke puncak setelah sholat shubuh dan sarapan, mungkin sekitar jam 6. Saya memang tidak menargetkan melihat sunrise di puncak.
Sambil berjalan, sesekali kami melihat sekeliling, siapa tau teman kami yang tertinggal ada di depan atau mendirikan tenda di salah satu pos.

Trek di gunung Slamet ini tergolong lumayan menanjak, kalau untuk pemula saya tidak akan sarankan ke sini. Takutnya kapok, hehehe.. Karena medan nya menanjak terus sampai ke puncak, hampir tidak ada jalan landai yang seringkali kami sebut "trek bonus".


Warung di Ketinggian 2.775 MDPL
Kami terus melangkahkan kaki menyusuri hutan. Seperti yang sudah diceritakan sebelumnya, bahwa dari sebelum pos 1 saja sudah ada tenda-tenda yang menjual makanan. Nah, ternyata tenda-tenda para penjual ini hampir ada di setiap pos, dan tenda penjual terakhir kami temukan di Pos 5, di ketinggian 2.775 MDPL!!

Kaget, sekaligus heran, tapi sakit hati juga. Kalau udah banyak yang jualan gini mah, ngapain eike berat berat bawa persediaan makanan dan air minum banyak-banyak 😭

Akhirnya Puncaaakk!!
Kurang lebih 4 jam kami berjibaku dengan tanjakan-tanjakan yang lumayan membuat fisik lelah. Eh tapi saya lebih memilihi cape naik gunung daripada cape hati karena di-php-in si dia. Tanjakan terakhir dari batas vegetasi yang paling membuat saya deg-degan. Selain kemiringannya yang cukup curam, kondisi trek nya juga dipenuhi oleh bebatuan. Sungguh aku amat sangat takut tiseureuleu atau tisoledat, lebih ngeri lagi kalau ada batu yang menggelinding dari atas. Dari sepanjang jalur menuju puncak Slamet, jalur ini yang paling serem dan paling bikin php. Kayak yang deket, tapi ko ga nyampe-nyampe 😭
Wajah ogut ga banget
Alhamdulillaah.. Setelah kurang lebih 45 menit melalui jalur itu, kami menemukan papan nama dengan tulisan:

Anda berada di Puncak Gunung Slamet 3428 MDPL

Udah ga ngerti lagi gimana rasanya waktu itu. Senang sekaligus terharu begitu sampai di Puncak. Ada kesan tersendiri yang ga bisa saya gambarkan dengan kata-kata. Mungkin rasanya tuh kaya habis 4 tahun kuliah, abis itu sidang, dan langsung dinyatakan lulus! Kebayang kan gimana seneng nya.


Siluet gunung Sindoro dan Sumbing dilihat dari puncak gunung Slamet


Setelah puas mengabadikan momen di puncak, kami bertiga turun. Perjalanan turun memang lebih cepat daripada perjalanan naik, tapi buat saya, perjalanan turun itu lebih bikin lutut lemas. 😂

Di perjalanan turun, Alhamdulillah akhirnya kami menemukan tenda 3 teman kami yang sempat tertinggal kemarin. Mereka mendirikan tenda di Pos 7, dekat batas vegetasi. Kami beristirahat sejenak di tenda mereka. Selepas maghrib, saya, suami, dan adik ipar melanjutkan perjalanan turun menuju tenda kami di pos 3.

Kesurupan Massal di Pos 3 Gunung Slamet
Karena hari sudah menjelang malam, ditambah lagi 3 teman kami yang lain belum mencapai puncak, akhirnya kami memutuskan untuk bermalam kembali di Pos 3. Begitu sampai tenda, saya kecewa karena patok tenda kami dirusak, sehingga tenda kami sedikit melenoy (apa ya bahasa indonesia nya melenoy). Ditambah lagi mereka mendirikan tenda tepat di depan pintu masuk tenda kami, sehingga kami kesulitan masuk tenda. Huhuhuhu 😭

Kami terpaksa membetulkan posisi dan menggeser tenda. Setelah itu, kami memasak untuk makan malam. Saat memasak tiba-tiba ada seorang pendaki wanita menjerit, meraung-raung, menangis dan berteriak-teriak tak jelas. Saya kaget. Kemudian disusul suara pendaki lainnya yang berteriak minta tolong.

Ah, mungkin orang iseng aja. Saya pun kembali melanjutkan masak.

Tapi beberapa menit kemudian, tak cuma 1 orang pendaki wanita yang menjerit, melainkan jadi beberapa orang.di beberapa titik.  Lalu, tiba-tiba ada satu orang yang berteriak

"Rekan-rekan pendaki sekalian, saya mohon, mari kita bersama-sama berdoa, untuk rekan-rekan kita, bagi yang beragama islam, mari kita panjatkan zikir.. Saya mohon.. Tolong dimatikan dulu semua suara-suara musik.. Mari kita berzikir dan membaca surat An-nas, Al-Falaq, dan al-Ikhlas bersama-sama.."

Dan seketika suasana di Pos 3 gunung Slamet riuh dengan lantunan ayat al-Qur'an dan zikir. Pendaki-pendaki yang menjerit tadi ada yang mulai tenang, ada pula yang malah makin menjerit.

Jujur, waktu itu saya benar-benar sangat takut. Saya takut jika tiba-tiba saya juga 'ketularan'. Saya kemudian memasuki tenda, sholat, membaca berbagai macam zikir, lalu membiarkan hp menyala terus dengan lantunan surat yasin semalaman. Setelah hati sedikit tenang, saya buru-buru tidur. Begitu menutup mata, eh tiba-tiba orang di tenda sebelah teriak:

"AAAHHHH.. Pergi kalian semua dari sini!!!"

Wow, yang teriak itu laki-laki. Makin ga bisa tidur lah saya. Padahal mata dan badan ini sudah sangat lelah. Saya berzikir kembali, setelah itu saya paksakan untuk tidur. Tapi tetap saja tidur saya tidak nyenyak, karena suara-suara orang yang menjerit meraung-raung masih terdengar hingga subuh tiba.

P-U-L-A-N-G
Setelah drama semalam, esok subuh nya kami melihat sekeliling. Alhamdulillah keadaan sudah tenang. Kami segera membongkar tenda dan memutuskan untuk pulang.

Sekitar pukul 7, kami meninggalkan pos 3. Daah, terimakasih gunung Slamet atas semua pengalaman yang sudah diberikan. Semoga nanti saya bisa berjumpa lagi dengan pesona mu tanpa ada drama kesurupan massal lagi.


Itinerary Perjalanan
Bandung - Purbalingga: 8 jam menggunakan Travel atau bus
Purbalingga - Basecamp Bambangan: 1 jam, borong angkot
Basecamp Bambangan - Puncak: kurang lebih total 8 jam


Friday, 7 September 2018

Gunung Guntur: Di Atas Puncak Masih Ada Puncak Lagi


Bersyukur nya saya memiliki pasangan yang mempunyai hobi yang sama, yaitu mendaki gunung. Setelah pendakian kami ke gunung Merbabu, gunung Prau, gunung Burangrang, dan gunung Slamet, selanjutnya kami melanjutkan ke gunung Guntur.

Tepat 2 hari sebelum bulan puasa di tahun 2016, saya dan suami merencanakan untuk 'munggahan' di gunung Guntur. Mungkin agak gimana gitu ya kalau menurut orang-orang, harusnya munggahan di rumah saja, kumpul bersama keluarga besar.. Ehehe. Tapi saya ga nyesel ko, karena ternyata ini pendakian terakhir saya di tahun 2016-2017. Kenapa? Baca sampai habis yaa.. :)

Keberangkatan
Hari itu hari Sabtu, dimana seharusnya saya libur, tapi terpaksa masuk kerja (lembur) karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan segera. Lembur saya ini mengakibatkan jadwal kepergian kami menuju gunung Guntur jadi mundur, yang tadinya direncanakan berangkat Sabtu pagi, akhirnya berangkat di Sabtu sore.

Gunung Guntur terletak di daerah Cipanas, Garut, Jawa Barat. Dengan menggunakan sepeda motor, kami berdua bertolak ke kota Garut. Karena berangkat sore hari, dan jalanan pun sangat-sangat padat hari itu (padahal kami pake motor, tapi tetap saja terjebak  macet), kami tiba di Garut sekitar pukul 7 malam. Padahal normal nya Bandung-Garut hanya 2 jam.


Titik Awal Pendakian
Tempat yang dijadikan patokan untuk masuk ke kawasan gunung Guntur adalah pom bensin Tanjung. Di sebelah pom bensin itu ada sebuah gang agak besar, ke jalan itulah kita  masuk. Sekitar 700 meter, kita akan menemukan Base Camp gunung Guntur, nah, di sini kita bisa menitipkan kendaraan pribadi kita. Insya Allah aman..

Kami berdua memulai langkah dari tempat ini. Ikatan tali sepatu kami kencangkan, tali pengaman ransel kami pas kan agar nyaman di badan, headlamp pun kami nyalakan. Suara-suara binatang malam menemani langkah kaki kami. Beberapa orang sempat terlihat menyapa dan menyusul langkah kami, tak apa, karena saya pun tidak ingin terburu-buru.

Hal yang paling saya suka di setiap pendakian adalah sapaan dari setiap pendaki yang berpapasan dengan kita. Dan basa-basi pemberi semangat bahwa puncak sudah dekat (padahal masih jauh). Hal yang jarang saya jumpai di kehidupan perkotaan.

Sempat Nyasar
Sekitar 1 jam kami berjalan, kami menemukan persimpangan. Seharusnya kami mengambil jalan ke kiri, tapi kami malah melangkah ke kanan. Saat itu jalanan memang benar-benar gelap, padahal belum masuk area hutan. Sebelumnya suami sudah mengingatkan, kalau jalan malam memang agak riskan.

Tapi kami terus melanjutkan jalan. Suara-suara orang yang saya kira juga adalah pendaki di depan menumbuhkan harapan kami. Kemudian kami menemukan hutan yang sangat rapat, benar-benar rapat bahkan kami sampai harus merunduk. Jalan yang kami injak pun sangat berpasir, satu langkah maju, 2 langkah tergusur mundur (ga nyampe2 dong).

Rupanya beberapa pendaki di depan kami sengaja meninggalkan jejak berupa lilitan tali rapia di beberapa ranting pohon. Saya dan suami mengikuti jejak tali-tali itu. Tak lama, kami berhasil bertemu dengan beberapa pendaki di depan kami. Saya dan suami sangat berharap mereka berdua tahu jalan.

Tapi ternyata zonk saudara-saudara.. Mereka ber-6 ternyata juga sama-sama nyasar

Jadilah bertambah orang nyasar di gunung Guntur malam itu. Ke-6 pendaki yang kami temui melanjutkan perjalanan nya terus ke atas, mengikuti arahan google maps. Sedangkan suami, berinisiatif untuk tidak melanjutkan jalan ke atas, tapi turun ke bawah dan mencari sumber air. Saya otomatis mengikuti suami.

Singkat cerita, jalur yang dilalui oleh suami menemukan titik terang. Kami segera memanggil ke-6 pendaki yang melanjutkan perjalanan ke atas.  Kami menemukan sungai yang muara nya adalah ke air terjun Citiis. Jalur sebenarnya menuju gunung Guntur pun sudah terlihat. Alhamdulillah, saat berada di posisi ini, keberadaaan kami ber-8 terlihat oleh para ranger yang bertugas di gunung Guntur. Dua orang ranger mendekati kami dan memberi arahan untuk menyebrangi sungai di depan kami. 

Perjalanan Malam Menuju Puncak
Saya kaget ketika jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Rupanya kami menghabiskan cukup banyak waktu saat tersesat tadi. Para ranger mengarahkan kami ke Pos 3, untuk melakukan pendaftaran dan mendapatkan SIMAKSI (Surat Izin Masuk Konservasi).

Saya dan suami melanjutkan perjalanan, karena target kami adalah mengejar sunrise di puncak. Tapi entah mengapa saya merasa sangat sangat lelah di pendakian kali ini. Entah karena tenaga saya sudah habis saat tersesat tadi, saya pun tak mengerti. Lelah dan kantuk menyerang begitu hebat. Saya mengeluh, suami saya menawarkan untuk mendirikan tenda. Tapi saya sudah tidak bisa menahan kantuk saat itu.

Akhirnya kami berdua tidur di pinggir jalur pendakian gunung Guntur dengan hanya diselimuti sleeping bag. Hhh.. Akhirnya saya merasakan juga tidur benar-benar beralaskan tanah dan beratapkan sejuta bintang di langit. Kayak yang indah ya, padahal sangat dingin.

Sekitar pukul 3 pagi kami baru terbangun. Beberapa cemilan kami makan untuk mengganjal perut supaya tidak masuk angin. Dengan sedikit terkantuk-kantuk, saya dan suami meneruskan pendakian.

Gunung Guntur; Setelah Puncak Masih ada Puncak Lagi
Sepertinya target untuk menikmati sunrise di puncak tidak akan bisa terkejar. Badan ini rasanya sulit sekali untuk diajak kompromi. Jalan sedikit, saya sudah minta istirahat. Padahal di pendakian sebelumnya di gunung Slamet, saya tidak sampai merasa se-lelah ini (padahal gunung nya lebih tinggi dan jarak tempuh nya lebih lama).

Sampai shubuh tiba, saya masih belum mencapai puncak. Saya beristirahat lagi, lalu terpaksa melaksanakan shalat shubuh di tengah-tengah jalur pendakian gunung Guntur yang kemiringannya hampir 50 derajat dan berbatu.

Sunrise dan pemandangan kota Garut serta gunung Cikuray yang gagah
Untungnya saya ditemani suami yang super penyabar, yang dengan ikhlas menunggu tiap kali istrinya minta istirahat (ga tega juga kali yaa haha). Pukul 7 pagi akhrinya kami berdua mencapai puncak!

Pemandangan dari puncak bayangan Gunung Guntur
Eit tapi tunggu dulu. Ternyata ini hanyalah puncak bayangan pemirsa 😂. Puncak sesungguhnya masih harus ditempuh lagi selama kurang lebih 30 menit. Untungnya tidak begitu jauh. Lagi-lagi, di perjalanan menuju pucak pun saya selalu minta istirahat berkali-kali. 

Ya, gunung Guntur memang dikenal memiliki 3 puncak. Masing-masing puncak nya berupa dataran yang cukup luas dan ditumbuhi ilalang dan sedikit pohon. Gunung Guntur memang merupakan gunung yang gersang.

Puncak 1 gunung Guntur
Saat itu kami berdua hanya mendaki sampai ke puncak 2. Di tengah perjalan menuju puncak 2 saya meminta istirahat dan tidur. Kira-kira pukul 10, kami berada di puncak 2.

Puncak 2 gunung Guntur, dan gunung di belakang kami adalah puncak 3 nya
Perjalanan Turun
Gunung Guntur memang gunung yang agak nyebelin sih menurut saya. Waktu pendakian nya bisa sampai 8 jam. Tapi, begitu turun, hanya perlu waktu 3 jam untuk sampai di pos 3!

Saat perjalanan turun, suami saya mengajak ke jalur yang berbeda dengan jalur naik. Luar biasa, ternyata jalur nya berupa pasir yang jika diinjak maka kita akan langsung merosot. Di satu sisi seru, main perosotan di gunung 😂 tapi di sisi lain agak serem juga karena jalur nya benar-benar full pasir dan sangat berbahaya jika ada batu yang ikut terjatuh ke bawah (bahasa sunda nya ngagulutuk, ngagorolong).

Rangkuman Itenaray Perjalanan
Oke, dari cerita panjang lebar saya tentang gunung Guntur ini, berikut adalah rangkuman nya:
Bandung - Garut : 2 jam
Pom Bensin Tanjung - Base Camp gunung Guntur: 20 menit menggunakan kendaraan
Base Camp - Pos Pendaftaran (Pos 3) : 3 jam
Pos Pendaftaran (Pos 3) - Puncak Bayangan : 4 jam
Puncak Bayangan - Puncak 1 : 30 menit
Puncak 1 - Puncak 2 : 1 jam
Puncak 2 - Puncak 3 : 1 jam
Tips Hiking ke Gunung Guntur
Berkaca dari pengalaman, berikut ini beberapa tips yang mungkin bisa sedikit membantu agar pendakian ke gunung Guntur sukses.
  1. Gunakan sepatu gunung yang kuat, aman, dan nyaman di kaki, mengingat jalur gunung Guntur yang dipenuhi bebatuan dan pasir. Saya tidak menyarankan untuk menggunakan sandal.
  2. Mendakilah di pagi hari, untuk menghindari kemungkinan tersesat seperti saya, hehe..
  3. Waktu yang cocok untuk mendaki gunung Guntur adalah saat memasuki musim kemarau, sekitar akhir bulan Juni sampai September. Karena jika mendaki di musim hujan, rawan petir dan ini akan sangat membahayakan.
  4. Perbanyak membawa bekal minuman, karena gunung Guntur sangat gersang, satu-satu nya mata air hanya ada di curug Citiis saja.
  5. Jika tersesat seperti saya, jangan lanjutkan perjalanan ke atas, sebaiknya kembali turun ke titik awal pendakian.

Ternyata Saya Hamil
Seminggu setelah pendakian ini saya merasa agak sedikit aneh. Pertama, nafsu makan saya jadi bertambah, tiap sahur saya selalu makan 2x dari porsi biasanya. Kedua, saat puasa saya merasa sangat-sangat lemas dan sering tak kuat. Ketiga, saya belum juga datang bulan.

Akhirnya saya iseng dan melakukan test pack. Hasilnya positif! Dan setelah periksa ke dokter, ternyata usia kandungan saya sudah 6 minggu. Dan itu berarti, saat saya mendaki gunung Guntur kemarin, saya sedang hamil satu bulan. Pantas saja saya sering merasa kelelahan di jalan.

Luar binasa.

Featured

[Featured][recentbylabel2]

Featured

[Featured][recentbylabel2]
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done