Thursday, 17 May 2018

Ini adalah cerita lanjutan dari trip kami selepas pulang dari hiking ria ke Gunung Papandayan bersama si kecil yang lalu. Rasa lelah dan pegal menyergapi tubuh kami. Tak terkecuali si anak bayi, sepertinya dia sudah bosan dan pegal juga setelah berjam-jam ada di gendongan ibunya.

Sebelum pulang kembali ke Bandung, kami memang berencana untuk menginap terlebih dahulu di Garut untuk sekedar melepas lelah, agar saat pulang kami sudah merasa sedikit segar. Rasanya akan sangat nyaman bila lelah dan pegal ini terobati dalam sebuah kolam air panas. Karena itulah, kami lalu melancong ke arah wisata alam Cipanas, Garut.

Wisata alam Cipanas Garut ini sudah lama ada. Sumber air panas alami nya melimpah, karena itulah tempat ini dinamakan Cipanas. Ci yang merupakan singkatan dari cai dalam bahasa sunda memiliki arti 'air'. Sumber air panasnya saya kira berasal dari Gunung Guntur.

Memang banyak sekali tempat penginapan baik itu hotel, motel, atau hanya sekedar rumah yang menyewakan kamar-kamarnya untuk bermalam. Harganya pun bervariasi, mulai dari 100ribuan hingga 1juta lebih. Harga ini akan jadi berlipat jika kita datang pada saat weekend atau hari libur.

Karena kami datang di Sabtu sore, semua penginapan selalu full booked. Sebetulnya ada sih, penginapan yang kosong. Tapi menurut kami harganya terbilang mahal, karena fasilitas nya hanya sebuah kamar biasa (tanpa AC, tanpa kipas) dan bak berendam di dalam dengan harga Rp 450.000. Wew!

Setelah 1 jam kami bulak balik mencari penginapan yang pas, akhirnya pak suami memutuskan untuk menginap di Banyu Alam Resort Garut ini. Saya iyakan saja mengingat badan saya yang sudah super lelah dan si kecil yang sudah mulai rewel.


Aih.. ternyata pilihan suami saya memang tepat! Begitu masuk ke dalam, saya sudah langsung jatuh cinta sama pemandangannya.

Suami saya memilih ruangan di bungalow B. Satu ruangan terdiri dari satu ruang keluarga, satu kamar, satu kamar mandi dengan bak rendam ukuran 1mx1.6mx0.5m (kira-kira), dan toilet terpisah. Hal yang membuat betah dan nyaman di bungalow ini yaitu balkonnya yang menghadap langsung ke kolam.

Fasilitas
Fasilitas yang didapat ntuk tipe ruangan yang kami pesan terdiri dari:
  • Kamar dengan tipe double bed
  • Bak rendam
  • Televisi
  • Kipas Angin
  • Toiletries
  • Free Air Mineral
  • Free Sarapan Pagi 


Hal lain yang membuat nyaman adalah kami bisa memarkirkan kendaraan kami tepat di belakang bungalow. Jadi kami tak perlu repot-repot berjalan jauh dari tempat parkir ke kamar sambil membawa tas atau tentengan lainnya. Begitu turun dari kendaraan, bisa langsung masuk kamar.

Ukuran bak rendam menurut saya terbilang besar. Dengan ukuran 1 meter x 1.6 meter dan kedalaman kurang lebih 0.5 meter, membuat kami leluasa selonjoran kaki saat berendam. Apalagi buat si bayi yang emang hobi banget main air ini. Airnya cukup hangat dan menurut saya sih ga terlalu panas, suhunya pas baik buat orang dewasa ataupun anak-anak.

Bangunan di bungalow ini memiliki arsitektur yang homey ala pedesaan. Dindingnya terbuat dari paduan tembok dan bilik bambu, lantai nya pun terbuat dari kayu. Tempat ini sangat cocok bagi mereka yang sudah bosan dengan nuansa modern dan ingin mencoba merasakan nuansa khas pedesaan. Hanya saja karena dindingnya terbuat dari bilik menjadikan suara dari kamar lain terdengar.

Baik di malam hari ataupun pagi hari, kita bisa menikmati pemandangan gunung Guntur yang tepat berada di kawasan Cipanas Garut dari sini. Di malam hari, dari tempat ini kita bisa melihat sorotan lampu senter dan headlamp yang dipakai para pendaki saat menaiki gunung Guntur. Yup, gunung Guntur ini adalah salah satu gunung favorit yang sering didaki oleh para pecinta alam di Jawa Barat. 

Pagi hari kami menikmati sarapan di sini. Ada beberapa jenis menu yang dihidangkan untuk sarapan, namun menurut saya variasi nya kurang banyak.. hehe. Makanan yang dihidangkan ada nasi goreng, telur mata sapi, roti isi selai coklat, mie goreng, buah-buahan (yang saya dapat hanya melon dan semangka), teh, kopi, dan jus jeruk. Soal rasanya yaa lumayan lah, sangat mirip dengan masakan saya di rumah hehe.

Lokasi
Banyu Alam Resort berlokasi di Jalan Raya Cipanas no 102, Garut, Jawa Barat. Sangat strategis karena berada di Garut Kota. Artinya dari sini kita bisa jalan-jalan menuju pusat keramaian kota Garut. Untuk membeli oleh-oleh pun tak jauh. Banyak sekali toko oleh-oleh Garut yang menjual berbagai macam makanan khas Garut dengan harga yang murah.

Lokasinya dapat ditempuh selama 2 jam perjalanan dari kota Bandung. Tinggal ikuti saja petunjuk yang mengarah ke Garut. Jika sudah sampai di Garut, tinggal ikuti petunjuk ke arah Cipanas.

Harga Kamar
Ini harga kamar yang saya dapat saat weekend. Bisa jadi harganya lebih mahal atau bahkan lebih murah, tergantung kebijakan pihak hotel.


Kesimpulan
Dari pengalaman yang saya deskrispsikan di atas, mungkin ini sedikit rangkuman yang bisa jadi acuan bagi yang ingin menginap disini.

Hal-hal yang saya sukai dari tempat ini:
  1. Lokasi nya strategis, karena berada di pusat kota Garut dan tidak jauh pula dari Bandung.
  2. Tempat menginap sangat mengusung tema alam pedesaan.
  3. Sangat cocok untuk dijadikan tempat liburan keluarga.
  4. Bak berendam lumayan besar, cukup untuk 2 orang dewasa dan 1 orang anak.
  5. Suhu air pas, bahkan bisa diatur jika terlalu panas bisa dibuka keran air dinginnya.
  6. Staff nya sangat ramah.
  7. Parkir kendaraan bisa langsung di belakang kamar tempat menginap.
  8. Pemandangannya bagus, cocok untuk tempat foto-foto dan nambahin koleksi di instagram *lol.
Hal-hal yang mungkin bisa di improve:
  1. Menu sarapan, akan lebih baik jika varian menu nya ditambah lagi.
  2. Suara dari kamar lain cukup terdengar ke kamar saya, jadi agak berisik. 
Well, secara keseluruhan saya akan rekomendasikan tempat ini jika ada yang ingin menginap dan berendam air hangat di Garut. Ada yang tertarik?

Sunday, 13 May 2018

Fakta menunjukkan bahwa laki-laki akan cenderung lebih gemuk setelah menikah. Hal itu pula yang dialami oleh suami saya. Menurut anggapan yang beredar di masyarakat luas sih, katanya kalau suami lebih gemuk setelah menikah itu tandanya sang istri mampu merawat suami dengan baik. Hmm, mungkin ada benarnya :-P

Setelah saya cari tahu, memang ada penelitian yang menunjukkan bahwa sebagian besar pria mengalami kenaikan berat badan hingga 25% daripada sebelum menikah. Penelitian ini juga menjelaskan bahwa faktor penyebabnya ada dua yaitu  faktor medis dan faktor psikologis.

Dari segi medis, pakar kesehatan menemukan bahwa kadar testosteron pada pria yang sudah menikah, apalagi yang sudah memiliki anak, ternyata mengalami penurunan yang signifikan. Disamping itu, kadar prolaktin pada tubuh pria justru cenderung meningkat saat sudah menikah. Hal ini berarti, hormon testosteron yang cenderung identik dengan libido akan terlampiaskan saat menikah sehingga pria pun cenderung lebih nyaman dan mengeluarkan kadar prolaktin yang lebih erat kaitannya dengan pengasuhan dengan kasih sayang.

Sedangkan dari sisi psikologis, pria yang sudah menikah cenderung lebih membebaskan dirinya dan tidak terlalu berpikir banyak untuk makan atau minum sesuatu asalkan mereka bisa membuat keluarganya berbahagia. Dengan rasa nyaman dan bisa makan banyak makanan tanpa rasa was-was, pria yang sudah menikah pun cenderung akan lebih mudah menambah berat badan jika dibandingkan dengan pria lajang.

Dan merupakan suatu kejutan bagi saya saat suami saya yang cenderung cuek ini ingin sekali menurunkan badannya :-D. Baiklah, mari kita berfikir metoda apa yang cocok baginya.


Sebetulnya, banyak sekali cara-cara diet yg beredar di masyarakat saat ini, Mulai dari detox, enggak makan sama sekali, minum jus2an saja, dan lain-lain. Ada pula yang menawarkan suplemen yang menjanjikan turun berat badan dalam waktu yang singkat.

Namun yang menjadi pertanyaan adalah, apakah cara diet ini sehat? Karena walaupun sedang diet, tubuh kita tetap memerlukan gizi yang seimbang seperti protein, serat, karbohidrat, kalsium, vitamin dan mineral. Apalagi bagi suami, seorang laki-laki yang sangat mengandalkan fisiknya untuk dapat bekerja dan menghidupi keluarga. Pemenuhan nutrisi tersebut sangatlah dibutuhkan untuk menunjang aktifitasnya.

Pertama-tama, saya menyarankan suami untuk rutin berolahraga. Di fikiran saya, olahraga akan membuatnya terlatih dan mampu menurunkan berat badan dengan cepat. Tapi lagi-lagi saya mendapatkan fakta bahwa olahraga saja tidak cukup untuk mengurangi berat badan. Sulit dipercaya memang, tapi ada kajian yang menunjukkan bahwa dari 411 orang yang melakukan latihan hingga 3 jam per minggu nya, tidak ada satupun yang mengalami penurunan berat badan secara signifikan selama 6 bulan, dibandingkan dengan mereka yang hanya menjalani olahraga ringan.

Evaluasi terbaru terhadap 15 kajian juga menghasilkan kesimpulan yang sama. Kemungkinan karena tingkat latihan berat justru membuat lapar. Difikir-fikir..iya juga sih, olahraga nya ekstrim: sepedahan sampai berkilo-kilometer, tapi habis sepedahan makan nya nasi liwet, baso, es kelapa muda, belum lagi  yang lainnya.

Baiklah, lalu saya beralih untuk fokus pada penyebab kenaikan berat badan itu sendiri, yaitu pola makan yang tidak teratur. Makan 3x sehari memang sudah menjadi 'kewajiban' dan kebiasaan sehari-hari, tapi ada lagi satu kebiasaan yang (saya rasa) membuat badan menjadi cepat gemuk, yaitu kebiasaan ngemil! Saya tidak menyalahkan ngemil nya, yang saya salahkan adalah makanan nya. Yang saya perhatikan, makanan yang dicemil kebanyakan adalah kue-kue atau jajanan yang mengandung banyak sekali kalori dan gula. 



Nah, beberapa minggu yang lalu, saya mencoba untuk menerapkan pola makan baru bagi suami. Makan tetap 3x sehari, namun di waktu sarapan saya tambahkan segelas susu Slim&Fit. Kenapa harus Slim&Fit? Ternyata Slim&Fit ini punya banyak manfaat lho, terutama bagi yang ingin sukses diet, yaitu:

·  Kenyang lebih lama (karena tinggi protein, tinggi serat, dan mengandung karbohidrat lepas lambat Isomaltulosa). Proteinnya tinggi lho jadi bisa untuk mengencangkan otot juga.
·  Rendah lemak & gula (50% lebih rendah dari susu diet sejenis)
·  Tinggi Kalsium (setara dengan susu-susu tinggi kalsium lainnya)
·  Kalori terkontrol 200 kkal/saji.

Satu hal lagi yang saya suka dari kemasan Slim&Fit ini yaitu kemasan nya. Slim&Fit ini dikemas dalam dus, awalnya saya kira 1 dus ini isinya seperti susu pada umumnya yang dikemas sekaligus. Ternyata, Slim&Fit ini sudah dikemas dalam bentuk sachet, jadi saya tidak repot menakar. Cukup 1 sachet diseduh dengan 200ml air.

Setelah dicoba dan saya tanya pendapat suami saya ternyata respon nya sangat baik. Efek yang paling dirasa adalah beliau jadi kenyang dan ga tertarik untuk ngemil sama sekali! Wah, manjur juga.. Lalu saya coba untuk menyajikannya kembali sebagai pengganti makan malam. Kemudian saya terapkan selama 1 minggu.

Saya sih tidak mengharapkan hasil yang drastis, karena yang penting adalah upaya untuk tetap menjaga kalori yang masuk ke tubuh. Namun ternyata diet dengan cara mengatur pola makan ini sukses! Dalam waktu 1 minggu itu berat badan suami saya tidak mengalami kenaikan, justru mengalami penurunan hampir 1kg. YES!

Saya jadi semakin yakin dan berharap semoga diet dengan cara ini bisa dilakukannya dengan konsisten, sehingga hasil yang diinginkan bisa didapat dengan maksimal. Jika suami saya berhasil, maka saya pun tidak akan ragu untuk melakukan diet ini. Tapi nanti.. setelah saya selesai masa menyusui. :))

Oya, satu lagi tambahan. Agar tidak bosan, susu Slim&Fit ini bisa dikreasikan menjadi menu segar tapi tetap rendah kalori lho, berikut bahan-bahan dan cara membuatnya:

Berry Shake Slim&Fit
Bahan-bahan:
1 sachet Slim&Fit rasa vanilla

1/2 cangkir susu cair nonfat 
4-5 Buah strawberry, bisa diganti dengan blueberry atau jenis berry lainnya sesuai selera
1/2 cangkir air putih.
 es batu secukupnya

Caranya, masukkan semua bahan dan blender menjadi satu. Lalu, tambahkan es batu bila perlu.

Photo by PhotoMIX Ltd. from Pexels

Bagaimana? Tertarik untuk mencoba diet dengan cara ini? Nah, kebetulan saya punya kode voucher untuk pembelian 3 box susu Slim&Fit di www.kalbestore.com. Caranya, masukkan kode afifah20 saat checkout dann kamu akan mendapatkan diskon 20%!! Menarik bukan?



Kesimpulan:
Menurunkan berat badan memang perlu usaha yang konsisten serta niat yang teguh. Tips dari saya adalah dengan membatasi asupan kalori ke dalam tubuh. Olahraga saja tidak cukup untuk menurunkan badan secara instan. Ganti pola makan anda dengan konsumsi banyak sayuran, tapi jangan sampai melupakan zat-zat lain yang dibutuhkan tubuh. Minum susu Slim&Fit di pagi hari saat sarapan dan di malam hari sebagai pengganti makan malam bisa membantu mensukseskan program diet anda.

Yuk, kita jaga kesehatan dengan cara menjalankan pola makan sehat sehari-hari. Diet memang seharusnya ga menyiksa bukan?

Salam hangat


Friday, 4 May 2018





Saya dan suami kebetulan memiliki hobi yang sama, yaitu traveling dan melakukan kegiatan outdoor. Tapi semenjak hamil dan punya bayi, otomatis hobi saya ini terhenti. Lama tak keluyuran bikin saya kangen. Kangen jalan berjam-jam, kangen ngos-ngosan, kangen wangi hutan, kangen dinginnya gunung, pokonya kangen semuanya deh! Nah, tahun ini kebetulan si bayi menginjak usia satu tahun. Dengan sedikit rasa nekat dalam diri, saya merencanakan untuk pergi hiking sambil bawa si kecil. Hehee..
 
Gunung Papandayan jadi tujuan saya. Kenapa? karena gunung ini trek-nya tergolong mudah, tidak sesulit trek di gunung-gunung lain. Pemandangannya juga cantik dan menurut saya ga ngebosenin. Lokasinya pun tidak begitu jauh dari Bandung.


Sabtu, 28 April lalu saya bergegas dari rumah pukul 04.00 WIB. Sedikit ngaret, karena rencana sebelumnya kami berangkat jam 3 subuh. Namanya juga orang Indonesia.. hehe. Si kecil masih tertidur pulas saat kami bersiap-siap. Karena saya tak ingin mengganggu tidurnya si kecil, saya hanya menggantikan popok dan bajunya pelan-pelan. Tak lupa saya oleskan minyak telon supaya dia tidak kedinginan di jalan.


Gunung Papandayan terletak di daerah Cisurupan, kabupaten Garut, Jawa Barat. Perlu waktu kurang lebih 3 jam untuk sampai di pintu masuk Gunung Papandayan dari kota Bandung. Itu jika lalu lntas normal.  


Rute Menuju Papandayan dari Bandung


Jika menggunakan kendaraan pribadi, arahkan kendaraan menuju Rancaekek-Nagreg-Garut. Setelah sampai di Garut, langsung arahkan kendaraan menuju Jalan Raya Samarang. Lurus terus, sampai tiba di pasar Cisurupan. Patokannya adalah Indomaret Cisurupan, di sebrang indomaret ada jalan masuk ke kanan menuju pintu masuk gunung Papandayan.


Jika menggunakan kendaraan umum, bisa menaiki mobil elf jurusan Cikajang atau bus jurusan Pameungpeuk, lalu turun di pasar Cisurupan. Dari situ, lanjutkan perjalanan menggunakan ojek menuju pintu masuk gunung Papandayan. Jika datang dengan rombongan bisa menyewa kolbak.


Nah, perjalanan kali ini kami ingin menggunakan rute yang berbeda. Dari Bandung, kami berencana untuk tidak melewati jalan Nagrek. Kami melalui jalan Sapan lalu belok ke jalan raya Cijapati. Jalannya masih sepi dan sepertinya akan selalu sepi kecuali musim mudik tiba. Siapkan kendaraan yang prima karena jalannya penuh tikungan tajam dan tanjakan yang lumayan bikin kendaraan ngos-ngosan. Tapiii dibalik semua 'perjuangan' melewati jalan ini.. terselip keindahan yang luarbiasa yang mungkin tidak akan saya lihat jika melalui jalan Nagrek. Ini diaaa..





Perjalanan normal dari Bandung memang 3 jam, tapi kami harus beberapa kali berhenti untuk sholat Subuh, sarapan, dan mengganti popok si kecil karena ternyata dia pup. Perjalanan menjadi lebih lama, tak apa, yang penting si kecil happy dan ga rewel.


Singkat cerita, sampailah kami di pintu masuk kawasan wisata Gunung Papandayan. Dan petualangan pun dimulai..

Kawah Papandayan dilihat dari tempat parkir

Titik awal pendakian
Gunung Papandayan di zaman saya masih jomblo dulu berbeda dengan sekarang. Gunung Papandayang sekarang sudah dikelola oleh pihak swasta. Semuanya jadi serba tertata dan rapi bahkan mulai dari tempat parkir. Fasilitasnya juga lebih baik dibandingkan dengan Papandayan 6 tahun yang lalu.


Perjalanan dari tempat parkir menuju kawah Gunung Papandayan idealnya sekitar 1-2jam. Jalannya sudah lumayan enak. Pihak pengelola sudah membuatkan tangga dari bebatuan. Tapi walaupun jalannya sudah nyaman, saya tetap menyarankan untuk pakai sepatu yang nyaman dan tidak licin ya. Pemandangan khas bekas letusan gunung tahun 2002 lalu akan kita jumpai selama perjalanan menuju kawah.


60 menit pertama perjalanan, si kecil masih saya yang gendong. Rasanya? yaa dinikmati saja lah yaa namanya juga naik gunung, pasti capek, hehe.. Semakin mendekati kawah, aroma belerang semakin menyengat. Tak mau mencium bau belerang terlalu lama, suami saya akhirnya 'mengambil alih' si kecil dari gendongan saya ke pangkuannya. Biar lebih cepat sampai atas katanya.. (hmm, dia meragukan kekuatan emak-emak).





1 jam kemudian kami sampai di kawah Papandayan. Ada beberapa warung yang menjajakan makanan ringan di sekitar area ini. Makanan yang saya buru adalah semangka..! Setelah cape keringetan lalu makan semangka itu rasanya wah nikmattt tiada tara. Kebetulan si kecil juga seneng banget sama semangka.  Oya di dekat warung juga sudah ada toilet. Saya jadi ga repot waktu si kecil pup, dengan leluasa saya bisa membersihkan dan mengganti popoknya di toilet. 





Ada beberapa spot menarik di Gunung Papandayan ini. Mulai dari menara pandang dan pemandian air hangat di area tempat parkir, kawah Papandayan yang khas, Hutan Mati, Pondok Seladah yang sering dijadikan tempat berkemah, Tegal Alun dengan padang Edelweis nya yang luas, dan puncak Papandayan yang indah. Namun karena membawa bayi, target saya hanya sampai Hutan Mati saja.



Normalnya orang bisa mencapai hutan mati dalam waktu 3 jam dari tempat parkir. Tapi karena membawa si kecil perjalanan jadi agak lambat. Penting sekali untuk menjaga mood si kecil agar tidak bosan, karena kebosanan akan membuatnya rewel tak karuan. Si kecil juga masih minta mimi, saat menyusui saya sih cari semak-semak biar ga keliatan orang hehehe..


 

Kira-kira pukul 1 siang akhirnya kami bertiga sampai di Hutan Mati. By the way, dari kawah Papandayan sampai ke hutan mati si kecil saya yang gendong lagi. Dann sepanjang perjalanan menuju hutan mati doi tidur syantik di gendongan sementara emaknya ngos-ngosan.


Pas nyampe Hutan Mati si doi bangun


Oke, jadi jika dirangkum, seperti inilah itinerary perjalanan menuju Gunung Papandayan:

  • Bandung - Pintu Masuk Papandayan: 3-4jam
  • Tempat parkir Papandayan - kawah Papandayan: 2 jam
  • Kawah Papandayan - Hutan  Mati: 40menit-1jam
  • Hutan Mati - Tegal Alun: 1.5 jam
  • Hutan Mati - Pondok Saladah: 1 jam
  • Pondok Saladah - Tegal Alun: 2 jam
  • Tegal Alun - Puncak Papandayan: 1 jam

Sedangkan tiket masuk Gunung Papandayan (untuk weekend) adalah sebagai berikut:
  • Tiket masuk per orang lokal Rp 30.000,-
  • Tiket masuk mancanegara Rp 300.000,-
  • Tiket motor Rp 17.000,-
  • Tiket mobil Rp 35.000,-
  • Biaya parkir Rp 5.000,-

Untuk info tiket lengkap (tiket saat weekday, tiket untuk rombongan pelajar, dll) silakan cek di website resmi TWA Papandayan.

Cukup mahal sih jika dibandingkan dengan tiket masuk gunung-gunung lainnya. Tapi ini sebanding dengan fasilitas yang ada.


Sekian cerita-cerita saya dari Papandayan. Ada yang berminat ke sini? :)


Thursday, 3 May 2018


Siapa disini yang punya hobi berkegiatan outdoor seperti hiking, lalu setelah menikah dan punya si kecil jadi vakum menggunung lagi? Tosss dulu, kita samaan. Heheh.. Lalu, setelah lama ga keluyuran, jadi kangen lagi sama gunung? Toss lagi kita samaan..

Lama tak menggunung bikin kita kangen ya. Apalagi kalau hobi ini sudah seolah-olah mengakar dalam diri. Rasanya seperti ada sesuatu yang hilang. Tapi di sisi lain, kita tak tega untuk meninggalkan si kecil  hanya karena kita ingin 'mewujudkan kembali' hobi yang lama tertunda itu. 

Mungkin hiking bersama si kecil bisa jadi solusi. Di artikel ini saya ingin berbagi tips agar bisa hiking membawa anak tapi tetap nyaman dan happy.

1. Pastikan Tujuan
Kita semua tahu bahwa mendaki gunung itu tidaklah mudah. Apalagi kita membawa anak kecil. Penting sekali untuk tahu medan gunung yang akan dilalui. Sebaiknya kita pergi ke tempat yang sudah pernah kita datangi, sehingga kita hafal bagaimana jalan yang akan dilalui, tingkat kesulitan trek nya, waktu yang harus ditempuh, dan kondisi hutannya. Pilihlah gunung dengan jarak tempuh yang singkat. Selain itu, kita juga perlu tahu apakah petugas gunung yang akan kita daki memperbolehkan pengunjung anak-anak atau tidak.

2. Batasan Usia Anak
Saya pribadi tidak menyarankan bayi dibawah 6 bulan untuk dibawa ke gunung, semudah apapun treknya. Hal ini dikarenkan bayi di bawah 6 bulan rata-rata belum bisa duduk sendiri dengan tegak. Dalam perjalanan mendaki gunung, terkadang kita perlu istirahat sejenak saat merasa lelah. Saat kita istirahat, tentu saja kita ingin melepas gendongan. Nah, bagi bayi yang sudah bisa duduk, mudah saja untuk mendudukannya dimanapun di tempat yang nyaman. Lah kalau yang belum bisa duduk? apa iya tega anaknya ditidurkan di antara rerimbunan pohon di hutan?

3. Pastikan Kondisi Anak dalam Keadaan Fit
Ini sudah pasti jelas yaa.. hehe. Orang dewasa saja naik gunung harus dalam keadaan sehat. Malah ada beberapa petugas gunung yang mengharuskan pengunjungnya membawa surat keterangan sehat dari dokter. Kalau seandainya si kecil sakit sehari sebelum hari H, lebih baik ditunda dulu saja ya keinginan muncaknya.

4. Cek Cuaca
Mendaki di musim hujan tentunya akan lebih merepotkan dibanding mendaki saat musim kemarau. Terlebih lagi jika membawa anak. Alangkah lebih baik jika mendaki saat cuaca cerah. Biasanya musim hujan di Indonesia dimulai pada bulan Oktober sampai bulan Maret. Sedangkan puncaknya ada di sekitar bulan Desember sampai Februari.

5. Waktu Pendakian
Saya sangat menyarankan untuk melakukan pendakian sepagi mungkin. Hal ini dimaksudkan agar kita lebih cepat sampai ke area berkemah dan si kecil bisa lebih cepat beristirahat. Selain itu, mendaki di pagi hari akan sangat menguntungkan kesehatan kita. Angin di pagi hari masih terasa segar, matahari pagi juga bisa menguatkan tulang.

6. Perlengkapan yang Harus Dibawa
Mendaki dengan anak kecil memang butuh usaha ekstra. Membawa kebutuhan utama si kecil sangatlah disarankan. Tak mengapa barang bawaan kita menjadi lebih berat, asal si kecil bisa nyaman selama perjalanan sampai pulang kembali. Beberapa barang yang wajib dibawa versi saya adalah:
  • Popok, tisu basah, dan tisu kering
  • Kantong keresek hitam untuk sampah popok
  • Makanan dan cemilan yang praktis tapi penuh gizi
  • Minyak telon, bedak, lotion
  • Baju ganti, jaket, topi atau kupluk
  • Mainan favorit anak supaya tidak bosan selama di jalan
  • Payung
  • Flysheet dan matras
7. Memakai Gendongan yang Nyaman
Untuk anak dibawah 2 tahun, idealnya sih digendong. Walaupun anak sudah lancar berjalan tapi khawatir anak akan berjalan sekehendaknya dia dan sulit diarahkan. Untuk gendongan sendiri saya sarankan menggunakan carrier Deuter Kid Comfort (bukan iklan loh yaa..). Carrier ini cukup nyaman dan kuat menahan berat bayi/anak. Harganya cukup mahal memang. Tapi jangan khawatir karena ada tempat yang menyewakan carrier jenis ini. Untuk daerah Bandung bisa sewa disini, sedangkan untuk daerah Jabodetabek bisa sewa disini atau disini.
 


8. Bawa Pendamping
Ini penting juga, terutama untuk anak dibawah 2 tahun. Anak masih perlu ibunya untuk disusui atau dininabobokan jika ia mengantuk. Ibunya juga perlu suami untuk mem-backup jika sewaktu-waktu si ibu kelelahan.

9. Tetap Happy dan Nikmati Perjalanan
Anak berasal dari darah daging orangtuanya. Anak memiliki perasaan yang sensitif, ia dapat merasakan apa yang orangtuanya rasakan. Jika orangtuanya gelisah maka anaknya akan gelisah. Begitupun sebaliknya, jika orangtuanya merasa tenang maka anaknya akan tenang. Nikmati pemandangan di setiap ayunan langkah. Jika orangtua lelah atau anak lelah, segeralah beristirahat sejenak. Banyak minum dan sarapan yang sehat akan sangat membantu menjaga kondisi badan tetap fit selama pendakian.

Sekian tips dari saya. Ini tips untuk hiking saja ya, kalau untuk camping mungkin akan berbeda. Jika ada yang ingin ditambahkan boleh ya tulis di kolom komentar.

Terimakasih sudah mampir.. :)

Monday, 9 April 2018

 WARDAH adalah brand lokal Indonesia yang selama ini selalu mengeluarkan produk-produk kosmetik dengan label halal. Hal ini pula lah yang menjadikan wardah menjadi kosmetik yang saya favoritkan. Selain halal, produk-produk wardah juga nyaman di kulit dan nyaman di kantong. Tidak terlalu mahal, namun wardah mampu memberikan hasil terbaik bagi kulit saya.

Pada November 2017 lalu wardah mengeluarkan varian produk baru yaitu shampo. Wardah yang sudah terkenal dengan produk kosmetiknya, sukses membuat saya penasaran dengan terobosan barunya. Tak tanggung-tanggung, wardah mengeluarkan 4 varian shampo sekaligus.

Empat shampoo tersebut antara lain Anti Dandruff (membantu mengurangi ketombe dan menyegarkan kulit kepala), Hairfall Treatment (membantu mengurangi rambut rontoh dan patah), Daily Fresh (membantu menyegarkan dan melembutkan rambut) serta Nutri Shine (membantu menutrisi rambut dan melindungi dari kerusakan).

Dari keempat varian shampo wardah, saya memutuskan untuk mencoba shampo varian Anti Dandruff. Di blog ini, saya akan menuliskan review jujur tentang shampo ini. Tidak dilebih-lebihkan, dan tidak juga dikurang-kurangkan.

First Impression
Kemasan, harga, dan wangi adalah poin pertama yang saya nilai saat pertama kali membeli shampo ini, karena tiga hal itu yang paling mudah dinilai sebelum coba digunakan. Kemasannya menurut saya ergonomis karena bentuknya yang slim sehingga mudah digenggam. Warna kemasan nya 'wardah banget', warna biru tosca yang sudah menjadi ciri khas produk wardah. Sedangkan dari aromanya menurut saya lembut, tidak begitu menusuk, cenderung sangat 'kalem'. Harganya sekitar Rp 25.000,- sedikit lebih mahal daripada merk shampo lainnya dengan isi yang sama (170ml).

Wardah mengklaim bahwa produk ini mengandung bahan-bahan alami seperti berikut:
  • Peppermint Extract: memberi sensasi segar dingin menenangkan pada kulit kepala.
  • Tea Tree Oil: bantu mengurangi ketombe.
  •  Double Zinc Active TM : melindungi kulit kepala dari ketombe
Pertama Kali Keramas
Begitu dituang di telapak tangan, shampo wardah ini memiliki tekstur yang sedikit kental. Saat diaplikasikan pada rambut, jujur saya sulit untuk meratakan shampo ke seluruh permukaan kulit kepala. Mungkin karena kulit kepala saya yang cenderung kering. Busa yang dihasilkan menurut saya pas, tidak begitu banyak sehingga sangat mudah bagi saya untuk membilas rambut sampai bersih.

Lalu bagaimana rasanya setelah keramas pertama kali dengan shampo wardah anti dandruff? Well, sebenarnya saya juga tidak begitu mengharapkan hasil yang wow. Namanya juga baru pertama kali, ketombe di kepala ya masih saja ada. Tapi saya merasakan rambut saya jadi lebih lembut dan lebih bersih setelah keramas. Wanginya juga cenderung awet seharian, karena wardah shampo memiliki 'fitur' scentlock fragrance. Sedangkan sensasi segar dari peppermint extract nya menurut saya tidak begitu terasa, bahkan cenderung biasa saja.

Agar lebih valid, saya akan menggunakan shampo wardah selama 2-3 minggu ke depan. Saya sangat berharap shampo ini mampu memberikan hasil yang terbaik bagi rambut saya.

Monday, 2 April 2018

Bandung, khususnya kabupaten Bandung Barat memiliki potensi alam yang sangat menarik untuk dijadikan lokasi wisata. Potensi alam yang dimiliki meliputi alam pegunungan, perkebunan teh, situ atau danau, dan yang paling banyak diminati adalah curug atau air terjun. Sampai saat ini, lokasi wisata alam yang dibuka untuk umum semakin banyak jumlahnya.

Baru-baru ini masyarakat anggota Karang Taruna desa Nagrak, Parongpong, kabupaten Bandung Barat berinisiatif membuka dan mengelola tempat wisata baru. Tempat wisata ini merupakan sebuah air terjun yang sumber airnya berasal dari kawah gunung Tangkuban Perahu. Karena berasal dari gunung berapi, maka air nya memeiliki suhu yang hangat sehingga cocok untuk dijadikan tempat berendam.


Fasilitas
Curug Cipanas Nagrak memiliki 3 kolam berendam. Kolam dibuat menjadi 3 undakan. Kolam paling atas adalah kolam yang terkecil, namun airnya lebih hangat dibandingkan dengan 2 kolam di bawahnya. Semua kolam yang terbentuk masih alami beralaskan tanah. Kedalaman kolam sekitar 50-70 cm. Tidak terlalu dalam, aman untuk pengunjung anak-anak.

Setelah berendam kita bisa membersihkan diri di toilet. Toilet terbuat dari kayu dan bambu, sehingga kesan alami semakin kuat di sini. Di dekat toilet ada juga yang menjual shampo dan popok bayi.

Jangan takut kelaparan, karena dari mulai tempat parkir hingga ke dekat kolam, ada beberapa kios yang menjajakan makanan ringan. Adapula yang menyewakan tikar seharga Rp 10.000,-.

Satu hal yang wajib dipatuhi di tempat ini adalah: menjaga kebersihan kolam dan area sekitar Cipanas. Ada aturan yang melarang pengunjung untuk makan atau minum di sekitar kolam. Yaa.. sebetulnya sih, dimanapun kita berada, kita wajib menjaga kebersihan lingkungan sekitar.


Tiket Masuk
Di siang hari, harga tiket masuk bagi orang dewasa sebesar Rp 10.000,- sedangkan untuk anak-anak sebesar Rp 5.000,-. Anak-anak adalah mereka yang usianya di atas 2 tahun sampai 12 tahun. Bayi dibawah 2 tahun tidak dikenakan tarif masuk.

Sedangkan di malam hari, tiket masuk lebih mahal daripada siang hari. Untuk dewasa, dikenakan tarif Rp 15.000,- sedangkan anak-anak dikenakan tarif Rp 10.000,-. Konon katanya, air di Cipanas ini akan terasa lebih hangat di malam hari. Tiket malam hari berlaku mulai pukul 18.00-23.00. Bagi yang hobi berkemah, disini juga diizinkan untuk berkemah. Tarif untuk yang berkemah sebesar Rp 35.000,-/malam.

Rute Menuju Cipanas Nagrak
Lokasi waisata Cipanas Nagrak letaknya kurang lebih 18 KM dari pusat kota Bandung. Arahkan kendaraan menuju jalan Setiabudhi - jalan raya Lembang, kemudian lanjutkan ke arah jalan Kolonel Masturi. Lalu belok kanan ke jalan Nagrak Kulon. Kurang lebih 100 meter setelah belok, kita akan menemukan tempat ini.

Dari tempat parkir kita harus berjalan menuju cipanas. Tidak terlalu jauh, mungkin sekitar 50 meter. Kondisi jalan juga landai. Di samping kanan kiri kita akan menjumpai beberapa aliran air dan pemandangan hijau khas pedesaan.


Masih Terus Berbenah
Rencananya, kawasan wisata Cipanas Nagrak ini akan terus direnovasi. Pihak pengelola akan terus berupaya agar curug Cipanas ini semakin nyaman dan aman untuk destinasi wisata keluarga. Harapan ke depannya adalah tempat ini bisa menyerupai tempat wisata Sari Ater Lembang.

Sedangkan harapan penulis adalah, semoga tempat wisata alam di Bandung bisa terus berkembang. Selain sebagai ajang promosi Indonesia khususnya Bandung di mata dunia, penulis juga berharap tempat wisata yang dikelola masyarakat ini bisa menjadi salah satu mata pencaharian masyarakat dan mampu memajukan perkenomian masyarakat desa.

Ada yang setuju?




Tuesday, 6 February 2018

Caca Pendaki Cilik

Mendaki gunung bukanlah hal yang mudah. Diperlukan kekuatan fisik yang prima serta mental yang kuat. Tidak semua orang dewasa dapat melakukannya. Namun, ada loh anak yang sedari kecil sudah sering mendaki. Devania Syahla Almira namanya, atau yang akrab dipanggil Caca. Sama seperti anak-anak lainnya, Caca ini cantik dan lucu. Namun siapa sangka, dibalik keluguannya, Caca sudah menaklukan gunung-gunung tinggi di Indonesia. Keren ya.

Caca Pendaki Cilik Asal Cimahi
instagram.com/devaniasyahla


Pepatah mengatakan, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Caca mewarisi hobi mendaki dari kedua orangtuanya. Ayahnya adalah seorang pendaki dan pendiri salah satu komunitas pecinta alam di Cimahi, Jawa Barat. Orangtua nya pula lah yang selama ini sudah memotivasi Caca untuk menjelajahi alam Indonesia.

Caca bersama Ayah dan Ibu nya

Caca memulai pendakiannya di usia 4 tahun. Tak tanggung-tanggung, Gunung Ciremai adalah gunung pertama yang ia daki. Gunung Ciremai merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat dengan ketinggian 3.078 MDPL. Perlu waktu 6-8 jam untuk mencapai puncak tertinggi di Jawa Barat itu. Ini merupakan pendakian perdana nya. Namun, tak tersirat sedikitpun raut wajah lelah, Caca justru sangat menikmati perjalanannya.

Komunitas Ragapala Cimahi
Caca bersama komunitas yang didirikan ayahnya

Caca yang kini duduk di bangku kelas 1 SD Negeri Cimahi Mandiri 1 ini, sudah menapaki 7 puncak gunung lainnya, yaitu; Gunung Guntur Garut (2.249 MDPL), Gunung Cikuray Garut (2.821 MDPL), Gunung Lawu Jawa Tengah (3,265 MDPL), Gunung Merapi (2.930 MDPL), Gunung Burangrang (2.065 MDPL), Gunung Gede (2.958 MDPL), dan Gunung Putri Lembang, Bandung. Semangat, keceriaan, dan kelincahannya selalu mengiringi perjalanan Caca menuju puncak-puncak gunung tersebut. "Caca pengen bungkusin awan di gunung" ujarnya dengan nada polos.

Yuuk ikut nanjak bareng Caca :)

Gadis cilik kelahiran Cimahi, 6 April 2010 ini hendak melanjutkan pendakiannya ke gunung ke-6 tertinggi di Indonesia, yaitu gunung Rinjani. Caca bersama kedua orangtuanya akan berangkat sekitar bulan Mei 2018. Siapa tau ada yang ingin kenal lebih dekat dengan Caca, mungkin bisa ikut trip bersamanya.