Friday, 4 May 2018

Hiking ke Gunung Papandayan Bersama si Kecil





Saya dan suami kebetulan memiliki hobi yang sama, yaitu traveling dan melakukan kegiatan outdoor. Tapi semenjak hamil dan punya bayi, otomatis hobi saya ini terhenti. Lama tak keluyuran bikin saya kangen. Kangen jalan berjam-jam, kangen ngos-ngosan, kangen wangi hutan, kangen dinginnya gunung, pokonya kangen semuanya deh! Nah, tahun ini kebetulan si bayi menginjak usia satu tahun. Dengan sedikit rasa nekat dalam diri, saya merencanakan untuk pergi hiking sambil bawa si kecil. Hehee..
 
Gunung Papandayan jadi tujuan saya. Kenapa? karena gunung ini trek-nya tergolong mudah, tidak sesulit trek di gunung-gunung lain. Pemandangannya juga cantik dan menurut saya ga ngebosenin. Lokasinya pun tidak begitu jauh dari Bandung.


Sabtu, 28 April lalu saya bergegas dari rumah pukul 04.00 WIB. Sedikit ngaret, karena rencana sebelumnya kami berangkat jam 3 subuh. Namanya juga orang Indonesia.. hehe. Si kecil masih tertidur pulas saat kami bersiap-siap. Karena saya tak ingin mengganggu tidurnya si kecil, saya hanya menggantikan popok dan bajunya pelan-pelan. Tak lupa saya oleskan minyak telon supaya dia tidak kedinginan di jalan.


Gunung Papandayan terletak di daerah Cisurupan, kabupaten Garut, Jawa Barat. Perlu waktu kurang lebih 3 jam untuk sampai di pintu masuk Gunung Papandayan dari kota Bandung. Itu jika lalu lntas normal.  


Rute Menuju Papandayan dari Bandung


Jika menggunakan kendaraan pribadi, arahkan kendaraan menuju Rancaekek-Nagreg-Garut. Setelah sampai di Garut, langsung arahkan kendaraan menuju Jalan Raya Samarang. Lurus terus, sampai tiba di pasar Cisurupan. Patokannya adalah Indomaret Cisurupan, di sebrang indomaret ada jalan masuk ke kanan menuju pintu masuk gunung Papandayan.


Jika menggunakan kendaraan umum, bisa menaiki mobil elf jurusan Cikajang atau bus jurusan Pameungpeuk, lalu turun di pasar Cisurupan. Dari situ, lanjutkan perjalanan menggunakan ojek menuju pintu masuk gunung Papandayan. Jika datang dengan rombongan bisa menyewa kolbak.


Nah, perjalanan kali ini kami ingin menggunakan rute yang berbeda. Dari Bandung, kami berencana untuk tidak melewati jalan Nagrek. Kami melalui jalan Sapan lalu belok ke jalan raya Cijapati. Jalannya masih sepi dan sepertinya akan selalu sepi kecuali musim mudik tiba. Siapkan kendaraan yang prima karena jalannya penuh tikungan tajam dan tanjakan yang lumayan bikin kendaraan ngos-ngosan. Tapiii dibalik semua 'perjuangan' melewati jalan ini.. terselip keindahan yang luarbiasa yang mungkin tidak akan saya lihat jika melalui jalan Nagrek. Ini diaaa..





Perjalanan normal dari Bandung memang 3 jam, tapi kami harus beberapa kali berhenti untuk sholat Subuh, sarapan, dan mengganti popok si kecil karena ternyata dia pup. Perjalanan menjadi lebih lama, tak apa, yang penting si kecil happy dan ga rewel.


Singkat cerita, sampailah kami di pintu masuk kawasan wisata Gunung Papandayan. Dan petualangan pun dimulai..

Kawah Papandayan dilihat dari tempat parkir

Titik awal pendakian
Gunung Papandayan di zaman saya masih jomblo dulu berbeda dengan sekarang. Gunung Papandayang sekarang sudah dikelola oleh pihak swasta. Semuanya jadi serba tertata dan rapi bahkan mulai dari tempat parkir. Fasilitasnya juga lebih baik dibandingkan dengan Papandayan 6 tahun yang lalu.


Perjalanan dari tempat parkir menuju kawah Gunung Papandayan idealnya sekitar 1-2jam. Jalannya sudah lumayan enak. Pihak pengelola sudah membuatkan tangga dari bebatuan. Tapi walaupun jalannya sudah nyaman, saya tetap menyarankan untuk pakai sepatu yang nyaman dan tidak licin ya. Pemandangan khas bekas letusan gunung tahun 2002 lalu akan kita jumpai selama perjalanan menuju kawah.


60 menit pertama perjalanan, si kecil masih saya yang gendong. Rasanya? yaa dinikmati saja lah yaa namanya juga naik gunung, pasti capek, hehe.. Semakin mendekati kawah, aroma belerang semakin menyengat. Tak mau mencium bau belerang terlalu lama, suami saya akhirnya 'mengambil alih' si kecil dari gendongan saya ke pangkuannya. Biar lebih cepat sampai atas katanya.. (hmm, dia meragukan kekuatan emak-emak).





1 jam kemudian kami sampai di kawah Papandayan. Ada beberapa warung yang menjajakan makanan ringan di sekitar area ini. Makanan yang saya buru adalah semangka..! Setelah cape keringetan lalu makan semangka itu rasanya wah nikmattt tiada tara. Kebetulan si kecil juga seneng banget sama semangka.  Oya di dekat warung juga sudah ada toilet. Saya jadi ga repot waktu si kecil pup, dengan leluasa saya bisa membersihkan dan mengganti popoknya di toilet. 





Ada beberapa spot menarik di Gunung Papandayan ini. Mulai dari menara pandang dan pemandian air hangat di area tempat parkir, kawah Papandayan yang khas, Hutan Mati, Pondok Seladah yang sering dijadikan tempat berkemah, Tegal Alun dengan padang Edelweis nya yang luas, dan puncak Papandayan yang indah. Namun karena membawa bayi, target saya hanya sampai Hutan Mati saja.



Normalnya orang bisa mencapai hutan mati dalam waktu 3 jam dari tempat parkir. Tapi karena membawa si kecil perjalanan jadi agak lambat. Penting sekali untuk menjaga mood si kecil agar tidak bosan, karena kebosanan akan membuatnya rewel tak karuan. Si kecil juga masih minta mimi, saat menyusui saya sih cari semak-semak biar ga keliatan orang hehehe..


 

Kira-kira pukul 1 siang akhirnya kami bertiga sampai di Hutan Mati. By the way, dari kawah Papandayan sampai ke hutan mati si kecil saya yang gendong lagi. Dann sepanjang perjalanan menuju hutan mati doi tidur syantik di gendongan sementara emaknya ngos-ngosan.


Pas nyampe Hutan Mati si doi bangun


Oke, jadi jika dirangkum, seperti inilah itinerary perjalanan menuju Gunung Papandayan:

  • Bandung - Pintu Masuk Papandayan: 3-4jam
  • Tempat parkir Papandayan - kawah Papandayan: 2 jam
  • Kawah Papandayan - Hutan  Mati: 40menit-1jam
  • Hutan Mati - Tegal Alun: 1.5 jam
  • Hutan Mati - Pondok Saladah: 1 jam
  • Pondok Saladah - Tegal Alun: 2 jam
  • Tegal Alun - Puncak Papandayan: 1 jam

Sedangkan tiket masuk Gunung Papandayan (untuk weekend) adalah sebagai berikut:
  • Tiket masuk per orang lokal Rp 30.000,-
  • Tiket masuk mancanegara Rp 300.000,-
  • Tiket motor Rp 17.000,-
  • Tiket mobil Rp 35.000,-
  • Biaya parkir Rp 5.000,-

Untuk info tiket lengkap (tiket saat weekday, tiket untuk rombongan pelajar, dll) silakan cek di website resmi TWA Papandayan.

Cukup mahal sih jika dibandingkan dengan tiket masuk gunung-gunung lainnya. Tapi ini sebanding dengan fasilitas yang ada.


Sekian cerita-cerita saya dari Papandayan. Ada yang berminat ke sini? :)


32 comments:

  1. waaah, hebat berani bawa bocah ke gunung. aku bawa ke mall aja masih sering kerepotan, hihi :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
    2. Ahaha iya nekat aku mbak :P

      Delete
  2. udah seriing banget ke garut, tapi belum pernah ke papandayan. Btw, salam kenal ya teh :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada saudara di Garut kah? Yuk cobain Papandayan :D salak kenal juga :)

      Delete
    2. *salam kenal maksudnya haha typo maaf

      Delete
    3. This comment has been removed by the author.

      Delete
    4. This comment has been removed by the author.

      Delete
  3. Anaknya kereeen. Anakku nanti juga ku bawa ke gunung, aah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ayok mba.. kabar2i aja kalau mau menggunung siapa tau bisa bareng :D

      Delete
  4. Wahhhh keren banget mbak, masih single aja blm prnh naik gunung hhihihi, mbak ajak anak naik gunung, keren banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe lumayan buat turunin berat badan :P

      Delete
  5. Wow, mendaki sambil gendong anak, keren bangeeet mbak! :o
    Saya sih masih belum punya anak, jadi nggak kebayang kalau pendakian sama anak kayak gimana. Tapi tentu saja pengen bisa mengajak anak-anak mencintai alam nantinya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe dibantuin gendong juga sama bapaknya sih :p sama aja kaya jalan sambil bawa ransel tapi ranselnya di depan haha. Semangat mbak

      Delete
  6. aahhhh ku rindu mendaki gunung lewati lembah. baca ini jadi inget masa single naik2 semeru, arjuno, panderman, brom!. tapi sekarang udah ada bayi bawa ke gnung masih mikir2 :/

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha iya kalau udah punya bayi otomatis hobi kita jadi tertunda ya mbak.. semoga dedeknya cepet gede biar bisa dibawa menggunung :D

      Delete
  7. Waah ... dedek kecil diajak travelling ke kawah ..😁
    Ntar kalo udah gede, dia pasti jadi pecinta lama 👍

    Weuueew ... tarif tiket untuk turif mancanegara ... jauh banget selisihnya sama tiket turis lokal ya 🤔

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihi iya diajak soalnya ga tega ninggalin anak sementara emak bapaknya bersenang-senang :p iyaa harga nya hampir 10x lipat nyaa, :p

      Delete
    2. Eh,maaf ya tadi komentarnya typo,kak 😊
      Harusnya : pecinta alam, bukan pecinta lama.

      Untuung, kita bukan turis mancanegara ya 😁
      Harga tiketnya itu loh .. wuih bangeet

      Delete
    3. ehehe its ok :)

      ahaha iya, tapi temenku pernah disangka turis asing gara-gara kulitnya putih dan matanya sipit :p

      Delete
  8. Sehat terus yaa dedek, biar bisa diajak travelling teruuuusss

    ReplyDelete
  9. Wah asik banget nih, Teh. Saya juga pengen deh gitu suatu saat nanti kalau udah berkeluarga..hehe

    Belum lama juga habis mendaki, tapi kalau udah baca dan foto diatas gunung. Pengennya mendaki lagi.

    Kebetulan minggu2 lalu dari Merbabu, rencana mau ke merapi tapi belum jadi, rasanya belum sreg aja gitu ke merapi dalam waktu dekat ini, entah kenapa, eh tadi pagi dapat kabar erupsi gunungnya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. waw firasat mas nya tajem bangettt.

      gimana kabar merbabu? saya terakhir ke sana 2 tahun yang lalu pas hanimun, gagal summit gara2 kesiangan haha alhasil kami ngecamp lagi buat summit besoknya.

      Delete
  10. mantab juga pengalaman travellingnya mbak. viewnya ekstream juga ya, landai..

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih mas.. view papandayan emang keren :D

      Delete
  11. Wah luar biasa mbaak. Dulu saya pernah nyoba bawa hiking tapi saya nyerah nggak kuat lama lama gendong anak saya hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. makanya saya bawa suami, jadi kalau ga kuat gantian :D

      Delete
  12. Waaah mbak keren bangeeet bisa kerjasama bareng suami bawa bocah ke gunung segala. Ngga ngebayangin gendong sama ganti-ganti popoknya kayaknya ribet-ribet yang worth sih tapi ya mbak. Semoga ntar kalo si anak udah setahun bisa mengikuti jejaknya mbak. Setelah hamil dan melahirkan ternyata kangen jalan-jalan :''))

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha iya untungnya pak suami baik hati :-P lumayan ribet sih pas bangian ganti2 popoknya tapi dijalani aja, resiko nekat emak2 ke gunung bawa bayi, haha.. Setahun itu ga kerasa mbak.. ayo semangatt :D

      Delete
  13. Hebat Mba, salut saya........saya aja baru berani ajak anak naik gunung saat dia udah sekolah TK, ini Mba-nya bawa anak saat masih digendong hahahaha....kereeen

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah suami mendukung mas, jadi ga terlalu cape gendong hehe :p anaknya juga kebetulan lagi sehat dan ga rewel, semesta juga mendukung. terimakasih sudah mampir mas :)

      Delete